
Bellinda sampai diingatkan tiga kali oleh petugas Badan Kependudukan yang memandu jalannya pernikahan. Wanita itu seharusnya langsung mengikrarkan janji setelah Steven selesai berjanji. Tapi, fokusnya justru tertuju pada sang anak yang duduk paling depan. Dia mengamati gerak gerik Colvert.
Perasaan Bellinda seakan mengatakan kalau sang putra tidak ingin pernikahan hari ini berlangsung. Tapi, saat diamati, Colvert diam saja, tidak berucap sesuatu berupa penolakan.
Bibir Bellinda masih terasa berat dan kelu untuk berucap janji. Entahlah, kaku sekali lidahnya, padahal dahulu sudah pernah menikah juga dan ia begitu mudah serta lancar berikrar.
“Hei, are you ok?” Steven mengusap punggung tangan Bellinda yang sejak tadi digenggam. Berusaha membawa wanita itu agar kembali fokus padanya. “Apa yang kau lamunkan?”
Bellinda berhenti mengamati Colvert yang tertangkap sedang gelisah. Kini ia menatap Steven. “Ha? Maaf ... maaf.” Bibirnya tidak memberikan penjelasan apa pun.
“It’s ok.” Steven masih menunjukkan senyum dan tangan mengusap pipi Bellinda, seakan memberi tahu kalau ia tidak marah. “Aku ulangi lagi dari awal, mungkin kau grogi.”
Bellinda hanya menjawab dengan senyuman yang terkesan sangat kaku.
__ADS_1
Steven pun pada akhirnya mengucapkan janji untuk kedua kali. Dia sangat lantang dan hapal betul mulai dari awal sampai akhir.
Dan kini ... saatnya Bellinda yang berucap. “Saya, Bellinda Baldwig—”
Baru juga tiga kata terlontar, si janda menggantungkan kalimat lanjutan karena ada suara yang membuatnya penasaran.
“Maaf, terlambat datang, kami hadir mewakili Arsen, mantan suami Bellinda yang berhalangan untuk ikut menyaksikan momen pernikahan ini,” ucap Madhiaz dengan lantang.
Ketiga orang itu sengaja menginjakkan kaki di sana saat pengucapan janji. Ya ... mengganggu sedikitlah.
Teman-teman Arsen berjalan dengan begitu gagah dan tidak merasa bersalah karena sudah membuat prosesi menjadi terjeda. Bahkan kini mereka tidak mencari tempat duduk, melainkan berdiri di tengah-tengah jalan menuju mimbar yang ada di depan.
Jangan ditanya bagaimana reaksi Colvert, bocah itu senang, sementara dua nyonya yang memiliki acara sudah pasti sedang menggerutu.
__ADS_1
“Cepat cari duduk, jangan mengacau acara sakral!” omel Nyonya Dane. Bellinda yang sejak tadi tak mengikrarkan janji pun sudah membuatnya kesal, sekarang ditambah lagi ada yang mengganggu.
“Kami tidak akan lama di sini, hanya mau menyampaikan titipan salam dari teman baik kami, Arsen Alka. Selamat atas pernikahan kalian, maaf tidak bisa hadir karena dia sedang sakit,” tutur Eduardo.
Mata Bellinda langsung membulat ketika mendengar informasi tersebut. Apakah itu penyebab mantan suaminya sulit dihubungi selama satu bulan lebih?
“Dia sekarat, jadi kami yang mewakilkan karena Arsen sebenarnya sangat ingin menyaksikan mantan istrinya menikah lagi,” imbuh Pierre.
Madhiaz dan Eduardo langsung menatap ke arah Pierre yang asal menyeletuk. Sekarat tidak ada dalam kalimat yang harus mereka ucapkan. Itu terlalu sadis untuk Arsen yang sebenarnya sekarang sedang baik-baik saja.
Pierre paham dengan sorot mata kedua temannya yang menunjukkan peringatan. Tapi ia tetap santai dengan senyuman tengil khasnya. “Supaya semakin mendramatisir, jangan tanggung-tanggung kalau berbohong.” Kalimat tersebut teralun lirih dan cukup terdengar oleh Madhiaz dan Eduardo saja.
Oke, baiklah. Ketiga pria itu kembali menatap mempelai yang ada di depan. “Kami mohon maaf jika mengganggu, silahkan dilanjutkan.” Mereka berbalik badan secara bersamaan.
__ADS_1