Buried Love

Buried Love
Part 86


__ADS_3

Bagaikan mendapatkan tamparan dari segala arah, Arsen baru saja mendengarkan sebuah fakta mencengangkan. Ternyata akibat lisan yang terlalu tajam bisa membuat orang lain mengalami penderitaan.


Arsen tak mampu melawan menggunakan kata-kata. Kepala menunduk dengan air meluncur dari mata. Sekarang dia tahu kenapa mantan mertuanya sangat membenci. Memang pantas dirinya mendapatkan perlakuan seperti itu.


“Aku hanya bisa mengatakan maaf karena semua telah terjadi. Tapi, tolong, beri kesempatan untuk memperbaiki semuanya.” Arsen menahan kaki sang mantan mertua yang sudah berdiri dan seperti hendak meninggalkannya.


Nyonya Baldwig menggelengkan kepala. Tenggorokan rasanya tercekat karena ingatan pedih di masa lampau harus kembali terulas dalam benak. Masih memiliki Bellinda hingga sekarang pun sangat bersyukur. Tak pernah terbayangkan dalam hidup kalau putri satu-satunya pergi terlebih dahulu.


“Aku memaafkanmu, tapi tidak dengan menyetujui untuk kalian menikah lagi. Siapa yang bisa menjamin tidak akan ada kejadian serupa?” Masih tetap dengan pendiriannya, Nyonya Baldwig terus menolak.


“Mari kita sama-sama membawa pengacara. Buat perjanjian tertulis secara legal yang bisa diperkarakan dalam hukum juga tuntutan, seandainya aku mengulangi hal sama.” Dalam posisi bersimpuh, Arsen mendongak ketika menawarkan kesepakatan tersebut. “Cucu serta putrimu pasti ku bahagiakan dan cukupi seluruh kehidupan baik secara materi maupun hal lain. Seandainya aku melanggar, silahkan lakukan apa pun.”


Sudah sampai ditahap tidak tahu lagi harus melakukan apa, Arsen pun mengusulkan perjanjian supaya mantan mertuanya yakin bahwa hidup Bellinda dan Colvert akan terjamin. “Pikirkan sekali lagi tentang bagaimana perasaan mereka,” imbuh Arsen.

__ADS_1


Nyonya Baldwig memejamkan mata. Yang membujuknya supaya memberikan Arsen izin bukanlah pria itu saja. Tapi, Bellinda, Colvert, bahkan sang suami juga. Namun, namanya seorang ibu yang pernah melihat putri sendiri melewati masa penuh kesakitan, hatinya begitu keras untuk melunak.


Wanita paruh baya itu tahu kalau Bellinda masih mencintai Arsen. Tapi berusaha untuk menutup mata akan hal tersebut. Setelah dipikir-pikir, apakah ia yang terlalu egois dan keras hingga mengesampingkan kebahagiaan anak? Atau semua itu akibat rasa was-was?


Tawaran Arsen terdengar lumayan menarik juga. “Oke, kita buat surat perjanjian, tapi semua harus menguntungkan bagi putriku.”


Tanpa pikir panjang, Arsen mengangguk dan menyepakati. “Silahkan kau buat seluruh poinnya, aku tidak akan meminta satu pun kecuali restu.”


Setelah melewati negosiasi yang cukup sulit, akhirnya Arsen pulang ke apartemen dengan membawa hasil memuaskan. Satu bulan terakhir perjuangannya mengejar izin mantan mertua pun selesai sudah.


Arsen baru kembali setelah menyelesaikan pembuatan perjanjian dengan Nyonya Baldwig. Dia tidak mau kalau keputusan orangtua Bellinda akan berubah jika tidak disegerakan.


Bukan langsung menuju unit milik sendiri, melainkan Arsen menekan beberapa angka di pintu sebelah. Dia masuk ke dalam tempat tinggal Bellinda dan Colvert.

__ADS_1


Sudah sangat larut ketika si duda itu menginjakkan kaki di sana. Tepat sekali kehadirannya bersamaan dengan Bellinda yang keluar dari kamar Colvert.


“Wajahmu terlihat lelah sekali, apa hari ini masih ditolak lagi?” tanya Bellinda seraya menghampiri mantan suami.


Ada gelengan pelan yang ditunjukkan oleh Arsen. Dia merengkuh tubuh Bellinda ke dalam pelukan dan kembali mengingat kata-kata mantan mertuanya tadi.


“Kenapa kau tak pernah mengatakan padaku kalau sempat koma dan hampir tiada saat melahirkan anak kita?” Suara Arsen terdengar sangat sedih. Ia mengecup ujung kepala Bellinda berkali-kali.


“Untuk apa mengatakan itu? Aku tidak ingin dilihat lemah di depanmu,” jelas Bellinda.


Rasa bersalah Arsen kian menggunung. Tidak bisa lagi dihitung dengan cara apa membayar semuanya. Pria itu kian mengeratkan kedua tangan. “Mulai sekarang, kau boleh menunjukkan sisi lemahmu, jangan menutupi dariku. Tidak perlu merasa kuat seandainya memang sedang tak baik-baik saja.”


Arsen kemudian menangkup kedua pipi Bellinda. Mendongakkan wajah wanita itu supaya menatapnya. “Tolong ... lupakan kata-kataku di masa lalu yang sempat menilaimu tidak bisa melakukan apa pun, manja, dan segala hinaan lainnya. Aku tidak ingin kau hidup dengan bayang-bayang kalimat menyakitkan itu.”

__ADS_1


__ADS_2