Buried Love

Buried Love
Part 42


__ADS_3

Ucapan Arsen semakin lama melantur terus. Membuat Bellinda kadang sampai malu mendengarnya karena berhasil membuat wajah bersemu. Walaupun memang benar kemarin sempat terpancing gairah, tapi tidak seperti apa yang dituduhkan oleh mantan suami juga.


Terlalu gemas dengan pria itu, Bellinda pun melayangkan cubitan di perut. “Kalau bangun tidur itu cuci muka, bukannya menggoda tetangga.”


Sepuluh bulan selalu bertatap muka dengan interaksi yang berbeda, membuat keduanya tidak sekaku saat awal bertemu setelah sekian lama cerai. Kini sedikit lebih mencair dan terasa ada kehangatan.


Arsen terkekeh, bukannya mengaduh. Pria itu justru menarik tangan Bellinda yang masih mencubit kecil perutnya. Membawa jandanya masuk ke dalam dekapan dan melewati pintu hingga otomatis tertutup rapat apartemen itu.


“Baru bangun itu dicium, dipeluk, disayang,” bisik Arsen. Semakin hari tambah meresahkan saja duda satu itu. Tidak gentar untuk mengambil hati mantan istri dengan godaan yang kini semakin terang-terangan dan lebih berani.


Kepala Bellinda tepat sekali di dada mantan suami. Telinga yang mendempel di rusuk pun bisa mendengar ada debaran jantung yang berirama beda. Ternyata keduanya memiliki ritme detakan yang sama.


Kali ini Bellinda tak merasakan suhu tubuh panas atau sesuatu yang menusuk di bawah, mungkin Arsen belum mulai on. Jadi, selagi masih status siaga, dia lekas mendorong dada bidang supaya melepaskannya.


Arsen menghembuskan napas kecewa, belum puas memeluk jandanya yang ternyata sangat nyaman sekali. Seandainya tahu dari dulu, pasti tidak akan diceraikan.


Pemikiran itu lagi, itu terus, sudah terlambat wahai otakku yang katanya pintar tapi bodoh juga! Percuma berandai-andai, sekarang saatnya mencari cara supaya bisa mendapatkan jandaku lagi! Sempat-sempatnya Arsen berperang dengan pikiran sendiri.

__ADS_1


Duda satu itu berusaha berdiri tegak dan menatap Bellinda yang sepertinya ingin berbicara sesuatu.


“Kita bisa serius sebentar, tidak?” tanya Bellinda.


“Aku sudah serius sejak mengajakmu untuk menikah lagi,” jawab Arsen.


Bellinda mencebik, benar-benar tak aman berkomunikasi dengan Arsen. Ada saja kelakuan pria itu yang bisa membuatnya berdebar dan ingin meruntuhkan benteng pertahanan yang sekuat tenaga masih dijaga supaya tetap kokoh.


Namun, Bellinda berusaha tetap waras dan berada di jalannya. “Aku sudah bicara tentang ajakanmu jalan-jalan di hari ulang tahun Colvert. Tapi, dia ingin camping di hutan.”


“Masalahnya adalah aku tidak punya peralatan apa pun untuk berkemah.”


“Gampang, kita beli saat perjalanan.”


“Aku juga tidak bisa mendirikan—”


Arsen langsung membalikkan tubuh mantan istri supaya menghadap pintu. “Tak perlu dipikirkan, aku bisa semuanya. Sekarang kau pulang, sebelum anak kita menendang pintuku saat mendapati mommnya tidak ada di dalam apartemen.”

__ADS_1


Bellinda pun keluar, Arsen melepaskan wanita itu begitu saja karena ada kesempatan lain yang lebih menyenangkan kalau mereka jadi camping bertiga, di hutan pula.


...........


Arsen, Bellinda, dan Colvert sudah berada di dalam mobil. Mereka juga telah membeli perlengkapan untuk kemah secara dadakan.


Bellinda sejak tadi hanya diam mendengar dan mengamati interaksi mantan suami dengan anaknya yang tak berhenti saling mengutarakan pendapat tentang apa saja yang akan dilakukan saat berkemah nanti.


Terlihat sekali ada kedekatan antara Daddy dan anak, seolah keduanya tidak pernah berpisah lama. Semakin lama tak ada suara Colvert lagi. Ternyata sudah tertidur saat Bellinda melihat ke belakang.


Bellinda merasa memiliki keluarga kecil jika seharmonis itu. Rumah tangga yang sangat ia idamkan sejak dahulu. Tapi, apa iya kalau mereka menikah akan terasa sama hangatnya seperti sekarang? Atau justru sebaliknya? Pikiran-pikiran negatif itu sulit sekali dienyahkan.


“Em ... Arsen,” panggil Bellinda lirih.


“Ya?” Pria itu melirik sebentar, lalu fokus ke jalan lagi.


“Sebenarnya apa yang membuatmu ingin kita kembali menikah? Karena anak kita, gairah semata, atau cinta?”

__ADS_1


__ADS_2