Buried Love

Buried Love
Part 22


__ADS_3

Arsen mendorong kasar pintu ruang VIP disebuah club malam yang ada di Amsterdam. Di dalam sana sudah ada tiga pria yang tadi sore ia teror satu persatu untuk berkumpul, secara paksa, harus mau, dan tanpa memberikan penjelasan secara detail.


Arsen terlihat melepaskan dua kancing kemeja bagian atas. Wajahnya begitu datar dan bercampur ada aura kesal yang terpancar.


“Bellinda sialan.” Baru juga datang, Arsen sudah mengumpati mantan istri seraya duduk bergabung dengan yang lain.


Si duda itu langsung menyambar sloki yang entah milik siapa. Meneguk cairan beralkohol itu sampai tandas.


“Baru datang, langsung marah-marah. Kau itu sebenarnya ada masalah apa?” tanya Madhiaz diiringi gelengan kepala. Semakin mendekati akhir usia kepala tiga, satu-satunya teman yang masih sendiri itu justru lebih sering uring-uringan dan menyebalkan.


“Bellinda tidak mau diajak kerjasama,” kesal Arsen. Meraih botol dan menuangkan minuman ke sloki lagi.


“Santai ... santai ... ceritakan dulu dengan tenang.” Pierre menepuk pundak sahabatnya.


Arsen menghela napas kasar. “Colvert tidak mau mengakui dan memanggilku Daddy, justru pria lain yang mendapat julukan itu.” Dia sampai mengepalkan tangan karena terlalu marah dengan kejadian kemarin di apartemen Bellinda.


“Wajar, namanya juga baru mengenalmu. Kau saja yang aneh, baru muncul sudah menuntut pengakuan,” ucap Eduardo.


“Lalu, kenapa kau menyalahkan Bellinda?” tanya Madhiaz.


“Dia tidak mau ku ajak bersandiwara untuk saling cinta di depan Colvert. Anak itu membenciku karena aku tidak mencintai mommynya.” Meletakkan sloki secara kasar ke atas meja, Arsen lagi-lagi menghela napas panjang.

__ADS_1


Eduardo, Pierre, dan Madhiaz saling pandang. Mereka seakan memiliki pikiran yang sama.


“Gayanya diajak sandiwara, pasti dalam hati memang menginginkan untuk saling cinta,” ejek Pierre. Pria itu cekikikan. Temannya sampai detik ini masih belum mau menunjukkan perasaan yang sesungguhnya. Namanya sudah bersahabat lama, jadi tahu mana yang memang suka tapi gengsi, dan benar-benar benci.


Arsen mencebikkan bibir, menepis tangan Pierre yang ada di pundaknya. “Mana ada cinta pada jandaku sendiri. Seperti tidak ada wanita lain saja,” elaknya.


“Bukankah begitu? Memang tidak ada wanita lain yang bisa mencuri perhatianmu.” Madhiaz langsung menanggapi dengan alis kiri terangkat.


“Kata siapa?” Arsen menunjukkan kalau tuduhan itu tidak benar semua.


“Lalu, kenapa kau mati-matian ingin sekali mendapat pengakuan anakmu?” Eduardo yang berbicara.


“Salah jika seorang Daddy menginginkan hal itu?” Arsen menjawab dengan sinis.


“Lantas, kenapa sudah enam tahun bercerai, tapi kau tidak mencari wanita atau istri lagi? Sekarang justru mencari jalan yang sulit dengan menginginkan pengakuan anakmu bersama Bellinda, yang bocah itu pun tak mau menyebutmu Daddy.” Pertanyaan Madhiaz begitu menohok, tepat sasaran ditujukan pada si duda.


“Aku malas berurusan dengan wanita,” jawab Arsen. Rencana mengajak teman-teman berkumpul untuk menghilangkan kesal. Ternyata sampai sana justru semakin digoreng habis.


“Oh ... malas.” Sudah pasti suara ketiga pria itu mengejek.


“Hm, tidak ada yang menarik sedikit pun.” Arsen semakin memperjelas.

__ADS_1


“Oh ... begitu.” Mengangguk saja Eduardo, Pierre, dan Madhiaz.


“Baiklah kawan, sudah paham, kan, alasan Arsen terus menduda sampai sekarang?” Suara Pierre melengking, nyaring ditelinga.


“Ya ... tentu saja.”


“Karena yang mampu mengusik pikiran seorang Arsen hanyalah Bellinda.”


“Makan itu mantan istri.” Pierre berteriak di telinga Arsen karena jaraknya paling dekat.


“Aku tidak berniat mengajak dia balikan, pahami itu!” sanggah Arsen seraya mengusap telinga yang berdenging.


“Ya, ya, ya. Sangkal saja terus. Lanjutkan aroganmu itu pada Bellinda. Percayalah, tidak akan ada jalan untukmu kembali padanya jika kau besarkan gengsi dan egomu itu.” Madhiaz berdiri. “Sudahlah, aku mau pulang, habis tenaga untuk menasehati duda bebal satu ini.”


Eduardo pun jadi ikut mau pulang juga. “Kalau seperti ini caramu mengambil perhatian anak dan mantan istri, yang ada mereka jadi semakin jauh.”


Begitu pun Pierre. “Jadi, terserah kau sajalah mau melakukan apa. Percuma juga kita memberi tahu sampai berbusa, kalau pada akhirnya tidak didengar dan lakukan.”


Ketiga pria itu menepuk pundak Arsen bersamaan. “Belajarlah untuk mencintai dan mengambil hati mommynya dulu, maka anaknya akan kau dapatkan.” Kaki pun melangkah menuju pintu.


“Aku memang tak memiliki perasaan apa pun pada Bellinda. Tidak ada istilahnya mengambil bekas sendiri dalam kamus kehidupanku,” teriak Arsen. Dia enggan menjilat ludah sendiri.

__ADS_1


“Iya ... kami tidak percaya.”


__ADS_2