
Kini tersisalah Tuan Baldwig dan Arsen di taman belakang. Tuan Dane sedang pergi ke toilet. Suasana menjadi sepi karena si duda bingung juga ingin membicarakan apa. Dia tidak pandai berbasa-basi atau membuka topik yang tak terlalu penting. Jadilah sejak tiga menit berlalu hanya hembusan angin sebagai peneman dan seakan mengejek Arsen karena tak kunjung mengeluarkan suara.
“Aku minta maaf atas perilaku istriku yang sudah menggunjingmu di depan semua orang,” ucap Tuan Baldwig setelah ia merasa iba melihat mantan menantu yang sejak tadi seperti kebingungan.
Arsen menggeleng. Dia sampai lupa satu hal yang belum pernah dilakukan. Minta maaf pada orang tua Bellinda karena sudah menghancurkan kepercayaan yang pernah diberikan. Terlalu gugup membuatnya hilang kemampuan berbicara.
__ADS_1
“Seharusnya aku yang mengatakan maaf. Semua yang dikatakan memang benar, aku seburuk itu, sejahat itu, dan setega itu. Jadi, bukan kesalahan istrimu kalau dia sakit hati.” Arsen tersenyum canggung. Ia benar-benar malu diperlakukan layaknya manusia oleh Tuan Baldwig, tidak dipandang kesalahannya sedikit pun.
“Walaupun salah, tapi tidak sepantasnya kau diperlakukan seperti tadi. Lagi pula, semua sudah berlalu. Aku juga memahami kenapa kau memilih berpisah dengan Bellinda, dibandingkan bertahan.” Tuan Baldwig menepuk pundak mantan menantu seakan memberi tahu kalau ia tidak berpikiran sama seperti istrinya. “Tidak mudah membuka hati, apa lagi pernikahanmu dan putriku bukan dilandasi oleh cinta.”
Arsen menunduk seraya mata terpejam. Hatinya semakin bagaikan diremas-remas karena akhirnya ada yang memahami bagaimana perasaannya dahulu. Mungkin karena mereka sama-sama pria, jadi bisa melihat dari sudut pandang yang sama. “Tapi, sekarang aku menyesal, dan ingin kembali lagi dengan putrimu.” Dia mendongak dan menatap mantan mertua dengan sorot sendu. “Apakah menurumu, aku tidak tahu diri?”
__ADS_1
“Aku mencintainya. Tapi, aku sadar diri kalau tak cukup baik untuk Bellinda. Sementara, sekarang ada pria yang bisa membuat putrimu tidak merasakan pedihnya patah hati seperti saat bersamaku.” Arsen menatap ke arah teras bangunan di mana ada Colvert, Bellinda, dan Steven berdiri di sana. Ketiga orang itu tengah tertawa dan memperhatikan putranya yang sedang asyik memainkan sebuah drone. Sepertinya itu adalah kado yang sempat disinggung sebelum Colvert berlalu pergi bersama Steven.
Tuan Baldwig bisa menangkap guratan sedih di wajah Arsen, lalu beralih mengikuti ke mana arah pandang pria itu. Sekarang dia tahu apa yang membuat sorot mata mantan menantunya berubah sendu. “Apa yang membuatmu berubah pikiran setelah bertahun-tahun berlalu? Cucuku?”
“Awalnya iya karena Colvert. Tapi, ternyata semakin aku dalami perasaan dan lebih dekat dengan Bellinda, putrimu sangat mengagumkan.” Arsen menyudahi memperhatikan tiga orang yang asyik sekali dan nampak seperti keluarga bahagia. Cocok jika dipersatukan. “Aku akan sadar diri, Bellinda bukan milikku lagi. Dan jauh sebelum kedatanganku setelah perceraian, dia sudah mengubur semua cinta yang pernah ku abaikan. Mungkin, memang sebaiknya aku berhenti di sini.”
__ADS_1
Tangan Tuan Baldwig terulur dan memberikan pijatan di pundak Arsen. Dia jelas menangkap penyesalan yang amat dalam dari setiap nada suara yang dikeluarkan, mimik wajah, dan gestur tubuh. “Maju atau mundur, itu terserah denganmu. Aku tidak akan ikut campur masalah percintaan anakku. Tapi, satu hal, aku hanya mengharapkan putri dan cucuku bahagia, entah bersama siapapun itu.” Ia lalu menandaskan kopi yang tersisa sedikit, dan berdiri karena hari mulai malam. “Jika kau berniat memperjuangkan Bellinda, mungkin yang perlu dihadapi adalah mommynya.”