
Mata Bellinda masih membelalak kala merasakan tangannya dituntun dan dipaksa untuk memegang sesuatu yang keras. Dia tidak sepolos itu untuk tak memahami situasi saat ini. Menelan ludah sesamar mungkin karena dadanya berdebar.
Bellinda memang tahu dan sering tak sengaja mengamati kalau bagian pangkal paha mantan suaminya pasti menonjol saat sedang berada di dekatnya. Selama ini ia hanya pura-pura tak tahu saja dan tak menegur karena enggan membuat pria itu malu kalau ketahuan.
Namun, siapa yang menyangka kalau ternyata orang yang bersangkutan justru memberi tahu secara terang-terangan. Bellinda tidak siap. Dia pernah ditinggalkan setelah Arsen menikmati tubuhnya. Walau itu juga keinginannya, tapi tak menyangka saja tetap diceraikan setelah diberikan kenikmatan surga dunia.
Ya, tujuh tahun silam, saat pertama kali kedua tubuh mereka yang tanpa busana bertemu, Arsen dan Bellinda saling menikmati setiap alunan rasa yang dilakukan dengan berbagai gaya. Ketika itu hanya sang wanita yang memiliki cinta untuk suami yang begitu didambakan. Si pria selalu mengatakan tidak ada perasaan apa pun, tapi ketika bersetubuh tetap saja bagaikan dua insan yang saling mencinta dan terbakar oleh gairah.
Bellinda menggeleng, menarik kuat tangannya. Dia tidak mau kalau pada akhirnya setelah memuaskan lalu ditinggalkan. Mungkin peristiwa terdahulu membuatnya semakin waspada.
__ADS_1
Arsen mendesah kecewa. Seandainya ia bisa menjinakkan sendiri pun pasti dilakukan tanpa meminta bantuan Bellinda. Tapi, sayangnya, kejadian seperti itu sangat sulit diselesaikan seorang diri. Dia pernah mencoba beraksi dengan tangannya, yang ada justru lelah dan lemas karena tak kunjung kembali ke bentuk semua.
Milik Arsen juga tak tahu diri, bahkan dia pun merutuki hal itu karena selalu bergairah walau Bellinda tidak melakukan apa pun. Memang otaknya yang sudah kacau karena terlalu ingin memiliki jandanya dari ujung kaki hingga kepala.
“Kalau begitu, ku pinjam tanganmu, sebentar saja. Aku perlu mengembalikan ke posisi semula.” Arsen mulai bernegosiasi, wajahnya begitu mengiba.
Bellinda menghela napas dengan mata terpejam. Menimbang untuk menolak atau menerima tawaran. Dia kembali menatap wajah mantan suami yang sangat kacau, lelah, bahkan jauh dari kata sempurna seperti dahulu kala. Pada akhirnya kepala pun mengangguk pelan karena merasa kasihan. “Hanya tangan.”
Bellinda memalingkan wajah ke jendela saat pria itu mulai menurunkan ritsleting celana. Dia bisa merasakan telapak menggenggam sesuatu yang pas sekali dengan lingkaran tangannya. Ia memejamkan mata kala suara erotis mulai keluar dari bibir mantan suaminya.
__ADS_1
Untunglah kaca mobil itu gelap dan tak bisa dilihat dari luar. Jadi, tak mungkin ada yang tahu apa yang sedang terjadi.
Bellinda mencoba menekan gairahnya yang juga mulai merayap. Sebisa mungkin mengabaikan area bawah sana yang tanpa permisi ikut berkedut.
Mau menampik bagaimanapun, tubuh pasti akan merespon dengan semestinya ketika dalam situasi yang membangkitkan hasrat. Salah Bellinda juga karena menyepakati negosiasi Arsen. Sekarang dirinya yang ikut tak bisa tenang.
Sepolos apa pun seseorang, pasti kalau sudah menyangkut hubungan yang bisa membawa melayang, pastilah ada area-area yang bereaksi untuk menginginkan lebih. Apa lagi Bellinda bukan wanita polos lagi. Dia punya anak satu, tentu saja tahu apa yang diinginkan saat ini.
Bellinda sampai menelan saliva saat tubuhnya kian gelisah. Beberapa kali menggerakkan posisi duduk untuk mencari yang paling nyaman. Menahan gejolak di bawah sana yang semakin kurang ajar ingin mendapatkan sentuhan.
__ADS_1
Tanpa Bellinda sadari karena sejak tadi memalingkan wajah, Arsen menyeringai. Pria itu mendekatkan bibir ke telinga mantan istrinya, lalu berbisik. “Yakin tidak mau check in?”