Buried Love

Buried Love
Part 66


__ADS_3

Arsen tercengang mendengar pertanyaan putranya. Ia sampai mendiamkan masakan untuk sesaat. Bagaimana bisa anak sekecil itu berpikiran hal yang tidak semestinya? Siapa yang memberi beban seberat itu sampai bisa terbesit perasaan menjadi anak yang tidak diinginkan? Dia yakin, pasti Colvert mendengar dari seseorang. Seusia enam tahun tentulah belum mengetahui apa pun kecuali hal yang pernah dilihat dan didengar.


Siapapun yang mendoktrin anakku hingga berpikiran seperti itu, jahat sekali. Colvert masih anak-anak dan tidak sepantasnya mendapatkan beban mental yang menyakitkan. Arsen merasa geram di dalam hati. Dia yakin kalau semua itu adalah ulah Nyonya Baldwig. Bellinda dan mantan mertua yang satunya tidak mungkin berbicara hal yang menyakitkan.


Arsen menghembuskan napas, lalu mematikan kompor sebelum masakannya gosong dan tidak bisa disantap untuk sarapan. Dia mengambil dua piring dan mengisi dengan pasta yang semoga saja enak karena ia sendiri jarang berkutat di dapur.


Sembari membawa sarapan menuju meja makan, Arsen mengamati mimik wajah Colvert yang sejak tadi tidak lepas menatapnya, seolah menanti jawaban. Meletakkan dua piring, si duda kemudian berjongkok di hadapan putranya.

__ADS_1


Arsen menggenggam tangan kecil itu, posisi kepala sedikit mendongak supaya bisa menikmati ekspresi putranya dengan jelas. Sekaligus agar Colvert melihat setiap kesungguhan yang digambarkan dari sorot matanya.


“Colvert ... jika kau bukan anak yang Daddy harapkan, untuk apa aku repot-repot pindah ke Amsterdam? Bolak balik ke Helsinki, sementara aku bisa tetap tinggal di negaraku.” Arsen mengajak putranya untuk berpikir dan mengingat kalau perjuangannya sampai di titik sekarang itu tidaklah mudah atau sederhana.


“Karena kau tidak bisa memiliki anak dengan wanita lain.” Colvert hanya menjawab sesuai apa yang pernah ia dengar dari percakapan Mommy dan Granny. Kepala menunduk lesu dengan wajah diliputi kesedihan. “Dan kau butuh pewaris, maka dari itu mencoba mendekati aku dan Mommy.”


“Daddy tidak pernah mencoba membuat anak lagi dengan wanita lain. Bukan berarti tidak bisa, tapi memang aku yang tak ingin.” Arsen menuntun telapak kecil itu untuk menyentuh rahang tegas yang ditumbuhi oleh bulu-bulu kasar. “Percaya padaku, kau adalah anak yang sangat diharapkan. Meski kedatanganku terlambat, tapi aku selalu berusaha untuk membayar setiap waktu yang terlewat. Bukan sekedar melalui pertemuan kita, tapi juga rasa bersalah yang tidak pernah bisa dihilangkan begitu saja.”

__ADS_1


Ada air yang mendesak mata Arsen untuk meluncur keluar. Dia tidak kuasa menahan itu, dibiarkan pipinya tercetak sebuah garis basah. Selama ini ia selalu menahan kesedihan atas kesalahan dan kebodohannya di masa lalu. Tapi, kini dibiarkan begitu saja. Biarlah dianggap cengeng oleh anak sendiri, supaya Colvert tahu kalau dirinya juga merasakan sakit akibat belenggu diantara mereka.


Dua tangan Colvert terulur membersihkan setiap bulir basah yang terus menetes. “Jangan menangis, Daddy. Aku tidak mau melihat orang tuaku bersedih.”


Bukannya menghentikan aliran anak sungai, Arsen justru semakin tersedu akibat rasa haru. Dia menumpukan kedua lutut di lantai supaya bisa setengah berdiri. Merengkuh tubuh putranya dalam dekapan. “Aku sangat menyayangimu, Colvert. Percaya, kan?”


Bocah itu mengangguk. “Iya, Daddy.”

__ADS_1


“Bahkan perasaanku sangat sakit dan sedih saat mendengar pertanyaanmu yang berpikir kalau kau bukan anak yang diharapkan. Jangan pernah mengingat kalimat itu, ya? Bagaimanapun kondisi Mommy dan Daddy sekarang, walau tidak tinggal bersama, kami tetaplah menyayangimu, akan memberi semua perhatian dan kasih yang penuh.” Arsen menangkup dua pipi Colvert, lalu menyatukan kening mereka. “Kau itu berharga, lebih dari apa pun yang aku punya.”


__ADS_2