
Bellinda pikir, urusan sudah selesai hanya sebatas di butik dengan segala keribetan yang ada. Mencoba model ini itu, ukur badan, dan lain-lain. Ternyata tak secepat itu, sekarang dia masih harus terjebak dengan dua Nyonya yang lebih terlihat antusias memilih cincin pernikahan.
Rasanya beda sekali dengan persiapan pernikahannya yang pertama. Saat itu, mungkin tujuh tahun lebih sudah berlalu, Bellinda merasa senang ketika memilih gaun, perhiasan, dan rapat bersama wedding organizer. Meski ia selalu mendapatkan tatapan masam dari Arsen, tapi jiwanya begitu hidup. Dia menikmati setiap momen walau tahu cintanya hanya sepihak.
Tapi ... kenapa kali ini Bellinda tidak bisa sesenang persiapan pernikahan yang pertama? Jelas Steven memperlakukannya baik, bahkan menemani pemilihan gaun juga perhiasan dengan wajah yang bersahabat, pria itu nampak ceria dan senang atas pernikahan yang satu bulan lagi akan berlangsung.
Bellinda seolah merasa melakukan kesalahan dengan menikah bersama Steven. Jiwanya hampa, sejak tadi juga hanya melamun dan mengangguk saja tiap kali diperlihatkan sepasang cincin.
__ADS_1
Mungkinkah dahulu yang dirasakan oleh Arsen adalah seperti itu? Tidak nyaman ketika Bellinda mengajak turun langsung mempersiapkan semua kebutuhan pernikahan? Sekarang dia tahu kenapa tujuh tahun silam selalu diberi tatapan kecut, datar, sinis oleh mantan suaminya. Ternyata tidak enak untuk berpura-pura menerima sesuatu yang tak dikehendaki oleh hati.
Kini Bellinda seolah memahami kondisi Arsen saat itu. Sebab, sekarang ia sedang berada di posisi yang sama. Akan menikah bersama pria yang tidak dicintai.
Bellinda tahu Steven selalu berusaha mendekatinya selama dua tahun terakhir. Tapi, mau bagaimanapun ia tidak bisa menerima dan membuka hati untuk pria itu. Entah karena kurang cocok atau alasan yang lain.
Bellinda akui kalau Steven itu selalu membantunya, terlepas dari kehidupan bebas. Pria itu sering antar jemput Colvert walau tak setiap hari, menjadi karyawan tanpa mau dibayar saat restoran cepat sajinya ramai sekali, dan mencoba memberikan sentuhan ringan entah di kepala atau tangan untuk sekedar menunjukkan ketertarikan juga perhatian. Akan tetapi, hati sulit sekali terbuka untuk sosok tersebut. Dia pernah mencoba, tapi selalu gagal. Jadi, berpikiran memang lebih baik berteman saja. Namun ... sekarang hubungan mereka jauh lebih serius lagi, dan bagai merasakan ada tekanan batin dalam diri Bellinda.
__ADS_1
“Aku tunggu di luar saja, kalian yang pilih,” ucap Bellinda. Hanya berdiri pun membuatnya lelah, kaki juga seperti kebas.
“Loh, yang mau menikah itu kau dan Everest, kenapa kami yang memilih?” protes Nyonya Baldwig mencoba mencegah putrinya supaya tak beranjak pergi.
“Pada kenyataannya, yang lebih antusias ‘kan Mommy. Aku mau duduk saja di luar.” Bellinda berlalu meninggalkan toko perhiasan yang ada di sebuah pusat perbelanjaan.
Janda satu anak itu duduk di kursi yang terbuat dari besi. Tangan Bellinda sembari memukul paha karena pegal. Mengurus Colvert dan bekerja tidak selelah itu. Mungkin karena ia menyukai kegiatannya, sementara kali ini tidak.
__ADS_1
“Capek? Aku pijat, ya?” Steven tiba-tiba sudah berjongkok di depan Bellinda dan menarik kaki wanita itu untuk mendapatkan tekanan dari tangannya.