Buried Love

Buried Love
Part 45


__ADS_3

Arsen dan Colvert asyik berduaan mendirikan tenda yang baru dibeli saat hendak berangkat berkemah. Bahkan bau khas barang baru pun masih menyeruak kuat masuk ke dalam indera penciuman. Effort yang diberikan si duda untuk anak dan mantan istri memang tidak main-main. Selain mengorbankan banyak waktu dan uang, ia juga merelakan pertemuan bersama client yang rencananya meminta jumpa besok pagi. Tapi, bermalam di hutan yang jauh dari Amsterdam pasti tidak memungkinkan untuk ke bandara dalam waktu cepat. Jadi, dia merelakan puluhan juga euro melayang begitu saja.


Arsen berpikir tidak masalah kehilangan satu client, toh pasti akan ada lagi berikutnya. Lima kali ulang tahun anaknya tak pernah ikut merayakan karena memang kondisinya yang tak tahu tentang keberadaan Colvert. Sekarang mana mungkin ia juga tak merayakan bersama.


Kalau dahulu orientasi Arsen adalah bekerja sampai kelelahan demi mendapatkan pundi-pundi uang dan keberlangsungan serta ketenaran perusahaan, sekarang tujuan hidupnya berganti atau mungkin bertambah. Memiliki keluarga kecil bahagia bersama jandanya dan anaknya merupakan salah satu pencapaian yang belum bisa digapai sampai detik ini. Walaupun sudah banyak yang dicurahkan, tapi mendapatkan mengakuan dari Colvert dan kesempatan kedua dari Bellinda ternyata tidak semudah ia mengambil hati client untuk menyepakati suatu proyek.


Sementara itu, Bellinda asyik memasak dengan kompor portabel yang baru dibeli juga. Semua peralatan berkemah mereka masih bau toko.


Bellinda hanya memasak seadanya karena bahan-bahan yang dibawa juga semuanya simple, khas orang berkemah pada umumnya. Telur, roti, sosis, susu kemasan yang siap minum, dan ada beberapa mie instan untuk jaga-jaga kalau ingin.


Kepala Bellinda bergeleng saat melihat Arsen dan Colvert terlihat adu mulut. Dua orang itu memang tidak bisa kalau sehari saja tanpa perdebatan. Tapi, bukannya nampak seram, justru lucu karena pada akhirnya Arsen juga yang memilih mengalah. Cara menunjukkan kedekatan dua pria beda generasi itu memang sedikit berbeda.

__ADS_1


“Makan dulu,” ucap Bellinda seraya menghampiri Arsen dan Colvert yang sedang duduk di depan tenda setelah berhasil mendirikan tegak tempat untuk istirahat mereka bertiga.


“Asyik ... aku sudah lapar sekali.” Colvert antusias menerima piring yang disodorkan oleh sang Mommy.


Arsen mengacak-acak rambut putranya karena terlalu menggemaskan. “Makan yang banyak supaya bisa berdebat denganku terus.”


Colvert berdesis supaya daddynya diam. Dia menikmati makan siang yang sudah terlambat karena sekarang hari mulai sore menjelang malam.


Arsen paling pertama menyelesaikan makan. “Aku ke mobil sebentar, ya? Kalian di sini berdua, berani, kan?” izinnya kemudian.


“Berani,” sahut Colvert.

__ADS_1


Sementara Bellinda menatap Arsen penuh tanya. “Ada yang tertinggal, kah?”


“Iya, sesuatu yang penting. Hanya sebentar, setelah itu aku lekas kembali.” Arsen bangkit dari duduk. Ia menyempatkan untuk menepuk pelan puncak kepala Bellinda, seakan memberi tahu kalau semua akan baik-baik saja saat dirinya pergi ke mobil.


“Hati-hati,” tutur Bellinda lembut.


Arsen hanya mengangguk. Dia lalu berlari supaya cepat sampai ke tempat di mana memarkirkan mobil. Langit di atas mulai meredup dan hampir gelap, tidak mau meninggalkan anak dan mantan istri hanya berdua dalam tengah hutan.


Perjalanan ke tempat parkir dan area berkemah tidak terlalu dekat atau jauh, kurang lebih lima belas sampai dua puluh menit ditempuh kalau berlari. Jika jalan biasa bisa tiga puluh menit.


Akhirnya Arsen sampai juga di mobil. Dia mengambil kue yang diam-diam dibeli untuk memberi kejutan pada Colvert. Ini adalah kali pertama merayakan ulang tahun putranya. Jadi, kurang tahu bagaimana menyenangkan bocah itu, maka menggunakan cara klasik yang terbesit dalam pikiran.

__ADS_1


Arsen kembali berlari supaya cepat sampai ke lokasi berkemah. Padahal jalan setapak itu lumayan licin karena tanahnya tidak ada rumput sedikit pun, juga topografi tanah yang sedikit miring. Dia terlalu yakin kalau tak akan terjadi apa-apa karena saat berlari ke mobil pun aman. Namun, nyatanya, keyakinan itu harus terpatahkan saat kakinya tergelincir begitu saja dan membuatnya terperosok.


__ADS_2