
Dua manusia itu masih menikmati hembusan angin yang tidak begitu dingin karena kini Arsen dan Bellinda sedang saling berpelukan. Baru pertama kali si janda mau membalas melingkarkan tangan tanpa diminta atau dipaksa. Namun, mereka berakhir dengan si pria merangkul dengan kepala wanita bersandar di bahu. Jarak begitu tipis sehingga terlihat sangat mesra.
“Thanks for today. Kau sudah membuat ulang tahun Colvert indah. Aku belum pernah melihat anak itu tersenyum dan nampak sangat bahagia seperti tadi,” ucap Bellinda dengan sangat tulus.
“Kalau mau berterima kasih padaku jangan pakai ucapan.”
Jawaban itu membuat kening Bellinda mengerut. “Lalu?”
“Ya ... tahu sendirilah pria butuh apa,” kode Arsen seraya mengacak-acak rambut Bellinda.
Bellinda berdecak dan menjauhkan kepala supaya berhenti bersandar. “Kenapa pembicaraanmu selalu tentang hal-hal berbau intim,” omelnya.
“Bukan itu maksudku, Bel. Aku butuh kepastian, kapan kau mau menikah lagi denganku? Pikiranmu selalu saja buruk tentangku.” Arsen menatap jandanya yang mulai menundukkan kepala.
__ADS_1
Rasanya Bellinda malu sekali sudah menuduh Arsen tentang hal yang tidak semestinya. Entah kenapa pikirannya selalu saja negatif kalau tentang pria itu. “Maaf,” ucapnya karena merasa bersalah. “Aku masuk dulu, ngantuk,” pamitnya kemudian.
Untuk mengakhiri obrolan yang terdengar sangat serius, Bellinda memilih menghindar. Hatinya memang masih ada rasa untuk mantan suami, tapi kepercayaan sepertinya belum seratus persen.
Arsen menghembuskan napas dan membiarkan jandanya masuk terlebih dahulu. “Ternyata untuk mendapatkan kepercayaan itu sulit,” gumamnya.
Tak berselang lama, Arsen juga ikut ke dalam tenda karena hari mulai menunjukkan tengah malam. Ada sisi kosong di samping kanan Colvert. Tapi, ia justru memilih untuk berbaring miring di belakang punggung Bellinda.
Arsen pikir jandanya sudah tidur, jadi ia langsung memeluk dan mencium pundak Bellinda. Tapi, ternyata wanita itu menggeliat seolah merasa geli.
“Kenapa di sini? Sebelah Colvert masih luas,” protes Bellinda. Suaranya berbisik lirih supaya tak mengganggu tidur putranya.
“Enak sambil memelukmu, hangat,” jawab Arsen sangat santai. Dia bisa mendengar ada hembusan napas pasrah yang dikeluarkan oleh Bellinda.
__ADS_1
“Jangan aneh-aneh,” peringat Bellinda.
Janda satu itu harus waspada karena posisi mereka terlalu dekat dan intim. Tidak berjarak sedikit pun. Apa lagi tangan Arsen bisa saja nakal dengan bergerilya ke mana-mana, terutama area terlarang yang amat sensitif oleh sentuhan.
“Aku tak akan aneh-aneh, hanya ... gesek sedikit saja.” Arsen menggigit kecil punggung Bellinda.
“Tidur, ya tidur. Jangan lakukan yang lain.” Sebab Bellinda tak yakin bisa menahan suara-suara aneh supaya tidak keluar dari mulut seandainya pria itu sungguh melakukan hal yang tadi disebutkan.
“Iya ....” Akhirnya Arsen mengalah. Tapi dia juga tak berusaha menjauhkan diri. Biarlah nanti miliknya bertransformasi. Namun udara dingin nampaknya membuat tegangan gairah tak sependek biasanya.
“Em ... Bel?”
“Ya?”
__ADS_1
“Apa kau tak ingin mewujudkan doa Colvert tadi? Dia berharap memiliki keluarga, dan kita bersatu. Aku tak keberatan untuk membuat semuanya jadi kenyataan.” Memang si duda satu itu selalu menggunakan metode pepet terus sampai pelaminan.
Arsen memutar posisi tidur Bellinda supaya mereka bisa saling beradu pandang. Ia menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik jandanya. Jemari tak kuasa untuk tidak mengusap pipi. “Apa usahaku menggali cintamu yang sudah dikubur masih belum berhasil? Sedalam apa kau mengubur perasaan itu?”