Buried Love

Buried Love
Part 54


__ADS_3

“Mom, coba sekali saja gunakan hati, jangan terus mengedepankan logika. Terkadang, nurani juga perlu diperhitungkan untuk mengambil sebuah keputusan.” Bellinda mungkin manusia paling bodoh di muka bumi ini. Sudah dijelaskan segala kemungkinan yang masuk akal, tapi tetap saja bebal.


“Tidak. Kali ini cukup. Aku tidak mau lagi menuruti keinginanmu.” Nyonya Baldwig mengambil jarak, melepaskan tangan yang sejak tadi menggenggam putrinya. “Minggu depan kau harus pulang ke mansion untuk bertemu Everest dan keluarganya.” Suaranya tak lagi lembut, tapi tegas. Pertanda tidak mau dibantah.


“Mom ....” Bellinda hendak mengajukan protes dan penolakan. Tapi sudah dipotong terlebih dahulu oleh mommynya.


“Apa? Mau menolak? Lihat akibat dari kau memilih sendiri, jadinya seperti apa? Kacau semua kehidupanmu, kan? Dari keinginanmu yang mau menikah dengan seorang pria yang kau taksir karena menolongmu saat masih kecil, Arsen Alka. Aku sudah membantu hingga merencanakan perjodohan delapan tahun silam. Nyatanya apa? Hidupmu berantakan setelah itu.” Nyonya Baldwig menghembuskan napas untuk mengusir penat.

__ADS_1


“Tolong, kali ini saja, turuti keinginan Mommy. Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu dan Colvert. Semua kemauanmu sudah ku berikan. Memberi nama cucuku satu-satunya dengan akhiran keluarga Alka, padahal seharusnya Colvert adalah bagian dari Baldwig. Membiarkanmu pontang panting membangun bisnis restoran cepat saji, sementara aku dan daddymu banting tulang sejak dahulu demi memberikan kehidupan untukmu supaya tidak kesusahan.” Jemari Nyonya Baldwig mengusap area bawah mata yang sudah meluncurkan air.


Bellinda menundukkan kepala karena ia tidak bisa memberikan pembelaan apa pun. Benar, perjodohan bersama Arsen Alka adalah idenya, dia yang menyukai pria itu terlebih dahulu. Padahal saat itu mommynya hanya menunjukkan deretan foto laki-laki yang merupakan anak rekan bisnis. Lalu ia yang mencetuskan ide supaya mempersatukan dengan Arsen.


“Aku sudah mencari tahu tentang Everest. Dia pria yang baik dan terutama bisa menerima kau apa adanya. Aku yakin kalau kalian akan saling suka.” Nyonya Baldwig menepuk paha Bellinda. “Aku mau istirahat dulu, pinjam kamarnya.” Tubuhnya lekas berdiri meninggalkan sang putri.


Tanpa Bellinda dan Nyonya Baldwig ketahui, Colvert mendengar semua pembicaraan. Pintu kamar bocah itu tidak tertutup rapat, sehingga memudahkan suara untuk masuk ke dalam karena jarak sofa dan keberadaan Colvert tidak jauh. Namun, sejak tadi ia memang terlihat asyik sendiri dengan mikroskop mini, akan tetapi telinga tetap menyimak obrolan Mommy dan neneknya.

__ADS_1


Satu minggu ini Arsen rasanya sulit sekali bertemu dengan anak dan mantan istri. Biasanya pagi sudah ada suara bocah menendang pintu, lalu minta untuk diantar sekolah dengan arogan. Tapi, tujuh hari penuh tak ada gelak tawa, ocehan, dan ucapan yang memantik perdebatan dengannya.


Setiap Arsen berkunjung ke unit sebelah pun selalu kosong. Baik saat pagi sebelum ia berangkat ke bandara, atau malam setelah pulang dari bandara.


Duda satu itu mendadak gusar. Dia mengusap wajah kasar karena merindukan Colvert dan Bellinda. “Ke mana mereka pergi? Di hubungi juga tidak bisa,” gumamnya bingung sendiri.


Arsen menopang kepala menggunakan tangan yang sikutnya berada di lengan sofa. “Apa aku membuat kesalahan dengan mereka, sampai pergi tanpa kabar?”

__ADS_1


“Haish ....” Arsen mengacak-acak rambut kasar. Kalau baik-baik saja keadaan Bellinda dan Colvert tak masalah. Tapi, sejak tadi gelisah karena takut jika terjadi hal buruk yang membuatnya risau.


“Jangan-jangan mantan mertuaku yang sengaja membawa mereka pergi supaya menjauh dariku?” Ada kepalan tangan berisi amarah. Terakhir kali berpisah dengan Colvert dan Bellinda adalah saat pulang dari berkemah, kondisi itu masih baik-baik saja, tak ada pertengkaran apa pun. Kecuali ... tatapan tak suka dari Nyonya Baldwig yang dilayangkan secara terang-terangan, membuatnya yakin kalau dalang dibalik hilangnya anak serta mantan istri adalah mantan mertuanya.


__ADS_2