Buried Love

Buried Love
Part 74


__ADS_3

Wajah Bellinda nampak serius. Sebelum semua terlambat, dia harus mengatakan seluruh rasa yang mengganjal dalam hati. Undangan juga belum disebar, jadi kalau dibatalkan pun masih ada waktu.


“Begini, Steven. Aku minta tolong padamu, batalkan rencana perjodohan ini, ya?” pinta Bellinda dengan wajah penuh permohonan.


Kening Steven langsung mengerut seakan tidak terima. Tapi dia bukanlah pria yang selalu menggebu-gebu dalam emosi. “Kenapa?”


“Aku ... tidak mencintaimu, Steve. Meski kau sudah mencoba mendekatiku selama dua tahun terakhir, tapi tak pernah ada getaran rasa dalam diriku.” Bellinda menunduk sebagai ungkapan permintaan maaf.

__ADS_1


Steven tidak langsung memberikan tanggapan. Dia justru menggeserkan kursi ke belakang hingga terdengar suara decitan empat kaki kayu dengan lantai. Pria itu berangsur pindah duduk di samping Bellinda.


Tangan Steven meraih pundak wanita itu dengan gerakan lembut. Dia memang bukan sosok yang kasar. Jadilah Bellinda menghadap ke arahnya yang tengah duduk menyamping.


“Aku tahu kalau sulit menumbuhkan cinta. Tapi, bukankah lebih baik dicintai daripada mencintai? Aku yakin, seiring berjalannya waktu, jika kita sudah terbiasa pun akan tumbuh perasaan juga untukku.” Dari kalimat itu saja sudah bisa disimpulkan kalau Steven menolak untuk membatalkan pernikahan.


Pria itu meraih tangan Bellinda dan berhasil menggenggam. “Kita lanjutkan, ya? Aku janji akan selalu membuatmu bahagia, selalu ada disetiap kondisi apa pun. Entah baik atau buruknya dirimu, semua akan ku terima,” bujuknya kemudian.

__ADS_1


“Aku pernah menikah dalam posisi cinta sepihak. Awalnya juga berpikir kalau rasa akan perlahan tumbuh seiring berjalannya waktu. Tapi, pada akhirnya tidak.” Bellinda menepuk punggung tangan Steven untuk memberikan pengertian. “Aku tak ingin kau merasakan ketidaknyamanan. Lebih baik, akhiri sampai di sini saja. Kau harus tahu kalau mencintai sendirian itu tidak enak.”


Bibir Steven terlihat mengulas senyum. Dia bukannya marah, tapi tangan mengusap pipi mulus Bellinda. “Justru karena kau sudah pernah mengalami hal seperti itu, bukankah seharusnya tahu bagaimana cara memperlakukan orang yang mencintaimu? Karena sudah pernah berada dalam posisi seperti aku, dan paham betapa tak enaknya cinta sepihak.” Jemarinya menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sedikit wajah. “Belajarlah mencintaiku, Bel. Dahulu kau pun menginginkan hal yang ku harapkan itu, kan? Maka, kita coba saja. Kalau memang pada akhirnya tetap tak berhasil, maka keputusan akan ku berikan sepenuhnya padamu.” Dengan gerakan cepat, dia melabuhkan kecupan di kening.


Steven kembali duduk di kursi semula saat waiters mengantarkan pesanan. Dia tetap terlihat tenang dan tidak emosi sedikit pun walau jelas sekali baru saja Bellinda menolak perjodohan. Bahkan seperti tidak pernah terjadi perdebatan apa pun. “Minumlah, selagi dingin.”


Si janda sampai bingung sendiri bagaimana caranya supaya Steven mau membatalkan semuanya. Strawberry milkshake kesukaannya sampai tak berhasil membuat napsu untuk menyeruput.

__ADS_1


“Aku tahu kau pria dengan gaya hidup bebas, Steve. Bukankah pernikahan hanya akan mengekangmu?” Bellinda sebenarnya tidak mau mengungkit masalah kehidupan orang lain. Tapi, kali ini sangat terpaksa. Dia ingin mengakhiri ikatan yang belum sepenuhnya tertali sempurna.


“Beberapa bulan ini aku sudah berhenti, dan berniat stop total setelah menikah denganmu,” jawab Steven seraya menikmati minumannya.


__ADS_2