
Arsen sampai bersimpuh di bawah kaki mantan mertuanya demi wanita paruh baya itu mau mengeluarkan suara dan memberikan restu untuk ia menikah bersama Bellinda. Tidak peduli ada banyak pasang mata di dalam lounge tersebut menatap ke arahnya. Dia sudah berada di level mempertaruhkan harga diri CEO di depan umum. Masa bodoh, yang penting bisa menikahi jandanya tanpa perlu ada kerisauan.
“Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang dahulu, tidak mungkin ku ceraikan putrimu untuk kedua kali. Tolong, percaya padaku. Penyesalanku telah mendarah daging dan melekat hingga ke dasar kalbu, semua usahaku demi bisa kembali bersama Bellinda juga sangat membutuhkan effort tinggi. Jadi, setelah segala sesuatu yang ku tempuh, mana mungkin menyia-nyiakan segalanya yang dikeluarkan selama ini?”
Si duda yang tengah berjuang mati-matian itu hendak meraih tangan Nyonya Baldwig, tapi wanita paruh baya tersebut sudah menarik lengan hingga tak bisa digapai. “Duduk, jangan buat aku malu dengan dijadikan bahan tontonan orang lain!” Suara berupa perintah itu keluar pelan dan penuh tekanan. Sementara mata tetap melengos ke sembarang arah.
Arsen menggeleng meski tak dilihat oleh mantan mertuanya. “Tidak, aku akan tetap bersimpuh di hadapanmu sampai kau memberikan izin menikahi Bellinda. Kalau perlu, ku cium kakimu juga supaya lebih yakin jika aku bukanlah Arsen yang dahulu.” Ia sudah bersiap memegang mata kaki Nyonya Baldwig. Kalimat baru saja terlontar itu tidak main-main, dia sangat serius.
Dua bola mata Nyonya Baldwig membulat seketika dan mengalihkan pandangan menjadi terisi mantan menantu. “Apa yang kau lakukan?” Ia segera menepis tangan Arsen supaya tidak melanjutkan dengan bersujud. Sesakit hatinya pada pria itu, tapi tidak pernah menyangka kalau akan mencium kakinya.
__ADS_1
“Seandainya ini adalah jalan satu-satunya supaya bisa menikahi Bellinda lagi, maka akan ku tempuh. Tidak masalah digunjing oleh orang lain yang melihat, setidaknya aku berusaha meyakinkanmu kalau waktu telah merubah segalanya.” Arsen menatap Nyonya Baldwig dengan sorot yang serius.
Namun, tidak juga mendapatkan respon apa pun, membuat Arsen kembali mengeluarkan suara. “Atau katakan saja padaku, apa yang membuatmu sangat membenciku? Hal atau sifat apa yang kau inginkan untuk aku ubah?” tawarnya kemudian. Dia sudah sampai tahap bernegosiasi karena diajak kompromi tidak pernah bisa berhasil.
Nyonya Baldwig nampak menghela napas berat dan panjang. Arsen begitu memperhatikan setiap gerakan yang dibuat oleh mantan mertuanya, bahkan ketika memejamkan mata dengan tangan mengepal seolah tengah menahan sesuatu. Si duda satu itu sudah siap mendengar apa pun yang hendak dikatakan, entah cacian atau sebagainya.
“Kau yakin mau tahu alasannya?”
“Ya.”
__ADS_1
“Aku sangat membencimu karena kau selalu mengatakan kalau putriku hanyalah seseorang yang manja, tidak bisa melakukan apa-apa, dan masih banyak lagi hinaan—”
“Maaf, aku menyesal sudah mengeluarkan kalimat itu pada Bellinda.” Arsen menunduk tulus dari dalam hati.
“Dan hal itu yang membuat Bellinda ingin membuktikan padamu kalau dia tidaklah seperti apa yang kau tuduhkan. Putriku tak pernah mau memberi tahu tentang kehamilannya karena dia tidak ingin dianggap remeh dan hanya terkesan memanfaatkan keadaan demi kembali bersamamu.” Ada air mata seorang ibu meluncur begitu saja membasahi pipi. Nyonya Baldwig mendadak mengulas kembali kejadian beberapa tahun lalu saat cucunya dilahirkan. “Dia ... sempat koma setelah berhasil mengeluarkan Colvert ke dunia, ada masa di mana Bellinda hampir tiada. Masa kehamilannya hanya dipenuhi oleh membangun bisnis restoran cepat sajinya sendiri karena tak ingin dianggap beban dan tak bisa melakukan apa-apa.”
...*****...
...SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA UNTUK SEMUA BESTIEKU YANG MERAYAKAN RAMADHAN...
__ADS_1