Buried Love

Buried Love
Part 51


__ADS_3

Meski membenci mantan menantunya, namun Nyonya Baldwig tetap bisa mengontrol emosi dengan baik. Orang tua Bellinda itu tidak langsung memberikan tatapan horor saat bertemu Arsen yang entah bertujuan apa dan dari mana sampai bisa datang bersama anak dan cucunya.


“Granny bawa kado untuk aku?” tanya Colvert seraya menggoyang-goyangkan papperbag di tangan neneknya.


Nyonya Baldwig lalu berhenti menatap mantan menantunya, beralih tersenyum lembut pada satu-satunya cucu yang ia miliki. “Tentu, Sayang.” Ia mengulurkan tentengan yang sengaja dibeli untuk hadiah ulang tahun cucunya itu pada Colvert. “Ayo buka di dalam.”


“Wah ... sungguh membelikan yang aku minta, Granny.” Colvert sampai mendekap dengan dua tangan karena terlalu suka, saat diintip ternyata berisi mikroskop mini yang sering ia bicarakan ditelepon ketika neneknya menghubungi.


“Sini, mommy bawakan.” Bellinda langsung mengambil alih. Dia mengambil jarak dari Arsen supaya tidak terlihat dekat dengan pria itu. Meski wajah orang tuanya tak ada kilatan marah, tapi ia tahu ada kebencian yang dipendam.


Sementara itu, Arsen masih mematung di tempatnya berdiri, depan unit apartemennya. Ia bingung bagaimana menyapa mantan mertua. Mau memanggil apa? Mommy? Nyonya Baldwig? Atau yang lain? Sehingga sampai sekarang belum ada satu pun kalimat sapaan keluar dari bibirnya.

__ADS_1


Pintu tempat tinggal Bellinda pun telah dibuka oleh Colvert. “Ayo, Granny, kita masuk,” ajaknya seraya menarik tangan sang nenek yang tengah menatap daddynya.


“Iya, duluan.” Nyonya Baldwig menepuk punggung cucunya supaya masuk ke dalam.


Setelah tak ada Colvert, Arsen pun tersenyum dan sedikit menganggukkan kepala. Hanya itu yang terlintas di dalam pikiran untuk menyapa mantan mertuanya.


Nyonya Baldwig hanya menaikkan sebelah alis tanpa membalas dengan tarikan bibir. “Kenapa dia di sini?” Pertanyaan itu ditujukan pada Bellinda. Selama putrinya tinggal terpisah di apartemen, baru sekarang ia berjumpa Arsen.


Kerutan di kening Nyonya Baldwig semakin dalam. Untuk apa pria itu repot-repot tinggal di Amsterdam?


“Bagaimana kabarmu?” tanya Arsen. Ya ... anggaplah basa-basi karena ia tak tahu harus mengobrolkan apa saat bertemu mantan mertua. Dia sampai lupa, selain Colvert dan Bellinda, ada orang tua jandanya yang perlu dihadapi juga.

__ADS_1


Nyonya Baldwig menarik sebelah sudut bibir. “Kalau aku tidak baik, sudah pasti tak mungkin bisa berdiri di sini,” jawaban itu keluar dengan nada yang stabil, tidak tinggi maupun ditekan. Hanya saja susunan kata terkesan menyindir pertanyaan yang seharusnya sudah tahu jawabannya tanpa bertanya.


Bellinda melihat ada kilatan tak suka diantara mommynya dan Arsen. Daripada semakin runyam urusan, lebih baik ia pisahkan terlebih dahulu.


“Mom, ayo masuk, Colvert pasti sudah menunggu.” Bellinda mengampit lengan orang tuanya supaya beranjak.


Nyonya Baldwig mengangguk. Berlama-lama melihat orang yang dibenci dan sudah membuat hidup anaknya susah, bisa membuat hatinya semakin menginginkan untuk mengeluarkan umpatan pada Arsen. Daripada keanggunannya hilang, lebih baik ia tinggalkan mantan menantunya. Mungkin tidak sekarang akan bertanya maksud dan tujuan kembali muncul dalam kehidupan putrinya, tapi nanti akan dilakukan saat waktunya tepat.


“Oh, iya, Everest sudah setuju. Dia tidak masalah dengan statusmu yang sudah pernah menikah dan memiliki anak. Jadi, minggu depan kau harus pulang untuk pertemuan keluarga.” Nyonya Baldwig sengaja berbicara dengan suara lantang seraya masuk ke dalam pintu.


Arsen terdiam sekaligus terkejut dengan apa yang baru saja didengar. “Everest? Pertemuan keluarga? Apa ini sebabnya Bellinda tak kunjung memberi kepastian? Karena dia dijodohkan lagi?”

__ADS_1


__ADS_2