Buried Love

Buried Love
Part 82


__ADS_3

Mobil itu memutar empat roda sebesar tiga ratus enam puluh derajat sebanyak puluhan ribu kali, membawa lima orang yang ada di dalamnya menuju sebuah gedung apartemen. Empat pria diantaranya sangat santai, tapi satu-satunya wanita yang tak lain adalah Bellinda justru mengernyitkan dahi. Si janda merasa bingung.


“Bukankah kita akan menjenguk Arsen? Kenapa kalian membawaku pulang ke apartemen?” tanya Bellinda. Bangunan yang kini ada di depan mata adalah tempat tinggalnya bersama Colvert.


“Sudah, ikut saja kalau kau memang mau bertemu teman kami,” ucap Pierre seraya melepaskan seatbelt. Kemudian diikuti oleh Eduardo si pengemudi.


“Ayo, Mommy.” Colvert segera menarik tangan Bellinda saat orang tuanya masih dipenuhi oleh kebingungan.


Bellinda pun menggenggam tangan sang putra kala keluar dari mobil. Mereka bergandengan mengikuti tiga teman Arsen yang sudah jalan mendahului.


Masih berusaha berpikir positif, mungkin mantan suaminya dirawat dalam apartemen pribadi. Secara orang kaya begitu mudah membayar jasa dokter untuk bolak balik. Bellinda belum ada sudut pandang negatif atau berpikir kalau ia dibohongi.


Sampai pada akhirnya Madhiaz menekan jajaran angka dan membuka pintu, Bellinda juga Colvert dipersilahkan untuk masuk terlebih dahulu.

__ADS_1


Bellinda menengok ke belakang saat mendengar pintu sudah tertutup lagi. Madhiaz, Eduardo, dan Pierre tidak ikut ke dalam.


Oke, baiklah, kaki si janda itu terayun untuk mencari keberadaan mantan suaminya. “Arsen?” panggilnya dengan suara teralun lembut.


Orang yang dipanggil secara tiba-tiba muncul dari balik sebuah pintu. Arsen tidak terlihat seperti orang yang sakit, dia nampak bugar dan wajah pun segar. Pria itu bisa mengulas senyum senang atas kedatangan sang mantan istri.


“Daddy ...!” seru Colvert. Bocah itu melepaskan gandengan tangan Bellinda dan berlari ke arah Arsen. Langsung tubuhnya ditangkap, lalu digendong. “Aku berhasil membawa Mommy ke sini,” adunya kemudian.


Jika Arsen dan sang anak terlihat senang, berbeda dengan Bellinda yang masih belum paham. “Jadi, kau tidak sakit sampai sekarat?”


“Sekarat?” Kerutan di kening Arsen menunjukkan kalau ia juga terkejut. “Siapa yang bilang?”


“Teman-temanmu.”

__ADS_1


“Aku baik-baik saja, Bel. Hanya hatiku yang patah saat kau memutuskan untuk menikah bersama pria lain.” Arsen segera menjelaskan supaya tidak dianggap sebagai pembual. Haruskah ia berterima kasih pada ketiga temannya yang sudah berhasil mendramatisir kondisinya? Sekarat? Sangat berlebihan, tapi kalau kata itu yang berhasil membuat Bellinda datang ke tempatnya, mungkin lebih baik bibir berterima kasih saja.


Ada hembusan napas lega yang dikeluarkan oleh Bellinda. “Syukurlah, ku pikir kau sungguh sakit parah.”


Colvert membisikkan sesuatu pada sang Daddy, membuat Arsen mengayunkan kaki menghampiri Bellinda. “Jadi, saat kau mendengar aku sakit, memilih datang ke sini daripada melanjutkan menikah?” Hatinya bagai meletupkan jutaan kembang api, senang sekali.


“Ya, mana mungkin aku bersenang-senang di saat anakku mengkhawatirkan daddynya?” jelas Bellinda.


“Kau tidak khawatir juga denganku?” goda Arsen. Tangan kanan yang tak menggendong Colvert itu merengkuh pinggul jandanya, sehingga kini posisi mereka seperti sebuah keluarga kecil yang tengah berpelukan.


Bellinda menunduk untuk menutupi kalau ia menggigit bibir bawah. Dia tidak memberikan jawaban apa pun berupa suara. Tapi, Arsen sudah bisa menangkap kalau reaksi itu tandanya si janda malu untuk mengakui.


Arsen semakin membawa Bellinda ke dalam dekapan. Mencondongkan kepala dan mengecup pelipis wanita itu dengan penuh kasih. “Jika pernikahanmu dengan Steven gagal, maka masih ada aku yang bersedia menikahimu. Mungkin, dahulu pernah ada luka yang ku torehkan begitu dalam hingga kau kubur seluruh rasa yang pernah ada. Tapi, kali ini aku akan berusaha maksimal untuk membuatmu hidup dalam rumah tangga yang lebih menyenangkan dan penuh kasih. Walau tidak bisa ku janjikan kebahagiaan selamanya karena hidup pasti selalu ada masalah, setidaknya aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu.”

__ADS_1


__ADS_2