
Sejak malam itu, ketika ajakan merajut kembali kisah yang sempat berakhir, Arsen terus merenungkan diri setiap kali sendiri. Dia tidak menyangka kalau ternyata luka yang pernah ditorehkan pada Bellinda sangatlah dalam hingga membuat wanita itu sulit sekali ditembus benteng pertahanannya.
Arsen baru merasakan bagaimana tak enaknya ditolak. Bukan hanya sakit, tapi juga malu. Dahulu dia begitu arogan membuang Bellinda pergi, sekarang ia yang merasakan sendiri perjuangan wanita itu untuk mendapatkan hatinya.
Duda satu itu baru sadar bahwa enaknya diperjuangkan dibandingkan berjuang. Dahulu ia terlalu percaya diri kalau tak akan jatuh cinta pada Bellinda. Nyatanya sekarang justru rasa ingin memiliki wanita itu sangatlah besar.
Bahkan sudah terhitung sepuluh bulan Arsen melakukan pulang pergi Helsinki Amsterdam, tetap belum berhasil mendapatkan kepercayaan jandanya sendiri. Dia memang terus mendekati Bellinda, tapi sulit meraih kembali hatinya.
Setiap kali disinggung pembahasan tentang ajakannya untuk rujuk kembali, selalu ditolak. Setiap minggu ia menanyakan apakah sudah berubah pikiran atau belum, tapi jawaban tetap sama.
__ADS_1
Arsen selalu menangkap sorot mata takut penuh ragu, bukan pada dirinya, melainkan masa depan yang belum bisa ia janjikan untuk terus bahagia kalau hidup bersama-sama. Dalam hidup tak lepas dari kesedihan, jadi dia tak berani menjanjikan kebahagiaan.
Mungkin terlalu cepat juga bagi Arsen untuk mengajak kembali. Dia hanya tak sabar dan takut kalau Bellinda dimiliki orang lain. Apa lagi ketika ada pria yang mendekati jandanya, rasanya ingin langsung ditendang pergi.
Seperti sekarang, Arsen mengepalkan tangan menyaksikan Steven membantu Bellinda di restoran cepat saji CoBell. Dia baru saja mendarat di Amsterdam setelah menyelesaikan kerjaan di Helsinki. Wajahnya bahkan tergambar jelas penuh letih, tapi saat hendak menatap sosok cantik wanitanya, mendapati pemandangan yang tidak mengenakkan. Membuat suasana hati menjadi semakin kacau.
Arsen menghembuskan napas kasar. Steven itu jenis rival yang tidak peduli kalau lawannya lebih unggul. Padahal sudah jelas dari segi ekonomi pun ada gap terlalu jauh, masih saja terus mendekati Bellinda. Mau disandingkan dengan keluarga Baldwig juga tidak ada seujung kuku.
Bellinda melihat deretan orang yang mengantri, memastikan apakah masih banyak pelanggan yang belum dilayani atau tidak. Tersisa sepuluh. Dia mengangguk menyetujui ajakan mantan suaminya. “Kita bicara di depan.”
__ADS_1
Arsen keluar terlebih dahulu. Sementara Bellinda meminta tolong pada Steven. “Steve, tolong handle sebentar, bisa?”
“Bisa.” Walaupun Steven penasaran dan ingin tahu pembicaraan apa yang akan dilakukan oleh wanita incarannya dengan rivalnya, tapi demi mendapatkan image bagus, ia memilih untuk tetap membantu di kasir.
Bellinda pun menghampiri di mana Arsen berdiri saat ini, depan CoBell. Dia bisa melihat raut kelelahan di wajah pria itu, mata sayu, pakaian juga sudah tak rapi. Ingin sekali memberikan perhatian, tapi enggan dilakukan karena tidak mau melewati rasa sakit seperti dahulu lagi kalau terlalu menunjukkan kepedulian.
Mata Arsen melirik ke sebelah, sudah ada mantannya di sana. Tanpa basa-basi, ia menarik wanita itu untuk dibawa ke mobil supaya mengobrol cukup berdua saja.
Arsen mengunci pintu, sengaja, lalu melajukan kendaraan itu menjauh dari CoBell. Tidak meminta persetujuan dari Bellinda.
__ADS_1
“Kau mau membawaku ke mana?” tanya Bellinda. Dia sedikit panik walau dibalut wajah tenang. Pasalnya, raut Arsen begitu gelap, suram, dan penuh hal-hal negatif. Siapa yang tak takut kalau seperti itu.