Buried Love

Buried Love
Part 59


__ADS_3

Berhubung di dalam sana sedang ada keluarga calon besan, jadilah Nyonya Baldwig membiarkan Arsen masuk ke dalam. Dia tidak mau terlihat sombong atau angkuh karena mengusir tamu yang tak diundang. Dipikir-pikir ada bagusnya juga kalau mantan menantunya melihat pria pilihannya yang akan dijadikan calon suami Bellinda. Biarlah sadar dan melihat kalau putrinya bisa bahagia tanpa manusia yang sudah tega mencampakkan begitu saja.


Arsen diantarkan oleh seorang pelayan untuk ke ruang makan. Dia mengernyit saat melihat ada banyak orang berkumpul di sana. Bukan karena perkumpulan itu yang membuatnya sedikit terkejut, tapi kehadiran pria yang ia kenal dengan nama Steven.


Untuk apa pria itu ada di sini juga? Jangan bilang kalau ... si gunung yang dimaksud mantan mertuaku adalah ... dia? Dugaan Arsen itu semakin membuat pupil mata melebar. Hanya satu orang yang memiliki usia dewasa dan mungkin sedikit di atas Bellinda.


“Kenapa berdiri saja? Sini, duduk, gabung dengan kita. Masih ada kursi kosong.” Nyonya Baldwig menyambut dengan suara ramah. Tangannya menunjuk kursi di hadapan Everest.

__ADS_1


Posisi makan mereka sudah berubah. Tadi sebelum Arsen datang, Nyonya Baldwig meminta Everest untuk pindah ke samping Colvert, sehingga posisi cucunya diapit oleh Bellinda dan calon menantu pilihannya.


Arsen mengangguk. Perlahan kakinya kian membawa lebih dekat. Menarik kursi yang dimaksud dan duduk di sana. Ia menyempatkan untuk menatap Bellinda yang diam tanpa kata, wanita itu hanya sekilas meliriknya. Lalu, beralih memandang Colvert, bocah itu justru tidak menunjukkan reaksi apa pun, menyambut atau mengajaknya bicara pun tidak.


Sebenarnya ada apa dengan mereka? Kenapa aku merasa jadi seperti orang asing di sini? Gumam Arsen di dalam pikirannya sendiri.


Si duda bingung, terakhir kali hubungan dengan Bellinda dan Colvert baik-baik saja, anaknya juga sudah mau memanggil Daddy. Tapi, dalam sekejap telah berubah.

__ADS_1


“Iya.” Arsen sampai sekarang masih bingung mau memanggil orang tua Bellinda dengan sebutan apa yang cocok. Dia segera mengambil makanan sendiri.


“Dia itu mantan suami Bellinda. Ya ... meskipun sudah tidak ada hubungan lagi dengan keluarga kami, tapi tak boleh memutus silaturahmi, bukan?” Nyonya Baldwig berbicara seperti itu untuk memperkenalkan pada calon besan karena sejak tadi nampak bingung dengan kehadiran Arsen. “Dulu, dia yang menceraikan putriku.”


“Oh ... baik sekali keluarga Baldwig, masih mau menerima orang yang sudah mencampakkan Bellinda yang cantik dan sebaik malaikat,” puji Nyonya Dane.


Sementara Arsen menelan ludah dan makanan yang ditelan rasanya langsung tidak enak. Pantas saja mudah sekali diizinkan masuk, ternyata mau dikuliti semua kesalahan masa lalunya. Mau membantah atau membela diri, tapi yang ada justru menjadi ajang keributan karena apa yang dikatakan adalah semuanya benar. Bisa-bisa semakin sulit mendapatkan Bellinda kembali. Jadi, dia saat ini berusaha menulikan telinga, walau pada kenyataannya tetaplah bisa mendengar dengan jelas setiap sindiran yang ditujukan padanya.

__ADS_1


“Keluarga Baldwig itu selalu menurunkan sifat supaya tetap menjaga hubungan baik dengan orang yang sudah menyakiti. Walaupun aku sebagai mommynya Bellinda sedikit kesal juga dengan keputusan perceraian sepihak. Putriku jadi melewati masa kehamilan sendiri.”


“Mom, habiskan dulu makananmu!” tegur Tuan Baldwig dengan tegas. Sejak tadi dia memang banyak diam dan mengamati. Suasana makan malam jadi kurang hangat karena dipenuhi oleh obrolan para Nyonya. Walau yang dibicarakan sebah fakta, tapi kasihan juga melihat mantan menantunya menunduk dan diam tanpa bisa membela.


__ADS_2