
Arsen menarik dasi yang terasa sangat mencekik. Sesak sekali, membuatnya kesulitan bernapas. Bukan karena simpul dari secuil kain itu, tapi sebuah undangan yang baru saja diantarkan oleh resepsionis dan kini telah berada di dalam pegangan tangannya.
Hatinya panas sekali seolah menunjukkan kalau tidak terima. Bellinda benar-benar akan menikah bersama Steven? Dia pikir, setelah beberapa minggu sengaja menghilang akan membuat wanita itu resah lalu berusaha mencarinya. Seperti teknik tarik ulur yang diajarkan oleh ketiga teman menyesatkannya. Tapi ... apa ini kenyataannya? Perjodohan itu tetap berlangsung.
Arsen memang tak ke Amsterdam akhir-akhir ini. Dia sempat sakit dan harus dirawat selama satu minggu. Penyebabnya adalah kelelahan. Bagaimana tak tumbang kalau setiap hari menghabiskan waktu pulang pergi ke dua negara yang berbeda? Tubuhnya bukan robot, wajar saja jika memiliki batas kemampuan yang semestinya.
Selain itu juga Arsen memiliki banyak pekerjaan yang mengharuskan bepergian. Jadilah tak memiliki waktu untuk menengok anak dan mantan istri. Nanti pasti akan dia katakan pada Colvert alasan kenapa tak menemui bocah itu. Semoga saja tidak marah.
Tapi, untuk saat ini yang perlu dipikirkan adalah membatalkan pernikahan Bellinda dan Steven. Arsen sudah berjanji pada Colvert untuk mewujudkan keinginan anaknya. Dan waktu acara hanya tersisa lima hari lagi.
Arsen segera menghubungi ketiga temannya untuk merubah strategi. Cara tarik ulur tidak berhasil, kacau, yang ada hanya menyiksanya karena kerinduan akibat tak bertemu beberapa minggu. Sesat sekali memang Pierre yang mengusulkan.
“Astaga ... aku sedang di Jerman, apa tak bisa kau tunda besok saja?” Itu adalah jawaban dari Pierre saat didesak harus bertemu sore nanti.
__ADS_1
“Aku yang ke sana kalau begitu.”
“Heh! Gila kau. Sudahlah, aku pulang setelah urusan selesai.”
“Good.” Arsen selalu tahu bagaimana mengancam teman-temannya yang sibuk. Cukup dia yang akan menghampiri, pasti langsung berubah pikiran karena kalau dirinya datang sudah pasti mengacau.
Arsen lalu menghubungi Madhiaz dan Eduardo. Untuk dua orang itu cukup ditelepon salah satu saja karena bekerja di satu perusahaan. Eduardo adalah asisten Madhiaz. Dia langsung memberi tahu kalau nanti sore mengajak bertemu di tempat biasa, mana lagi kalau bukan club malam Royal Patt.
“Oke.” Pada akhirnya disetujui juga.
Arsen masih tak bisa menghilangkan rasa sesak tiap kali melihat undangan yang tergeletak di atas meja. Ada rasa khawatir kalau rencana kedua akan gagal lagi, maka harus siap-siap kehilangan Bellinda.
Si duda jadi tak fokus bekerja. Arsen menunduk dengan kepala yang terus ditopang karena terasa sangat berat. Dia sembari berpikir juga, kira-kira rencana apa lagi yang cocok dan pasti peluang berhasil itu besar.
__ADS_1
Disaat Arsen melamun, tiba-tiba telepon nirkabel yang ada di atas mejanya berbunyi. Otomatis ia angkat. “Ya?”
“Tuan, ada telepon dari seorang anak kecil, namanya Colvert Alka. Dia meminta disambungkan pada Anda, apakah mau diterima atau tidak?” tanya seorang resepsionis.
“Ya, sambungkan padaku.”
“Baik.”
Tak berselang lama, saluran pun terhubung dengan satu orang lagi. Putranya.
“Halo, Colvert, kau mencari Daddy?” sapa Arsen. Suara yang penuh kerinduan itu tak bisa ditutupi.
“Ya, kenapa Daddy sulit dihubungi? Kata Mommy, kalau dichat selalu centang satu. Aku sampai harus mencari nomor perusahaanmu dan diam-diam menelepon menggunakan telepon di ruang kerja Grandpa.” Sebenarnya ada yang jauh lebih penting daripada mempermasalahkan daddynya yang berhasil membuatnya rindu setelah tak ada kabar.
__ADS_1