
Terangnya cahaya dari lampu memenuhi ruang makan. Membuat semua yang tengah duduk di sana begitu mudah menikmati wajah satu sama lain ketika berpandangan. Satu pun tak ada yang memasang mimik muram, tampak cerah dengan ketampanan dan kecantikan yang dimiliki sejak lahir.
Bellinda berada di hadapan Steven, bersebelahan dengan Mommy dan putranya. Dia selalu membalas setiap kali pria itu mengulas senyum, tidak ada alasan untuk cemberut juga.
Beberapa kali Steven mengambilkan lauk untuk Bellinda dan Colvert. Itu bukan kebiasaan yang baru terjadi hari ini, tapi sudah sering saat mereka tengah makan bersama.
Para orang tua yang paling senang melihat betapa teduh pemandangan di depan mata. Steven nampak perhatian.
“Kalian sudah lama kenal, ya?” tanya Nyonya Baldwig. Makanan di piringnya belum habis, tapi ia gatal sekali ingin membuka obrolan.
“Iya, sekitar dua tahun lebih,” jawab Steven. Setelah memusatkan pandangan pada orang yang mengajak bicara, ia lalu beralih menatap Bellinda. “Aku yang lebih dulu menyukai putrimu,” akunya. Kemudian berganti mengisi kornea dengan si kecil yang amat pintar. “Dan ... tentu Colvert juga. Mereka adalah satu kesatuan yang tidak pernah bisa dipisahkan atau dicintai salah satunya saja.”
__ADS_1
“Daddy Steven sampai pindah ke unit samping tempat tinggalku. Supaya lebih dekat dan mudah kalau mengantar ke sekolah, sekaligus main bersama.” Colvert ikut menimbrung dengan menceritakan bagaimana baiknya pria itu. Tidak ada alasan untuk membenci juga, karena memang sejak dahulu sudah dekat. “Aku sering dibelikan mainan, bagus.”
Para orang tua terkekeh mendengar cerita Colvert yang sangat antusias. Mereka sudah melihat kedekatan di sana. Apa lagi Nyonya dan Tuan Baldwig yang paling lega karena Everest atau Steven terlihat tulus mencintai Bellinda beserta anak.
Sementara Bellinda lebih banyak diam di sana. Wanita itu cukup tersenyum dan sesekali bicara kalau ditanya.
“Colvert suka dengan Uncle Everest?” tanya Tuan Baldwig.
Yang ditanya pun menganggukkan kepala. “Tentu, dia sudah ku anggap seperti Daddy sejak dahulu. Baik, penyayang, sering membelikan apa yang aku inginkan. Ya ... pokoknya tidak ada alasan aku tak menyukai Steven.”
“Kalau Bellinda. Apa kau menyukai putraku?” Kini berganti Nyonya Dane yang mengajukan pertanyaan pada si janda.
__ADS_1
Jemari-jemari lentik milik Bellinda sengaja disembunyikan di bawah meja. Ia tengah menarungkan jempol, pertanda gugup bercampur takut serta keraguan. Namun, bibir tetaplah terus tersenyum cantik.
Semua mata kini tertuju pada Bellinda. Tak ada satu pun yang luput dari rasa penasaran.
“Em ... aku seorang janda, beranak satu.” Bellinda mau mengingatkan sekali lagi karena kondisi itu belum tentu semua bisa menerima. Mungkin Steven bisa, tapi bagaimana dengan Tuan dan Nyonya Dane?
“Oh ... kami sudah tahu, dan tidak masalah. Yang terpenting adalah kalian saling suka, nyaman, bisa menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain.” Nyonya Dane terlihat tak keberatan, begitu juga dengan suaminya.
Dari mimik wajah semuanya pun bisa disimpulkan bahwa tidak ada hambatan dalam mempersatukan Bellinda dan Steven. Restu ada, orang tua setuju, Steven baik dan menerima kondisi Bellinda apa pun itu. Seharusnya si janda tidak perlu ragu dengan jawabannya. Tapi, entah kenapa ada yang mengganjal di hati, seperti sesuatu yang sulit untuk dienyahkan begitu saja.
“Em—” Baru bergumam sedikit, ucapan Bellinda harus terpotong oleh pelayan yang tiba-tiba masuk.
__ADS_1
Semua mata tertuju pada pelayan itu, seorang wanita berseragam khas pegawai mansion Baldwig. Tengah berdiri dengan posisi sedikit membungkuk hingga kepala ada di antara Tuan dan Nyonya Baldwig. Rencananya mau berbisik, tapi suara lirih itu tetap bisa didengar oleh yang lain.
“Ada pria bernama Arsen Alka di depan, masih ditahan oleh penjaga. Dia tidak mau pergi sebelum bertemu dengan Nona Baldwig dan Tuan Muda.”