
Melihat teman daddynya nampak sudah datang, walau masih menunggu di samping mobil karena memang skenario dari awal adalah akan menginjakkan kaki di lokasi pernikahan—taman mansion Baldwig—disaat acara mulai. Colvert pun menutup lagi jendela kamarnya, lalu baru sekarang ia berniat membukakan pintu.
“Sorry, Mommy, aku membuatmu menunggu,” ucap Colvert dengan kepala mendongak dan mata nampak merasa bersalah. Itu hanya pura-pura, dalam hati sebenarnya sangat puas dan senang karena tadi ia sempat mendengar kalau si nenek sihir, orang tua Steven menunjukkan sifat asli yang menyebalkan. Baguslah, supaya Granny dan mommynya melihat kalau ada salah satu keluarga Dane yang tidak good attitude.
Bellinda tentu tidak marah, Colvert adalah segalanya bagi dia. Justru mengusap puncak kepala si kecil begitu lembut. Tapi, merasa aneh karena sang putra sudah berpakaian rapi sementara tadi mengatakan masih mengantuk. Insting seorang ibu akhirnya aktif juga. “Apa Colvert tidak senang dengan pernikahan Mommy dan Steven? Kalau iya, katakan saja. Masih ada waktu untuk aku membatalkan.”
Colvert mengedikkan bahu, walau sebenarnya sangat ingin mengangguk. Dia hanya tak senang dengan si nenek sihir. Tapi, kata daddynya, tidak boleh mengatakan kalau tak setuju.
__ADS_1
Bisa saja menculik Bellinda. Namun, rencana Arsen bersama ketiga perusuh—sejak awal adalah ingin menunjukkan pada semua orang, terutama keluarga Baldwig dan Dane—tentang siapa yang sebenarnya menjadi pilihan si janda itu. Kalau diculik, rasanya Arsen terlalu memaksakan diri, belum tentu juga Bellinda mau kembali pada orang dari masa lalu.
“Yakin?” Bellinda sampai memastikan sekali lagi karena wajah Colvert tak menunjukkan hal yang menggambarkan kegembiraan.
“Ya, ayo kita ke taman belakang.” Colvert menggandeng tangan sang Mommy. Bibir bocah itu menyeringai karena tidak sabar ingin melihat reaksi si nenek sihir seandainya pernikahan hari ini batal.
Colvert tak ada masalah dengan Steven, tapi setelah dirasakan lagi, memang mereka jauh lebih baik menjadi teman saja. Bukan Colvert tak suka atau tidak setuju kalau mommynya bersama pria yang selama dua tahun terakhir ini dipanggil Daddy olehnya, namun melihat bagaimana tingkah laku Nyonya Dane—membuatnya muak. Di depan keluarganya yang lain seperti halus, kalem, penyayang. Di belakang sudah seperti medusa. Pokoknya big no untuk nenek-nenek satu itu.
__ADS_1
Bellinda tadi tidak mau melanjutkan pernikahan karena ia ingin yang menjadi pengantar mempelai adalah putra sendiri dibandingkan orang tuanya. Jadilah kini Colvert ada di sampingnya.
Tapi, bocah itu sejak tadi tak fokus ke depan, melainkan menengok ke kanan, kiri, dan belakang. Memastikan di mana keberadaan teman-teman daddynya? Kenapa tidak terlihat? Ia tidak diberi tahu detail rencana perusakan momen pernikahan kali ini, hanya dijelaskan bagian yang harus dirinya lakukan saja.
Colvert berhenti di depan Steven. Dia menengok ke belakang lagi sebelum memberikan tangan sang Mommy ke pria yang sudah menanti sejak tadi.
Tidak ada nampak batang hidung teman-teman daddynya, Colvert pun pada akhirnya memberikan tangan Bellinda pada Steven. Dia lalu menuruni dua anak tangga, dan bergabung duduk di samping kakeknya.
__ADS_1
Sepanjang prosesi pernikahan, Colvert tidak fokus pada mempelai. Dia gelisah. “Jangan sampai pengucapan janji selesai dan diresmikan menjadi pasangan,” gumamnya setelah mendengar kalau Steven baru saja selesai mengucapkan janji.
Seharusnya giliran Bellinda berjanji juga. Tapi ...