
Meski hati Bellinda masih bisa merasakan getaran rasa ketika di dekat mantan suami, tiap kali pria itu menggodanya, dan kala jarak mereka begitu tipis. Namun, menerima ajakan untuk kembali menikah bersama Arsen bukanlah sesuatu yang sangat simple. Tidak sesederhana menjawab dengan kalimat menyepakati.
Kali ini bukan lagi sekedar menyatukan dua hati yang telah lama retak. Tidak juga demi mewujudkan keinginan Colvert yang Bellinda tahu kalau anaknya sudah paham permasalahan kedua orang tua. Tapi, ada hal lain yang menjadi pertimbangannya. Mommy dan daddynya.
Bellinda masih ingat bagaimana raut kecewa kedua orang tuanya saat perceraian, dan Arsen yang saat itu tidak menunjukkan sedikit pun rasa menyesal atau bersalah sudah menghancurkan kepercayaan Tuan dan Nyonya Baldwig. Sejak saat itu pula keluarga mereka menarik semua investasi di perusahaan keluarga Alka dan tidak mau terlibat apa pun dengan seluruh keturunan Alka.
Jadi, dari situ saja Bellinda sudah menyimpulkan kalau orang tuanya tidak akan mudah memberi kepercayaan untuk kedua kali. Dia tidak ingin membuat situasi menjadi rumit atau bertengkar dengan mommy dan daddynya kalau tiba-tiba memberi tahu mau menikah kembali dengan seseorang yang sudah menorehkan luka. Sudah cukup saat itu ia adu argumen ketika memilih tidak menerima bantuan apa pun dan memutuskan hidup mandiri dengan memulai bisnis sendiri.
Arsen bisa melihat wajah Bellinda yang nampak tertekan dan melamun. Dia mengacak-acak rambut wanita itu supaya kembali ke dunia nyata. “Tidak perlu dijawab kalau pertanyaanku terdengar sangat sulit.”
__ADS_1
Oke, Arsen harus sadar diri kalau luka batin tidak semudah itu sembuh. Dia memang ingin sekali memaksa, tapi tidak mau sampai menekan Bellinda. Perlahan wajahnya mendekat, meninggalkan kecupan sekilas di bibir. “Tidurlah, sudah dini hari.” Ia lalu berpindah ke sisi kosong Colvert. Tidak yakin kalau berlama-lama dijarak yang begitu minim dengan jandanya bisa menahan diri supaya miliknya tidak bertransformasi menjadi cobra yang siap mematuk.
Bellinda tanpa sadar menghembuskan napas lega. Berangsur berbalik badan untuk memeluk Colvert. Sepasang mata hanya bisa melihat punggung Arsen.
...........
Setelah semalaman bermalam di tengah hutan dan mengikuti semua keinginan Colvert yang ingin menyusuri hutan, lalu mandi di sungai walau mencarinya cukup sulit dan lumayan jauh dari lokasi tenda. Akhirnya mereka mengemasi semuanya di waktu siang hari.
“Bel,” panggil Arsen.
__ADS_1
Membuat Bellinda harus menatap pria itu. “Ya?”
“Tentang pertanyaanku yang semalam. Jangan dibuat menjadi beban,” tutur Arsen seraya tangan kanan terulur untuk mengusap lembut pipi Bellinda.
Kendaraan roda empat itu pun sampai juga di basement. Mereka bertiga langsung turun dan membiarkan barang bawaan tetap di bagasi.
Colvert berjalan di tengah dengan menggandeng tangan kedua orang tuanya. Wajahnya nampak riang, begitu juga dengan dua orang dewasa itu.
Namun, saat semakin dekat unit apartemen mereka, senyum Bellinda memudar, berganti kerisauan saat melihat mommynya berdiri di depan pintu tempat tinggalnya. Seperti sedang menanti untuk dibukakan.
__ADS_1
“Granny ...!” Colvert berseru dan melepaskan gandengan tangan untuk berlari menuju neneknya.
Tentu saja suara melengking bocah itu membuat Nyonya Baldwig menatap ke arah Colvert. Tapi, bisa dilihat kalau wanita yang umurnya sudah tak muda itu menaikkan sebelah alis ketika menangkap seorang pria yang begitu ia benci. Arsen Alka, manusia yang membuat putrinya sering menangis dan mencampakkan begitu saja setelah meniduri, tanpa berusaha mencari tahu apakah hasil perbuatan intim itu membuahkan anak atau tidak, sampai pada akhirnya putri satu-satunya harus menjadi single parent karena tak ingin meminta pertanggung jawaban.