Buried Love

Buried Love
Part 70


__ADS_3

“Ayo siap-siap, hari ini kita akan ke butik untuk fitting gaun pengantin,” ucap Nyonya Baldwig saat membuka pintu kamar Colvert dan melihat Bellinda sedang membantu cucunya bersiap berangkat sekolah.


Bellinda mengerutkan kening seakan menunjukkan rasa bingung. “Gaun?” Ini baru dua minggu setelah makan malam saat itu. Dia tidak menyangka kalau akan dinikahkan secepat itu. Bukan, maksudnya ... persiapannya tak berselang lama dari ia menyetujui perjanjian dengan sang Mommy.


“Iya, bulan depan kau dan Everest akan menikah. Undangan sudah ku urus bersama calon mertuamu, sekarang dalam proses cetak.”


“Ha?” Bellinda sampai menganga tak percaya. Cepat sekali, dia pikir masih ada kesempatan untuk berbicara dengan Steven supaya pria itu yang mengakhiri perjodohan. Sebab, kalau ia yang meminta orang tuanya mundur, pasti si Mommy akan menentang habis-habisan dan entah doktrin apa lagi yang kemungkinan dicemarkan pada otak Colvert. Tapi, apa ini? Waktu pernikahan pun sudah ditentukan, undangan juga? “Kenapa secepat itu?” Pertanyaan yang lebih cocok sebagai protes dalam nada pelan.

__ADS_1


“Lebih cepat justru semakin baik,” jawab Nyonya Baldwig santai. Dia berjalan masuk ke dalam kamar Colvert dan mengulurkan tangan pada sang cucu untuk digandeng. “Ayo, Granny antar ke sekolah.”


Namun, Colvert melengos. “Ada supir,” ketusnya. Dia mengambil tas yang tergeletak di atas ranjang. Tanpa peduli wajah sang nenek yang nampaknya menahan kesal karena penolakannya, bocah itu tetap berlalu pergi meninggalkan Mommy dan Granny.


Nyonya Baldwig menatap kepergian Colvert dengan mata sinis tak suka dengan tingkah laku cucu satu-satunya itu. Baru pertama kali ini ia diabaikan. “Lihatlah kelakuan anak itu. Setelah bertemu Arsen jadi berubah, pasti dia menghasut cucuku untuk menjadi pembangkang.” Tetap saja yang disalahkan adalah mantan menantu. Rasa benci yang menjalar di hati sudah sampai tahap akut hingga tak mampu berpikir positif tentang orang yang bersangkutan.


“Mom ... jangan selalu menyalahkan mantan suamiku. Dia sudah berubah, bukan Arsen yang mengabaikan aku.” Namun Bellinda berusaha supaya tak menjelekkan daddynya Colvert.

__ADS_1


Deheman dari suara yang terdengar berat itu membuat Nyonya Baldwig dan Bellinda menengok ke arah pintu. Di sana sudah berdiri si Tuan pemilik mansion.


“Apa pantas orang tua mengajarkan anaknya untuk menjadi pribadi yang buruk? Pendendam, pemarah, tidak bisa memaafkan? Kalau sifat seperti itu yang kau inginkan dari Bellinda, lalu apa bedanya anak kita dengan orang yang sudah menyakitinya?” Tuan Baldwig bergeleng kepala sembari berdiri tegak di ambang pintu. Sejak tadi ia diam-diam mendengarkan ocehan sang istri yang semakin didiamkan ternyata kian menjadi-jadi.


“Arsen pantas mendapatkan semua itu. Apa kau tak ingat saat Bellinda melahirkan? Bagaimana dia mempertaruhkan segalanya? Aku ... sakit hati dan tak rela kalau mereka kembali. Tidak ada kesempatan untuk pria itu memulai segalanya, meski sudah menyesal.”


Pagi hari bukannya diawali dengan yang baik-baik dan segar, tapi mansion Baldwig justru penuh dengan adu mulut.

__ADS_1


Tuan Baldwig sampai bergeleng kepala. Istrinya dahulu tak seperti itu. Bukan tipe pendendam, bahkan cenderung berhati baik. Tapi, semenjak kejadian perceraian Bellinda dan Arsen, dia sekarang baru tahu kalau istrinya memendam rasa kesal yang tidak pernah diutarakan. Jadilah sekarang meledak-ledak saat mantan menantu kembali muncul dalam kehidupan putri mereka, bagaikan bom yang ditimbun bertahun-tahun.


“Tidak ada balas dendam yang paling baik kecuali memaafkan dan berdamai dengan masa lalu. Hidup kita akan lebih tenang jika tak mengedepankan penyakit hati,” nasihat Tuan Baldwig. Ya ... semoga saja istrinya paham dengan kalimat yang sudah disusun sesederhana mungkin.


__ADS_2