Buried Love

Buried Love
Part 47


__ADS_3

Haru, lega, bahagia, semua bercampur menjadi satu dalam hati Bellinda saat menyaksikan sosok Arsen yang berjalan perlahan menghampiri. Pria itu berjongkok di hadapan Colvert yang tengah ia pangku. Melirik ke wajah putranya untuk memastikan ekspresi apa yang sedang ditunjukkan. Ternyata bocah itu sedang tersenyum senang dengan mata yang nampak berkaca-kaca.


“Colvert, selamat ulang tahun.” Arsen tersenyum seraya mendekatkan kue ke depan putranya. “Maaf jika selama lima kali pertambahan usiamu, aku tidak pernah bisa merayakan. Aku merasa bersalah akan hal itu, dan sebisa mungkin menebus semuanya hari ini.”


“Jadi, kepergianmu tadi untuk menyiapkan kue ini?” tanya Colvert. Ada getaran disuaranya, seperti orang yang ingin menangis.


Arsen mengangguk. “Ya, aku ingin memberimu kejutan. Tapi, tadi sempat ada sedikit kendala dan membuat kuenya sedikit berantakan.”

__ADS_1


Ada haru menyeruak di hati Colvert. Lima kali ia ulang tahun hanya dirayakan bersama mommynya dan tidak ada hal spesial. Tapi, kali ini berbeda, ada daddynya yang berusaha memberikan kesan terbaik.


Bellinda mengusap puncak kepala putranya yang masih terdiam dengan menatap Arsen tanpa bekedip, entah apa yang sedang dipikirkan anak sekecil itu. Tapi ia menangkap sebuah rasa takjub dan kagum yang dihasilkan dari senyum manis di bibir si kecil. Sama halnya dengan apa yang ia rasakan saat ini.


“Make a wish, lalu tiup lilinnya, Sayang. Kasihan daddymu berjongkok terus sejak tadi,” tutur Bellinda diiringi tepukan di punggung Colvert.


Kepala Colvert mengangguk, perlahan berangsur mencondongkan tubuh ke depan kue. Dia memejamkan mata untuk berdoa, tapi bukan dibatin, melainkan diucapkan secara lantang hingga Bellinda dan Arsen bisa mendengar.

__ADS_1


Bellinda dan Arsen seperti merasakan cubitan tak kasat mata di dalam hati. Keegoisan mereka ternyata bukan sekedar melukai diri sendiri, tapi juga buah hati yang ternyata menginginkan keluarga utuh. Mungkin selama ini Colvert sudah terlalu lama memendam semuanya, dan akhirnya tak kuasa untuk membohongi diri untuk terlihat membenci daddynya yang ternyata justru sangat disayangi juga.


Colvert mengeluarkan udara dari bibir, tepat di nyala api kecil. Lilin itu pun akhirnya padam, tangan mungilnya mengambil alih kue tersebut untuk diletakkan pada atas alas tempatnya duduk.


Colvert tidak ingin langsung memotong dan menikmati kue itu. Tapi, ia menghambur memeluk Arsen, melingkarkan tangan mungil di leher daddynya. Bocah itu menangis bahagia karena tidak seperti dugaannya tadi yang berpikir akan ditinggalkan. Ternyata justru datang membawa kejutan yang belum pernah ia alami sebelumnya. Walau sederhana, tapi bagi Colvert itu sangatlah bermakna karena kehadiran sosok Daddy adalah salah satu harapannya sejak lama.


“Thank you, Daddy, kau sudah mengetahui keberadaanku dan berusaha keras untuk memperbaiki segalanya. Aku menyayangimu,” ucap Colvert begitu tulus.

__ADS_1


Arsen langsung membalas pelukan putranya, mencurukkan kepala di pundak mungil. Tak terasa air mata luruh begitu saja saat mendengar panggilan dari putranya. Akhirnya satu kata itu keluar dari bibir Colvert. Daddy. Dia sangat senang dan lega karena diakui sebagai orang tua. “Apa pun akan aku lakukan untukmu dan ....” Ia sedikit meluruskan pandangan untuk menatap Bellinda yang tengah mengusap sudut mata seolah tengah menghilangkan jejak basah pertanda haru. “Juga mommymu. Aku mencintai kalian.”


Arsen menangkup dua sisi wajah Colvert, melabuhkan kecupan di kening anaknya penuh kasih sayang. “Terima kasih karena kau mau memanggilku Daddy. Meski sederhana, tapi itu sangat berarti untukku.”


__ADS_2