Buried Love

Buried Love
Part 76


__ADS_3

“Maafkan Daddy, Sayang. Aku sakit beberapa minggu kemarin, dan tidak ingin membuatmu juga mommymu cemas. Jadi, ponsel sengaja dimatikan sampai proses penyembuhan selesai.” Arsen langsung menjelaskan sesuai apa yang terjadi. Anaknya butuh tahu hal itu. Dia memang sedang tidak baik-baik saja. Bahkan sampai sekarang pun masih harus beberapa kali ke rumah sakit untuk mengambil vitamin. “Daddy juga sedang banyak pekerjaan di sini. Jadinya tidak bisa ke Amsterdam,” lanjutnya saat tidak mendapatkan respon apa pun dari sang putra. “Colvert marah?”


“Tidak. Apa sekarang masih sakit?” Bocah itu justru mengkhawatirkan kondisi daddynya. “Haruskah aku katakan pada Mommy? Agar dijenguk?” tawarnya kemudian.


“Tidak perlu, Daddy sudah jauh lebih baik,” tolak Arsen. Belum tentu Bellinda berani membangkang si Nyonya Baldwig. Dia hanya tak mau membuat hubungan mantan istri dengan mantan mertua menjadi buruk. “Colvert kenapa menghubungi Daddy? Kangen?”


“Em ... sebenarnya aku ingin meminta sesuatu padamu. Bukankah kau mengatakan akan mewujudkan semua permintaanku?”


“Iya, katakan. Apa yang Colvert mau?”


“Aku ingin tinggal bersamamu. Keluarganya Steven menyebalkan. Aku tidak suka. Terlalu mengatur.” Permintaan yang terdengar seperti keluhan. Colvert melanjutkan bercerita bagaimana saat ia diajak pergi bersama Nyonya Dane. Menjejalkan peraturan setumpuk ketika mommynya sudah menikah nanti. “Dia cerewet sekali dan katanya aku tidak akan dapat harta warisan dari Steven. Uh ... mulut si nenek sihir itu akhirnya ku jejal dengan tisu agar berhenti mengoceh dan aku berlari kabur naik taksi ke CoBell.” Ada nada menggebu-gebu penuh amarah dari setiap suaranya.


“Mommymu dan Steven tahu tentang itu?”

__ADS_1


“Tidak, aku belum cerita dengan mereka. Aku ingin Daddy menjemputku saja.” Colvert lalu melanjutkan cerita lagi. “Sebelum aku meninggalkan si nenek sihir itu, aku mengatakan pada dia ‘memangnya siapa yang butuh warisan dari Steven? Lagi pula daddyku kaya.’ Ku sombongkan saja hartamu. Daddy tidak marah, kan?”


Arsen justru terkekeh. Astaga ... Colvert itu kalau menjatuhkan mental orang lain memang paling bisa. “Tentu saja tidak. Baguslah, memang harus dilawan.”


Ada kesunyian memeluk Arsen dan Colvert untuk sesaat. Keduanya tak ada yang berbicara satu pun, hanya hembusan napas yang terdengar.


“Kalau Daddy menggagalkan pernikahan mommymu, kau setuju atau tidak?” tanya Arsen.


“Oke. Kalau begitu, bantu Daddy, ya?” pinta Arsen.


“Apa yang bisa aku lakukan?”


Arsen pun memberi tahu rencananya. Untunglah Colvert bisa diajak kompromi. Hanya tersisa bagaimana teman-temannya akan membantu juga atau tidak.

__ADS_1


Selama dua jam Arsen dan Colvert berbincang di telepon. Si duda pun malam harinya pergi ke Royal Patt. Dia yang paling awal sampai. Madhiaz, Eduardo, dan Pierre sedang berada di perjalanan.


“Oke, aku punya ide lagi. Kau hamili lagi saja mantan istrimu itu. Beres, mau tak mau orang tuanya harus memberikan restu.” Tiba-tiba suara Pierre terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka. Dia masuk dan diikuti oleh Madhiaz juga Eduardo di belakangnya.


“Hamil pertama saja Arsen tak diberi tahu, mana berhasil rencanamu itu.” Eduardo menepuk pundak Pierre, lalu duduk di samping si duda berwajah masam akibat galau.


“Buat kacau saja di hari pernikahan. Kita tunjukkan pada orang tua Bellinda siapa yang lebih penting bagi wanita itu. Apakah Arsen atau si calon mempelai,” tutur Madhiaz.


Waktu ketiga kepala keluarga itu tidak bisa seleluasa ketika masih sendiri. Sekarang mereka ada anak dan istri yang harus diurusi. Jadilah obrolan langsung pada intinya.


“Caranya?” tanya Arsen, Pierre, dan Eduardo.


Madhiaz pun mengatakan rencananya. Kemudian mereka menyusun bersama bagaimana proses mulai awal sampai akhir. Semua susunan beres, hanya menunggu waktu eksekusi saja di hari pernikahan.

__ADS_1


__ADS_2