
Satu bulan terakhir Arsen berusaha keras untuk menemui mommynya Bellinda. Seperti keinginan sang mantan yang mau menikah kalau sudah mendapatkan restu, maka ia tak pernah gentar mendekati Nyonya Baldwig yang sampai detik ini masih tidak mau menemuinya.
Tiap kali Arsen datang ke mansion orangtua Bellinda, mantan mertua yang wanita tak pernah mau menemui. Mungkin memang terlalu membenci atau sudah tahu kalau salah satu pembuat onar gagalnya pernikahan Bellinda dan Steven adalah dirinya? Entahlah, yang penting sekarang ia cukup mendekati Nyonya Baldwig dan mengambil hati serta kepercayaan lagi.
“Istriku pergi dengan teman-teman sosialitanya. Biasa kalau libur pasti mereka berkumpul,” ucap Tuan Baldwig saat Arsen datang ke mansion.
Saking rutinnya kedatangan si duda dengan tujuan yang tidak pernah berubah, Tuan Baldwig sampai langsung memberi tahu keberadaan sang istri sebelum ditanya oleh Arsen.
“Apa kau tahu tempatnya?” tanya Arsen. Dia telah mendapatkan restu dari mantan mertua yang kini ada di hadapan mata itu. Jadi, tugasnya hanya tersisa satu.
__ADS_1
Tuan Baldwig menyebutkan nama tempat, sebuah lounge di hotel bintang lima. Arsen pun lekas pamit dan mengatakan kalau ia akan menyusul ke sana. Selalu mendapatkan dukungan dan semangat tiap kali terlihat berjuang meluluhkan hati seorang ibu yang sakit hati terhadap mantan menantu.
Tanpa basa basi, Arsen segera melajukan kendaraan ke lokasi keberadaan Nyonya Baldwig. Berjalan cepat menuju lounge yang mana adalah posisi keberadaan orang yang ia cari.
Kedatangan Arsen diketahui oleh orangtua Bellinda. Dia merasakan kalau ada sepasang mata yang melirik. Namun, tidak mengacau pertemuan sepuluh ibu-ibu sosialita yang tengah berbincang seru. Cukup duduk dan mengamati sembari menanti mereka semua selesai, barulah akan didekati.
Arsen memesan cappuccino sebagai peneman. Sesekali mengeluarkan ponsel untuk bertukar pesan pada Bellinda yang ingin tahu tentang progress serta apa yang ia lakukan hari ini.
Segera memasukkan ponsel ke dalam saku ketika satu persatu wanita paruh baya nampak pergi. Sebelum Nyonya Baldwig menghindarinya, tubuh tegap terbalut pakaian casual itu lekas berdiri dan menghampiri.
__ADS_1
“Maaf, mengganggu, bisa kita bicara sebentar, Nyonya Baldwig?” Arsen sengaja meminta di depan kumpulan sosialita tersebut. Pasti tidak mungkin akan ditolak karena tak ingin dianggap angkuh serta sombong.
Nyonya Baldwig terlihat mengepal, meremas tas yang ada di tangan. Semua mata tengah tertuju padanya, seakan penasaran dan menanti jawaban dari mulutnya. “Oke, aku hanya ada waktu sebentar.” Dia ingin menolak, tapi sudah pasti teman-temannya akan banyak tanya.
“Bagus ... berdamailah dengan masa lalu anakmu.” Salah satu teman Nyonya Baldwig mengecup pipi kanan dan kiri sebagai salam berpisah. Mereka semua tahu Arsen karena saat pernikahan dahulu juga hadir sebagai tamu. Jadi, kurang lebih permasalahan juga tahu.
“Kami pergi dulu kalau begitu.”
Arsen hanya diam sembari mengulas senyum saat ia dipamiti juga. Kini tersisa Nyonya Baldwig seorang yang masih melengos dan enggan menatapnya.
__ADS_1
“Mau bicara di sini atau duduk?” tawar Arsen. Ia berusaha menjadi sosok yang ramah dan mengikuti kemauan mantan mertua.
Nyonya Baldwig tidak menjawab. Kaki terbalut heels setinggi lima centimeter itu langsung menjejak lantai menuju kursi yang beberapa saat lalu ditinggalkan. Arsen mengikuti di belakang.