Buried Love

Buried Love
Part 48


__ADS_3

Setelah menikmati kue yang dibawakan Arsen, Bellinda masuk ke dalam tenda karena Colvert minta untuk ditemani sampai tidur. Bocah itu sudah mengantuk. Jadi, sekarang ia tengah menepuk paha putranya dan mendengar napas yang mulai teratur.


Memastikan Colvert sudah benar-benar terlelap, Bellinda lalu keluar. Ikut duduk di samping mantan suami yang tengah menikmati malam di depan tenda.


“Kenapa tadi bajumu terlihat sangat kotor?” tanya Bellinda tanpa menatap Arsen. Ia mendongak menikmati bintang di atas sana.


Bellinda sempat memperhatikan pria itu. Banyak bekas tanah dipakaian. Bahkan hampir seluruh tubuh nampak kacau. Tapi, baru sekarang bertanya karena terhanyut oleh suasana kejutan yang begitu haru. Ia juga sampai meneteskan air mata saat mendengar Colvert menyebut mantan suaminya dengan kata Daddy. Tahu betul kalau Arsen memang sangat ingin dipanggil sesederhana itu.


Namun, Arsen sudah berganti pakaian saat Bellinda menidurkan Colvert. Tidak nyaman kalau tetap memakai yang kotor seperti gembel. Walau itu adalah bukti perjuangannya untuk kesuksesan acara hari ini.

__ADS_1


“Oh ... aku buru-buru saat perjalanan, jadi terpeleset dan jatuh. Untunglah kuenya terselamatkan,” jelas Arsen. Dia merapatkan posisi duduk dan merangkul Bellinda. Tumben sekali wanita itu tidak memberontak, jadilah ia semakin berani dengan meraih kepala jandanya dan disandarkan pada bahunya. Sesekali manja dengannya tak masalah, mantan istri terlalu mandiri sekarang.


Dan ... Arsen kini tahu, ternyata ia ingin Bellinda manja dibandingkan mandiri. Anggaplah memang dirinya plin plan, dahulu tak suka wanita yang manja karena dianggap tak bisa melakukan apa-apa, tapi sekarang justru sebaliknya.


Arsen merasa ada baiknya juga kalau Bellinda manja dan menggantungkan diri padanya. Jadi, ia merasa dibutuhkan.


Arsen terkekeh saat tubuhnya diperiksa oleh mantan istri. Sampai lengan dan kaki juga. “Tak sekalian kau cek bagian ini masih bisa tegak berdiri dengan garang atau tidak?” kelakarnya seraya menunjuk area pangkal paha yang untungnya sekarang sedang tidur manis.


Bellinda mencebikkan bibir. Jemarinya mencubit kecil lengan Arsen hingga pria itu mengaduh. Lalu ia langsung usap supaya menghilangkan rasa sakit akibat ulahnya. “Sempat-sempatnya menggoda aku disaat ada insiden yang baru saja menimpamu.”

__ADS_1


Bellinda kembali duduk lurus. Padahal ia sudah khawatir dan panik saat mengetahui Arsen terpeleset. “Pantas saja kau lama sekali kembali ke sini. Aku sudah merasa aneh.” Ada helaan napas lega setelah itu. “Tapi, syukur kau baik-baik saja.”


Arsen menengok di mana Bellinda berada, mengisi kornea dengan seluruh wajah cantik jandanya. “Kau mengkhawatirkan aku?”


Alis Bellinda keduanya naik ke atas. Apakah perlu sampai dipertanyakan seperti itu? Mau mengakui malu, kalau berbohong sepertinya langsung kelihatan jelas. Jadilah ia mengangguk sebagai jawaban, tanpa mengeluarkan suara.


Si duda satu itu langsung mengulas senyum. Ada rasa senang dan hangat melingkupi dada. Dia tiba-tiba dan tanpa izin langsung memeluk Bellinda. Membenamkan kepala wanita itu di dada bidangnya, lalu tak lupa berkali-kali mencium puncak kepala yang rambutnya begitu harum menyeruak ke dalam indera penciumannya.


“Terima kasih karena kau sudah mengkhawatirkan aku, peduli denganku, dan memberikan kesempatan untuk aku memperbaiki segalanya,” ucap Arsen. Dia semakin mengeratkan dua tangan yang ternyata hangat sekali saat memeluk Bellinda. “Ya ... walau masih abu-abu kau mau menikah lagi denganku atau tidak. Tapi, aku yakin kalau pada akhirnya kita akan kembali bersama.”

__ADS_1


__ADS_2