
Bellinda mengamati Arsen dari samping. Meski mata pria itu terpejam, tapi tidak menghilangkan kesan yang tergambar lelah begitu jelas. Rambut berantakan, kemeja dengan tiga kancing atas terbuka, dan kulit yang sedikit berminyak. Menunjukkan kalau sosok tersebut belum sempat tersentuh oleh air. Apa lagi hembusan napas frustasi yang sejak tadi ia dengar.
Ibu satu anak itu jadi merasa bersalah karena lama tidak memberikan kepastian. Bagaimana bisa menjawab kalau mantan suaminya tidak pernah memberikan pilihan ya atau tidak. Arsen selalu memintanya untuk menyetujui kapanpun ketika sudah siap. Tapi sampai detik ini tak pernah keluar kata sepakat dari bibirnya.
Bellinda jadi merasa jahat karena sudah mempermainkan perasaan orang. Tapi, dia masih trauma dengan masa lalu yang kurang menyenangkan. Tidak mau kalau pada akhirnya hanya akan berakhir lagi di kubangan yang sama. Anggaplah ia terlalu takut mengambil risiko karena sebelumnya pernah gagal.
Berkat masa lalu buruk itu juga yang membuat Bellinda tidak pernah mau mencoba menjalin hubungan dengan pria manapun. Baginya sudah cukup bersama Colvert walau bersama anaknya tetap membuatnya selalu teringat dengan Arsen karena wajah keduanya yang sangat mirip.
__ADS_1
Bahkan Steven yang menunjukkan sisi baik dengannya pun tak berhasil mengetuk pintu hatinya. Bellinda merasa tidak terlalu membutuhkan sosok pria karena sendiri pun bisa melakukan semuanya.
“Jangan mencintai siapapun, Bel. Setidaknya kalau kau tak lagi memiliki rasa padaku, jangan berikan hatimu pada yang lain. Kalau memang tak ingin menikah lagi denganku, tolong selamanya terus sendiri. Aku pun akan tetap single.” Arsen mengenyahkan keheningan yang sempat terjadi di dalam sana.
Pria itu kembali membuka mata dan menatap jandanya. Kali ini tatapannya lebih tenang, tidak menyiratkan amarah seperti tadi. “Jika tak ingin berkomitmen denganku, maka kita jalani seperti sekarang. Sama-sama sendiri dan merawat Colvert bersama tanpa ikatan.”
Mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi. Kalau Arsen bisa melihat masa depan, maka hal yang pertama kali akan diubah dan sesali adalah saat perceraiannya dengan Bellinda. Tapi, nyatanya tak ada yang bisa dikembalikan lagi. Cinta di hati mantan istrinya seperti telah punah terkubur oleh waktu.
__ADS_1
“Please,” mohon Arsen sekali lagi karena sejak tadi belum juga mendapatkan jawaban dari Bellinda.
“Aku tak pernah mencintai siapapun setelah bercerai denganmu. Bahkan termasuk dengan kau. Cintaku kini hanya untuk Colvert dan cukup padanya ku berikan seluruh hidup.” Bellinda menjelaskan secara tegas walau dibalut nada bicara lembut.
Sebenarnya ada kebohongan yang ditutupi oleh wanita itu. Selama dan sedalam apa pun Bellinda berusaha mengubur cintanya pada Arsen, nyatanya kehadiran mantan suaminya tetap berhasil menggetarkan jiwa, membangkitkan hasrat yang tidak pernah dirasakan oleh siapa pun kecuali pria itu. Hanya saja kali ini ia bisa mengendalikan segalanya supaya tidak terlalu jelas kalau masih memiliki rasa.
Bagaimana bisa lupa kalau setiap hari, jam, menit, dan detik yang dilewati selalu disuguhkan oleh copyan Arsen dalam versi mungil? Mulai dari wajah dan sifat juga cenderung banyak menurun dari mantan suaminya. Jadi, mau berusaha bagaimanapun, dia gagal mengubur segala kenangan menyakitkan yang pernah ada.
__ADS_1