
Bellinda tidak langsung memberikan jawaban. Ia tengah menimbang terlebih dahulu, takut kalau salah langkah. Mengamati bagaimana sang putra yang amat menempel pada mantan suami, ada binar di mata Colvert yang tak pernah terpancar ketika dengan siapapun. Tentulah hal itu membuatnya ingin menerima ajakan menikah Arsen. Di sisi lain memang dalam hati pun masih ada rasa untuk pria itu.
Tapi, pernikahan bukan sekedar menyatukan dua manusia yang saling mencintai saja. Ada namanya restu juga perlu didapatkan. Dan hal itulah yang membuat Bellinda mulai resah.
“Bagaimana dengan orang tuaku? Mommyku kurang suka denganmu. Juga keluargamu apakah setuju kalau kita kembali bersama?” tanya Bellinda. Kepala yang menunduk itu menandakan bahwa ia sedikit tak yakin. Mengingat bagaimana cara mereka berpisah dahulu terkesan buruk.
Arsen merangkul pinggul Bellinda, mengajak wanita itu untuk mengobrol sembari duduk supaya lebih nyaman. Jadilah kini keduanya ada di satu sofa yang sama, sementara Colvert ia pangku. Dalam posisi seperti itu pun tangan kekar si duda meraih dan menggenggam jandanya.
__ADS_1
Arsen berusaha memancarkan keyakinan dan tekat yang sungguh-sungguh dari mata. “Keluargaku pasti setuju. Kalau masalah orang tuamu, aku akan berusaha mengambil hati mommymu karena daddymu sudah setuju asalkan kalian bahagia kalau hidup bersamaku.”
“Nanti aku bantu Daddy juga supaya Granny menyetujui,” celetuk Colvert. Padahal dahulu dia dan Arsen seperti musuh bebuyutan yang selalu adu mulut, tapi sekarang justru serasi sekali menyusun rencana. Senyaman-nyamannya bersama pria lain, dia lebih senang bersama daddynya sendiri. Apa lagi Arsen juga berusaha keras untuk melakukan yang terbaik, bukan sosok tidak bertanggung jawab atau abai terhadap kewajiban. Penyesalan juga selalu diutarakan, beribu maaf sampai membuat telinga Colvert panas ketika mendengar berkali-kali. Jadi, tidak ada alasan untuk tak menyukai orang tuanya yang baru tahu keberadaannya ketika ia sudah berumur lima tahun.
“Jangan, biarkan Daddy yang berjuang sendiri. Kalian cukup terima beres.” Arsen menepuk pelan punggung sang putra, lalu melabuhkan kecupan di puncak kepala Colvert. “Aku pasti bisa menyakinkan grannymu, tenang saja.”
“Tapi, semua tergantung jawaban dari keputusanmu. Jika kau menerima ajakan menikah bersamaku, pasti aku akan berjuang demi restu mommymu. Namun, kalau sebaliknya, percuma juga berjuang tanpa akhir yang jelas. Maka, aku ingin mendengar terlebih dahulu dari bibirmu. Apakah mau diperjuangkan atau tidak?” Arsen begitu tegas ketika mengucapkan semua itu, tak ada kesan yang menunjukkan keraguan sedikit saja.
__ADS_1
Bellinda bisa menangkap kesungguhan dari gerak-gerik, raut wajah, sorot mata, setiap susunan kata dan intonasi yang diucapkan. Maka, dia menjawab dengan sebuah anggukan. “Aku ... mau kembali denganmu, asalkan jangan menyakiti atau mengecewakan Colvert.” Anak adalah segalanya bagi Bellinda.
Posisi duduk sengaja dikikis oleh Arsen supaya bisa memeluk Bellinda. “Kau tahu bagaimana tidak enaknya sebuah penyeselan? Aku sudah merasakan itu, dan mana mungkin melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kali.” Ia melabuhkan sebuah kecupan di pelipis. Senang sekali rasanya ketika lamaran diterima, walau tidak romantis seperti kebanyakan pasangan.
Ada senyum yang tercetak di wajah Colvert. Menyaksikan kedua orang tua dekat adalah sesuatu yang baru pertama. Ternyata seru juga memiliki Mommy dan Daddy lengkap. “Tenang saja, nanti aku tendang Daddy kalau macam-macam,” ucapnya pongah.
Membuat Arsen dan Bellinda terkekeh bersamaan karena wajah si kecil terlalu menggemaskan.
__ADS_1