Buried Love

Buried Love
Part 55


__ADS_3

Arsen mengusap wajah dan acak-acak rambut secara kasar. Frustasi sekali rasanya selama satu minggu tidak melihat anak dan mantan istri. Dia ... rindu, sangat rindu. Bahkan sampai yang menggebu-gebu. Kenapa selama hampir satu tahun memilih pulang pergi Amsterdam Helsinki? Ya karena si duda lebih baik bisa melihat wajah Colvert dan Bellinda walau hanya sebentar tapi tak pernah absen sehari pun.


Namun, sekarang harus terenggut oleh mantan mertuanya. Arsen tahu tak ada hak lagi mengatur Bellinda. Wanita itu sepenuhnya milik keluarga Baldwig. Tapi, janganlah tiba-tiba dibawa pergi begitu saja. Hatinya jadi resah dan gelisah.


Arsen merutuki dirinya karena selama menjadi suami Bellinda tak pernah sekali pun ingin tahu tentang keluarga Baldwig. Rasa kesal karena dijodohkan sudah membutakan segalanya, waktu itu. Sekarang ia kuwalahan sendiri karena tak tahu di mana tempat tinggal orang tua mantan istrinya.


Tangan Arsen meraih ponsel. Dia terpaksa harus menghubungi dan meminta bantuan salah satu teman. Madhiaz.


“Ada apa?”


“Kau bisa minta tolong dengan iparmu?” tanya Arsen. Dia tahu kalau keluarga Pattinson memiliki hubungan kekerabatan dengan Dominique dan Giorgio yang memiliki banyak keturunan dengan berbagai macam keahlian.


“Iparku yang mana dulu?”


“Yang bisa mencari tahu tentang tempat tinggal seseorang.”


“Memangnya siapa yang mau kau cari?”

__ADS_1


“Rumah keluarga Baldwig.”


“Oh ... sudah jadi menjilat ludah sendiri ternyata?”


“Ck! Bukan saatnya membicarakan tentang itu. Aku butuh alamatnya, sekarang juga.”


“Beri aku alasan kenapa harus menolongmu?”


Arsen semakin mengacak-acak rambut kasar karena Madhiaz banyak bertanya. “Apa aku pernah menanyakan alasan padamu tiap kali kau butuh bantuan?” sindirnya kemudian.


“Oke, oke ... aku bantu.”


Panggilan pun diakhiri oleh Arsen. Dia hanya harus menanti Madhiaz kembali menghubungi kalau sudah berhasil mencari tahu tentang keberadaan keluarga Baldwig.


...........


Sementara itu, Colvert dan Bellinda selama satu minggu ini berada di tempat tinggal keluarga Baldwig. Justru itulah ide Colvert yang ingin ikut bersama sang nenek.

__ADS_1


Bellinda sampai bingung saat itu karena Colvert mendadak mau tinggal bersama kakek dan nenek. Katanya bosan di apartemen kecil terus, tidak ada halaman untuk bermain. Ya ... jadi Bellinda menuruti saja.


Di tempat tinggal keluarga Baldwig, Bellinda selalu disibukkan oleh persiapan pertemuan dua keluarga. Akhirnya dia mau untuk mengenal terlebih dahulu, bukan menyepakati perjodohan. Harus tahu apakah pria yang katanya bernama Everest itu sungguh tulus atau sekedar ingin kekayaan keluarganya saja. Sebab, sudah pasti penyatuan anak tunggal kaya raya tak luput dari harta.


Di dalam kamar, Bellinda dan Colvert sedang bersiap untuk acara makan malam. Janda satu itu berjongkok di hadapan putranya seraya merapikan dasi kupu-kupu.


“Sayang ... Mommy mau tanya.”


“Apa?”


Bellinda mengusap pipi mungil yang wajahnya selalu sulit dimengerti akhir-akhir ini. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh Colvert, dia tak paham. Anak itu selalu pandai menyembunyikan perasaan.


“Colvert setuju kalau memiliki Daddy tapi bukan daddymu yang asli?” Pertanyaan dari Bellinda teralun lembut. Dia hanya memastikan apakah anak itu menginginkan Arsen atau tidak.


“Aku terserah Mommy saja. Siapa pun orangnya, yang penting Mommy bahagia. Mau itu Everest, Steven, atau daddyku yang sungguhan.” Colvert tersenyum tanpa dipaksakan.


Obrolan ibu dan anak itu terjeda karena pintu kamar ada yang membuka. “Ayo, keluarga Dane sebentar lagi akan sampai.”

__ADS_1


Bellinda mengangguk. Ia lalu menggandeng tangan Colvert dan keduanya turun. Berdiri di depan pintu untuk menyambut tamu.


Dua mobil mewah berhenti tepat di depan teras. Satu persatu turun dari kendaraan. Dan ketika Bellinda menangkap sosok yang begitu dikenal, sepasang mata langsung membola seketika karena terkejut sekaligus bingung.


__ADS_2