Buried Love

Buried Love
Part 46


__ADS_3

Mungkin Arsen terlalu bersemangat untuk memberikan kejutan pada putranya. Ulang tahun pertama yang akan dilewati bersama-sama walau terlalu terlambat karena ada lima kali perayaan yang sudah dilewatkan.


Jujur, Arsen terlalu excited saat ingin merayakan ulang tahun Colvert. Hal yang sangat diinginkan adalah membuat bocah itu bahagia, bahkan termasuk mewujudkan keinginan untuk camping disela-sela urusan pekerjaan yang sebenarnya sangat sibuk.


Arsen juga terlalu percaya diri kalau ia akan baik-baik saja sehingga kurang hati-hati dan hanya ingin cepat sampai ke tendanya sebelum langit gelap. Tapi, ternyata ia justru terpeleset di tanah yang licin.


Hal pertama yang terbesit di otak sok pintarnya adalah menyelamatkan kue supaya tidak hancur. Sebab, itu belinya jauh dari hutan. Dia butuh waktu lama untuk mendapatkan kue tersebut.


Arsen membiarkan tubuhnya membentur pohon, kepala tak luput mendapatkan sapaan dari tumbuhan hidup itu.


“Shitt!” umpat Arsen. Dia mengeram kesal karena ada saja musibah yang dihadapi saat terburu-buru.

__ADS_1


Pria itu tak langsung berdiri, tapi duduk sebentar untuk menetralkan pening yang mendadak menyerang setelah kepalanya terbentur. Sakit sekali, dia menyentuh kening, lalu seluruh tengkoraknya untuk memastikan apakah ada darah atau tidak. Sepertinya aman. “Mungkin setelah ini akan memar,” gumamnya sangat yakin.


Arsen lalu segera membuka kotak yang sangat berharga. Di saat jauh dari perkotaan seperti ini, kue lebih diutamakan dibanding nyawanya. Memang dasar duda haus pengakuan anak. Tapi syukurlah karena ia baik-baik saja.


Helaan napas lega keluar dari bibir Arsen. “Aman, hanya rusak sedikit.” Ada beberapa krim yang menempel di kotak karena pasti terguncang sedikit saat ia tergelincir. Tapi, tak masalah, tulisannya tetap terlihat.


Arsen perlahan berdiri tegak dan mencoba menggerakkan kaki. Aman, masih bisa jalan. Sekarang dia tak lagi berlari, tapi berjalan cepat yang mungkin sama saja dengan berlari kecil.


Bellinda sedikit gelisah karena Arsen tak kunjung kembali. Hari sudah gelap saat ini. Bukan karena ia takut kalau ditinggal berdua. Tapi, khawatir mantan suami kenapa-napa. Sudah satu jam sejak pria itu pamit pergi ke mobil.


“Mom ... kenapa?” tanya Colvert yang menangkap jelas gurat resah di wajah orang tuanya. Mungkin terlalu jelas terlihat ada hal aneh jadilah anak sekecil itu langsung paham kalau mommynya sedang merasakan sesuatu yang kurang nyaman.

__ADS_1


Colvert menghampiri Bellinda, lalu duduk di pangkuan yang selalu terasa nyaman. Dia menepuk pundak orang tuanya karena tak kunjung memberikan jawaban, justru menatap ke arah di mana Arsen tadi menghilang.


“Ha? Iya, ada apa?” Bellinda terperanggah dan langsung melingkarkan tangan di tubuh mungil dalam pangkuannya.


“Mommy kenapa melihat ke sana terus? Melihat hantu? Atau hewan?”


Bellinda menggeleng seraya jari menyingkirkan rambut putranya yang mulai panjang. Dia belum sempat membawa Colvert untuk menata rambut lagi supaya lebih rapi dan pendek. “Tidak, daddymu lama sekali.”


“Mungkin dia meninggalkan kita, seperti dia meninggalkanmu dulu.” Dari ribuan pilihan jawaban, bocah itu bukannya membuat mommynya menjadi lebih tenang justru kian gelisah.


“Kata siapa? Mana mungkin aku meninggalkan kalian.”

__ADS_1


Suara yang dinanti oleh Bellinda akhirnya terdengar ikut menyahut juga. Keresahan yang sempat melanda hati wanita itu langsung hilang dan berganti senyum saat melihat tubuh Arsen ada di sana, berjalan menghampirinya dengan membawa sebuah kue yang di atasnya ada lilin menyala.


__ADS_2