
Arsen pikir, sindiran untuknya sudah berakhir setelah Tuan Baldwig memberikan perintah supaya berhenti mengobrol dan untuk menghabiskan makanan. Tapi, ternyata ia salah. Setelah piring kosong, Nyonya Baldwig dan Dane kembali melanjutkan perbincangan.
“Wah ... tidak punya hati juga, ya, mantan suami Bellinda. Menceraikan saat posisi hamil,” ucap Nyonya Dane seraya mata melirik Arsen yang duduk satu deret dengannya.
“Bukan salahnya, aku yang tidak memberi tahu.” Bellinda mulai gerah mendengar obrolan dua wanita paruh baya yang sejak tadi hanya memojokkan mantan suaminya. Dia sampai merasa tak enak pada Arsen yang sejak tadi hanya bisa menunduk.
“Tetap saja, seharusnya sebagai seorang pria harus memiliki inisiatif mencari tahu,” sahut Nyonya Dane.
“Mom ... jangan terlalu mencampuri urusan masa lalu orang. Yang sudah berlalu ya biarkan saja menjadi kenangan, tidak perlu diungkit dan diributkan kembali.” Kali ini Steven yang menegur orang tuanya. Sejak tadi ia berharap kalau pembicara yang cenderung menyudutkan sebelah pihak akan berakhir, tapi ternyata masih saja menjadi topik hangat bagi dua Nyonya di sana.
__ADS_1
“Masa lalu itu digunakan untuk pelajaran. Jangan sampai kembali dalam kesalahan yang sama,” tutur Nyonya Baldwig. “Aku hanya ingin mengingatkan Bellinda.”
Colvert sejak tadi memang diam. Tapi dia mendengarkan. Berusaha menahan diri karena masih menghargai semua orang. Namun, semakin lama ia bosan, akhirnya menggebrak meja hingga menimbulkan suara. Ini adalah kali pertama bocah itu terlihat marah. “Aku sudah selesai.”
Lalu perhatian semua orang jadi tertuju pada Colvert. Termasuk Arsen yang sejak tadi hanya bisa menunduk. Kali ini ia bisa bersitatap dengan putranya. Hanya saja ada kilatan datar penuh rasa kecewa yang dipancarkan dari anak itu.
“Mau keluar? Kita ambil kado dariku yang ada di mobil, mau?” tawar Steven. Sepertinya suasana ruang makan memang tidak bagus untuk Colvert. Terlalu banyak fakta buruk yang mungkin saja bisa membuat anak itu terluka hatinya.
Jadilah kini di ruang makan hanya tersisa enam orang. Wajah dua nyonya nampak berseri menyaksikan kedekatan Colvert dan Everest atau Steven.
__ADS_1
“Untung putramu itu baik, jadi cucuku mudah sekali dekat dengannya. Sudah memanggil Daddy juga. Rencana perjodohan keluarga Baldwig dan Dane bisa kita lakukan dengan lancar,” ucap si nyonya pemilik rumah. Sengaja lantang, supaya Arsen dengar dan sadar diri.
Bellinda membulatkan mata sebagai protes pada mommynya. “Aku belum memberikan keputusan apa pun,” bisiknya lirih di telinga orang tuanya yang duduk tepat di sebelah.
Di bawah meja, Nyonya Baldwig menepuk tangan Bellinda sebagai tanda supaya tak banyak protes. “Jangan permalukan keluarga kita di depan calon mertuamu. Sudah cukup aku menuruti semua keinginanmu. Hanya satu kali ini, aku minta ikuti kemauanku.” Dia balas berbisik supaya tidak didengar oleh yang lain.
“Mau mengobrol di taman? Sambil minum kopi? Sepertinya para Nyonya di sini sedang asyik mengobrol sampai lupa suami.” Tuan Baldwig menawarkan pada Tuan Dane. Dia lelah mendengar pembicaraan yang tidak menyenangkan.
“Ayo.” Tuan Dane berdiri. Memang sejak tadi ingin sekali memisahkan diri.
__ADS_1
“Kau mau ikut, Arsen?” tawar Tuan Baldwig. Walau putrinya sudah pernah dicampakkan begitu saja, tapi bersikap menyindir atau membuka kembali kesalahan bukanlah hal yang bagus. Tapi, membuat istrinya bungkam juga bukan hal mudah.