
“Kau, cinta, gairah, dan anak kita adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisah atau dipilih salah satunya.” Tepat sekali mobil Arsen berhenti, dia menyempatkan untuk miring ke arah Bellinda, meraih tangan mantan istri, meminta wanita itu untuk menatapnya. “Apa kau masih ragu denganku?”
Bellinda mengangguk samar. “Apa yang membuatmu tiba-tiba memiliki perasaan padaku? Padahal dahulu sangat membenci dan tidak mau berada di dekatku?”
Arsen menghela napas, ternyata Bellinda sangat mengingat bagaimana perlakuannya di masa lalu. “Dahulu aku bodoh, tidak bisa melihat sisi baikmu yang sangat bersinar. Aku terlalu larut dengan rasa kesal karena dijodohkan. Pada dasarnya, aku lebih suka mengejar daripada dikejar.” Dia mengusap kulit halus mantan istrinya.
Berhubung lampu rambu lalu lintas sudah hijau, Arsen melajukan lagi kendaraan. Dia menyetir menggunakan satu tangan karena satu lagi masih menggenggam Bellinda. “Bahkan setelah tujuh tahun kita bercerai, aku tidak pernah sekali pun dekat dengan wanita. Justru saat melihatmu aku menjadi tertarik dengan jandaku sendiri. Orang yang sudah ku buang, ternyata masih tetap bersinar.”
Arsen menyempatkan sebentar untuk menengok ke samping dan melemparkan senyuman. “Tadinya aku pikir kau tidak bisa melakukan apa pun, manja, dan menyusahkan. Tapi, ternyata pemikiranku salah. Justru kau sangat mandiri, bahkan apa pun bisa dilakukan tanpa meminta bantuan.”
Arsen terus berusaha meyakinkan Bellinda kalau ia sudah menyesal pernah menyia-nyiakan wanita itu. Dikecuplah permukaan tangan jandanya. “Maafkan aku kalau perilaku di masa lalu membuatmu sakit hati hingga menimbulkan trauma. Tapi, aku berusaha keras untuk merubah segalanya, semua sifat burukku yang selalu cepat menyimpulkan sesuatu sebelum mengetahui faktanya.”
Bellinda tidak langsung menanggapi, tapi ia tersenyum lembut. Mendengar penjelasan mantan suaminya yang panjang sekali, membuat dia mulai merasakan keyakinan kalau pria itu memang sudah berubah. “Aku sudah memaafkanmu, bahkan jauh sebelum kau meminta.”
“Baik begini, siapa yang rela coba kalau dimiliki orang lain?” Arsen mengacak-acak rambut Bellinda dengan gemas.
“Ish ....” Bellinda menarik tangan mantan suaminya. “Fokus ke jalan, perjalanan kita masih jauh.” Jantungnya tidak aman, berdebar terus. Arsen terlalu manis kalau sedang seperti saat ini. Bahkan bisa membuatnya sampai tersipu dengan godaan yang sering dilontarkan.
__ADS_1
...........
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh karena Arsen membawa Bellinda dan Colvert keluar dari daerah Amsterdam, akhirnya mobil itu sampai juga di tempat tujuan.
Arsen mengusap pipi Bellinda dengan lembut saat mendapati wanita itu masih lelap. “Sayang, bangun. Kita sudah sampai di hutan.”
“Emh ....” Bellinda mengerjapkan mata saat merasakan ada sesuatu yang kenyal menempel di bibir. Ternyata Arsen menciumnya. Reflek tangan mendorong kepala pria itu. “Kenapa menciumku?”
“Supaya kau cepat bangun,” jawab Arsen santai.
“Tidak perlu cium juga, kan, bisa,” protes Bellinda kemudian. “Bagaimana kalau Colvert melihat?”
“Ayo, turun. Kita masih perlu jalan sebentar dari area parkir ke tempat camping.” Arsen lekas membuka pintu, lalu turun dan mengambil semua peralatan di bagasi yang sudah dikemasi dalam dua tas besar. Ia bawa di punggung dan depan.
“Aku bantu bawa satu,” tawar Bellinda ketika melihat Arsen sepertinya sangat berat membawa beban.
“Tidak perlu, kau gendong Colvert saja,” tolak Arsen seraya menutup kembali bagasi mobil.
__ADS_1
Bellinda pun mengangguk, dia membuka pintu belakang untuk mengangkat putranya. Tapi, ternyata bocah itu sudah bangun.
“Mau mommy gendong?” tawar Bellinda saat putranya sedang mengucek mata.
Colver menggeleng. “Aku mau jalan sendiri.”
“Baiklah.”
Akhirnya ketiga orang yang terlihat seperti keluarga kecil bahagia itu berjalan dengan bergandengan tangan. Colvert ada di tengah.
“Wah ... ini benar-benar hutan yang ada di dalam imajinasiku,” puji Colvert. Ternyata pilihan daddynya seperti dengan ekspektasi.
Bellinda dan Arsen hanya tersenyum menanggapi ocehan itu.
“Di sini pasti banyak hewan, Colvert tidak takut?” tanya Arsen.
Bocah itu menggeleng. “Tidak, Mommy itu takut dengan ular.”
__ADS_1
Arsen lalu melirik mantan istrinya. “Oh ... tenang saja, kalau ada ular langsung panggil aku.”
“Tidak, terima kasih. Aku lebih takut dengan ularmu daripada yang ada di hutan.”