
“Mommy ...,” rengek Colvert.
Mendengar suara itu membuat Arsen otomatis menghentikan mata yang sejak tadi memandangi tidur Bellinda yang begitu tenang. Dia lekas berdiri dan menghampiri ranjang pasien sebelum anaknya menangis dan membangunkan mantan istrinya yang sangat kelelahan.
“Kau butuh sesuatu, boy?” tanya Arsen seraya mengusap puncak kepala anaknya, lembut.
Arsen baru tahu rasanya lebih dekat dengan anak sendiri, ternyata luar biasa, ada letupan di dada yang terasa berdesir. Dia belum pernah menurunkan harga diri ataupun ego untuk siapa pun. Tapi, entah kenapa kali ini berbeda. Pria itu ingin berdamai dengan semua, dengan keadaan dan masa lalunya. Mungkin salah satu alasan enam tahun tetap sendiri adalah pikirannya selalu berisi kekesalan terhadap mantan istri yang dahulu menikah dengannya karena perjodohan. Jadi, membuatnya malas kalau dirumitkan oleh hal-hal berbau wanita.
Namun, kenyataannya kini Arsen membuat jalan hidup semakin ditempuh rumit. Dia perlu berjuang untuk diakui oleh anak sendiri, sementara bisa saja membuat anak lagi bersama wanita lain di luar sana. Tapi tidak tertarik dengan cara itu. Ia justru mau Colvert, dan ... Bellinda?
__ADS_1
Wanita itu terlihat bersinar terang di matanya. Setelah ia sadar betapa baiknya sosok itu yang tidak sedikit pun menghalangi atau melupakan identitasnya di diri anak mereka. Hatinya tersentuh ketika mengetahui kalau namanya tersemat di identitas Colvert. Juga penilaian Bellinda yang tidak pernah memandangnya buruk, padahal dirinya menilai perlakuan selama ini bagaikan seorang bajingann yang tidak tahu malu. Tapi, balasan mantan istrinya justru sangat baik, berlapang dada, dan tidak pernah melihat ada pancaran dendam atau penuh kebencian.
“Mommy mana?” tanya Colvert dengan mata berkaca-kaca karena menguap setelah bangun.
“Mommymu tidur, dia lelah. Sekarang dengan Daddy dulu, ya?” bujuk Arsen, jemarinya berangsur mengusap pipi si kecil.
Colvert mencebikkan bibir. “Maunya dengan Mommy, aku sedang malas berdebat denganmu,” protesnya.
Tangan Arsen melingkar di belakang leher Colvert, sedikit menegakkan duduk sang anak dan mendekatkan gelas ke bibir bocah itu hingga cairan pun mulai diteguk setengahnya.
__ADS_1
Arsen kembali merebahkan putranya, menaruh gelas ke meja lagi, dan mendekati Colvert. Duduk di samping bocah itu, mengusap rambut yang lepek. Ternyata senyaman itu memberikan perhatian pada darah dagingnya.
Penyesalan-penyesalan mulai memenuhi hati. Seandainya dia tidak menceraikan Bellinda, pasti bisa mengikuti tumbuh kembang sang anak. Andai ... andai ... andai, nyatanya semua telah terjadi dan tidak bisa diulang kembali.
“Cepat sembuh, anakku. Kalau kakimu sakit, nanti tidak ada yang menendang pintu apartemenku lagi,” kelakar Arsen diakhiri dengan mengacak-acak rambut Colvert dengan gemas.
“Bukankah senang tidak ada yang mengganggumu?” cibir Colvert. Masih saja bocah itu berbicara dengan nada dongkol.
Sementara Arsen mulai merespon dengan emosi yang stabil. Dia menggeleng. “Sepi rasanya kalau tidak ada kau. Tiga hari ini seperti hampa, aku menanti suara tendangan kakimu di pintu. Juga merindukan perdebatan kita yang ternyata sangat menggemaskan.”
__ADS_1
Arsen terkekeh, aneh juga karena ia menyukai ketika si arogan bertemu sisi arogan dalam versi junior. Merasa kalau begitulah cara mereka menjadi lebih dekat hingga terasa ada yang hilang ketika tidak melakukan kebiasaan tersebut.
Arsen melepaskan sepatu, lalu berbaring di samping Colvert. Ranjang pasien ruang VIP itu cukup kalau ditiduri oleh dua orang. “Daddy peluk, boleh?” izinnya dengan mata berkaca-kaca. Menatap si kecil yang terus melihatnya datar.