
Colvert sudah asyik dengan mikroskop mini. Bocah itu menyendiri di dalam kamar dan sudah pasti menyibukkan diri. Bahkan sebelum meninggalkan Bellinda dan sang nenek pun sudah berpesan supaya tidak diganggu. Jadilah kini dua wanita yang berbeda usia itu duduk bersisihan di sofa panjang.
Bellinda sudah meletakkan sebuah cangkir berisi cokelat panas untuk mommynya. “Di minum, Mom.”
“Hm ... tunggu hangat, masih keluar asap, aku tidak mau lidah terbakar,” balas Nyonya Baldwig. Tubuhnya dari atas sampai bawah berpenampilan sangat anggun, bahkan cara duduk pun tegak bukan membungkuk. Ia sedikit menyerongkan kaki supaya bisa menatap putri satu-satunya.
Begitu juga dengan Bellinda yang memiliki posisi sama. Keduanya jadi bisa saling memandang wajah satu sama lain. “Mom ... apa maksudnya tadi?”
“Maksud apa? Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau dan Colvert bisa datang bersamaan dengan si bedebah itu.” Nyonya Baldwig memang marah. Tapi ia tidak pernah meninggikan suara, emosinya begitu tertata rapi dan stabil, hanya tatanan bahasa saja yang memperlihatkan rasa tidak suka.
Jadi, jika Bellinda bisa bertutur kata menggunakan intonasi lembut, tentu belajar dari mommynya yang tak pernah membentak sekali pun marah. Wanita dalam keluarga Baldwig selalu diajarkan cara supaya tetap anggun meski dalam kondisi emosi.
__ADS_1
“Kami merayakan ulang tahun Colvert,” beri tahu Bellinda.
Ungkapan itu membuat Nyonya Baldwig menaikkan sebelah alis. “Jadi, dia sudah tahu tentang cucuku?”
Bellinda mengangguk. “Dan dia berniat memperbaiki semuanya, Mom. Arsen sudah menyesal atas perbuatan di masa lalu,” jelasnya kemudian. Ia berusaha tidak menjelekkan mantan suami di depan orang tuanya. Tak ingin membuat jalan pria itu semakin sulit karena ia tahu bagaimana kalau mommynya sudah kecewa, sulit mendapatkan kepercayaan dan kesempatan kedua.
Nyonya Baldwig terkekeh dengan kepala bergeleng pelan. Dia sedang menertawakan mantan menantu yang begitu tak tahu malu. “Lalu, kau menerima ajakannya untuk rujuk?”
“Bagus, langsung tolak dan tidak ada kesempatan kedua untuk orang yang sudah mencampakkan begitu saja.” Melihat asap tak lagi mengepul dari cangkir, Nyonya Baldwig meraih pegangan benda itu dan menyeruput sedikit cokelat yang begitu nikmat.
“Mom. Tapi, Colvert butuh daddynya. Bagaimanapun masa lalu aku dan Arsen, anak kami—” Bellinda harus menjeda bicara karena mommynya sudah mengangkat tangan pertanda harus diam.
__ADS_1
“Colvert boleh mengenal Arsen, mengurus anak itu silahkan dilakukan bersama. Tapi, aku tetap tidak mengizinkan kau dan dia rujuk. Paham?” Kali ini Nyonya Baldwig berucap lebih tegas. Tangannya seraya meletakkan kembali cangkir ke atas meja. “Jangan masuk ke dalam lubang yang sama kalau kau sudah tahu di sana menyakitkan.”
“Arsen sudah berubah, Mom. Bahkan dia rela mengorbankan waktu untuk pulang pergi Amsterdam Helsinki, demi Colvert dan aku.” Bellinda berusaha meyakinkan mommynya. Ia meraih tangan yang sedikit keriput tapi masih nampak bagus karena sering perawatan. “Percayalah, aku sudah menguji sejauh mana perjuangannya.”
Namun, percuma, Nyonya Baldwig tetap menggelengkan kepala sebagai penolakan. “Tetap tidak. Dia mendekatimu hanya karena Colvert, mantan suamimu butuh penerus.” Ia mengusap wajah Bellinda dengan lembut. “Buka matamu, dan pikirkan secara baik-baik kenapa Arsen tidak menikah lagi setelah bercerai. Padahal sangat mudah baginya mendapatkan penggantimu.”
Sebelumnya Bellinda tak pernah memikirkan hal itu. Tapi Arsen sepertinya sudah membicarakan tentang alasan tidak menikah lagi. Kalau tak salah ingat ... “Katanya, dia tidak bergairah dengan wanita lain.”
Nyonya Baldwig terkekeh. “Tentu saja, dia tak lagi mampu merespon ketika bersama wanita lain. Jadi, tidak bisa memiliki anak.”
“Miliknya bisa berdiri ketika denganku,” sanggah Bellinda.
__ADS_1
“Justru itu.” Nyonya Baldwig mencolek hidung putrinya. “Kau hanya dimanfaatkan demi kepentingan pribadi.”