
Colvert mengunci diri di dalam kamar. Dia tidak mau keluar atau bersiap-siap di hari pernikahan mommynya yang akan berlangsung beberapa menit lagi. Bocah itu sekedar menuruti ide sang Daddy untuk mengulur waktu.
“Sayang, Colvert. Buka pintunya, apa kau tidak mau menjadi saksi pernikahan Mommy?” bujuk Bellinda. Sudah berkali-kali ia ketuk pintu putranya, tapi tak pernah dibukakan.
“Masih ngantuk, acaranya terlalu pagi. Nanti siangan saja.” Kurang lebih begitulah balasan dari Colvert diiringi kepura-puraannya yang menguap dengan keras supaya terdengar malas bangun.
Aksi Colvert itu bukan sekedar membuat Bellinda saja yang menghampiri kamar si setan kecil. Tapi, dua Nyonya yang lebih terlihat antusias oleh pernikahan hari ini. Sementara Steven sudah menanti di taman untuk pengucapan janji.
“Sudahlah, yang mau menikah ‘kan kau, bukan Colvert. Jadi, kalau anakmu tidak mau ikut, biarkan saja,” ucap Nyonya Dane seraya meraih lengan Bellinda, calon menantunya yang sudah siap dengan gaun dan make up tipis. “Petugas dari Badan Kependudukan sudah datang. Lebih baik kita segera ke taman,” ajaknya kemudian.
__ADS_1
Bellinda menggeleng sebagai penolakan. “Aku tidak akan menikah kalau putraku tak ikut dalam prosesi. Dia adalah bagian dari hidupku yang tidak mungkin ditinggalkan begitu saja.” Sebisa mungkin ia melepas tangan Nyonya Dane yang terasa mencengkeram dan terkesan memaksa untuk lekas menurut.
“Petugas yang akan menikahkan kalian tidak memiliki waktu banyak. Semakin diundur, nanti yang ada dia pulang karena pengantin datang tak tepat waktu,” eyel Nyonya Dane.
Nyonya Baldwig tentu saja berada di pihak calon besan. Ia menepuk pundak sang putri. “Benar, kau pergilah ke taman, biarkan aku yang membujuk Colvert supaya mau bangun dan bersiap.”
Keras kepala Bellinda itu membuat Nyonya Dane emosi. Dia yang sudah berusaha sabar pun pada akhirnya mengeluarkan wujud asli. “Nanti setelah menikah dengan anakku pun kau akan diberikan keturunan juga. Untuk apa membujuk putramu yang kurang ajar itu? Tinggalkan saja. Sudah tahu ini hari penting orang tuanya, tapi bermalas-malasan.”
Bellinda langsung menatap orang tua Steven dengan mata kesal. Apa tidak salah yang baru saja didengar? Wanita paruh baya itu menghina putranya? Anak yang mati-matian tetap diperjuangkan supaya bisa terlahir ke dunia? Dia pikir, selama ini keluarga Steven menerima Colvert dengan baik.
__ADS_1
Mata Bellinda lalu melirik ke arah sang Mommy. “Lebih baik kalian pergi dulu, atau aku batalkan pernikahan ini. Jika tanpa Colvert, aku tidak mau melanjutkan.”
Nyonya Bladwig akhirnya mengalah. Dia menarik tangan calon besan supaya meninggalkan Bellinda. “Tapi kau harus janji, segera menyusul.”
“Iya.” Bellinda pun kembali mengetuk pintu Colvert. “Mommy sudah sendiri, Sayang. Ayo, buka, jangan dikunci dari dalam. Kalau ada sesuatu yang tidak kau suka, katakan padaku, jangan mengurung diri seperti ini,” bujuknya kemudian.
Sementara itu. Di dalam kamar, sebenarnya Colvert sudah berpakaian rapi. Hanya saja ia sengaja tidak keluar. Bocah itu justru mengamati dari atas, menanti daddynya yang berkata akan membawa pasukan. Jadi, tugasnya hanyalah membuat pernikahan berlangsung ketika sudah ada tanda-tanda kedatangan mereka. Untuk wajah orang yang akan hadir pun telah ditunjukkan oleh Arsen melalui foto. Sebab, katanya si duda tidak bisa muncul saat itu juga.
Dari jendela di lantai dua, Colvert melihat sebuah mobil sedan berhenti. Tamu yang datang tidak terlalu banyak, jadilah dengan mudah ia menemukan seorang pria turun dari kendaraan tersebut. Bocah itu tersenyum ketika ada lambaian tangan ke atas seolah memberikan pertanda bahwa mereka sudah datang.
__ADS_1