Buried Love

Buried Love
Part 87


__ADS_3

Jika pernikahan pertama Arsen dan Bellinda dilangsungkan di Kota Helsinki, Finlandia, untuk yang kedua bukan lagi di sana. Kota Amsterdam, tempat kelahiran Bellinda juga Colvert, dua orang itu memiliki status kewarganegaraan Netherlands. Kali ini Arsen yang memilih mengalah karena memang dia yang menginginkan pernikahan tersebut.


Tidak mau menunda terlalu lama karena Arsen takut semua orang akan berubah pikiran. Jadi, setelah mendapatkan restu, dia segera mengurus dokumen yang diperlukan dari negara asalnya.


Sejak pagi, Arsen sangat bersemangat dan sudah siap di lokasi yang akan dijadikan tempat sakramen pernikahannya bersama Bellinda. Tentu ditemani oleh ketiga teman dan orang tua.


Menanti kedatangan Bellinda beserta keluarga di luar, Arsen dan ketiga temannya berdiri tak jauh dari pintu masuk sebuah bangunan gereja yang begitu kental oleh ornamen khas Eropa.


“Sudah yakin mau menikahi jandamu sendiri?” tanya Madhiaz. Anggaplah itu basa-basi supaya tidak terlalu sepi.


“Kalau tak yakin, mana mungkin aku berjuang sampai detik ini,” jelas Arsen seraya memasukkan kedua tangan di dalam saku. Ia tengah menyembunyikan rasa gugup dan takut karena sudah mendekati waktunya tapi keluarga Bellinda belum juga nampak.


Madhiaz, Eduardo, dan Pierre saling melemparkan tatapan. Nampaknya bumbu-bumbu yang pernah disiapkan waktu itu akan terpakai juga.


“Kau sudah menyiapkan amunisi?” Eduardo menggerakkan dagu ke arah Madhiaz.


“Tentu, tidak boleh lupa. Dia juga harus merasakan apa yang kurasakan dahulu.” Pria dengan tiga anak itu memasukkan tangan ke dalam saku sebagai pertanda bahwa ada di dalam sana.


“Tenang, aku juga bawa,” imbuh Pierre seraya mengeluarkan beberapa saset saus dan kecap.


Arsen hanya bergeleng kepala. Mungkin dia sudah pasrah kalau dijuluki penjilat ludah sendiri oleh teman-temannya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, ada dua mobil mewah memasuki area halaman gereja. Arsen segera menghampiri ketika kendaraan tersebut berhenti.


Si duda yang tak sabar mempersunting mantan istrinya pun membukakan pintu untuk Bellinda. Dia mengulurkan tangan, membantu wanita itu untuk keluar.


Sepasang mata Arsen terpana oleh penampilan mantan sekaligus calon istrinya. “Kau terlihat sangat cantik.” Pujian itu keluar dengan jujur. Meski gaun yang dikenakan tidak ketat dan seksi, tapi aura seorang pengantin sudah terpancar bagaikan sinar. Apa lagi wajah dengan balutan makeup tipis itu menambah sosok Bellinda semakin nampak lebih segar.


“Kau juga tampan.” Bellinda balas memuji seraya melingkarkan tangan di lengan Arsen.


Kedua calon mempelai itu saling bergandengan memasuki gereja. Seluruh keluarga termasuk Colvert sudah mendahului dan menempati kursi bagian depan.


Arsen dan Bellinda berjalan beriringan menuju altar. Tidak ada pernikahan mewah, cukup keluarga dan sahabat yang datang menyaksikan. Jika dahulu mereka terikat secara sipil atau negara supaya bisa mudah melakukan proses cerai, maka untuk sekarang Arsen memilih yang lebih sakral lagi agar tak terceraikan. Mungkin itulah cara si duda untuk mengikat jandanya supaya bisa hidup selamanya bersama-sama.


Begitu khidmat ketika si mempelai saling mengucapkan janji mereka atas nama Tuhan. Kemudian disahkan oleh seorang Pastor bahwa mulai detik ini Arsen Alka dan Bellinda Baldwig adalah suami istri.


Selepas menyelesaikan penandatangan dokumen pernikahan, pengantin baru rujuk itu turun dari altar dan berjalan menghampiri keluarga serta kerabat. Keduanya mendapatkan ucapan selamat.


Tiba-tiba, Arsen dirangkul oleh ketiga temannya. “Siap?”


Memang sudah pasrah, Arsen langsung membuka mulut tanpa adanya paksaan.


Colvert yang melihat pun menjadi ikut penasaran. “Siap apa, Uncle?”

__ADS_1


“Daddymu akan menjilat ludah sendiri, Boy,” ucap Pierre blak-blakan.


“Ih ... jorok,” celetuk Colvert dengan wajahnya yang jijik.


“Bukan ludah yang sudah dibuang lalu dijilat. Tapi ....” Eduardo menggendong Colvert dan memberikan satu plastik kecil berisi lada. “Masukkan ini ke dalam mulut daddymu. Kita sama-sama bumbui ludahnya supaya ketika ditelan ada rasa, tidak hambar.”


Colvert mengangguk. Nampaknya bocah itu mulai bisa diajak kompromi oleh ketiga teman sang Daddy. “Oke.”


“Ayo, mulutku sudah pegal menganga,” ucap Arsen. Tidak masalah anaknya juga ikut-ikutan, toh Colvert terlihat senang.


Secara bersamaan, Madhiaz, Eduardo, Pierre, dan Colvert menuangkan bumbu-bumbu dapur yang ada di tangan masing-masing itu ke dalam mulut Arsen.


“Selamat menjilat ludah sendiri, duda yang tak duda lagi.” Ucapan tersebut berasal dari Madhiaz, Eduardo, dan Pierre. Mereka saling memeluk, benar-benar terlihat bagaimana kedetakan persahabatan dari keempat pria itu.


Arsen yang berusaha keras menelan berbagai rasa campur aduk di dalam mulut pun hanya bisa membalas menepuk punggung teman-temannya. Lidah terasa tak keruan. Ada asin, gurih, manis, pedas. Nampaknya mumbu yang diberikan padanya jauh bervariasi dibandingkan saat Madhiaz dahulu.


Bellinda dan para orangtua hanya bisa bergeleng kepala melihat kelakuan para pria dewasa dan satu bocah yang juga ikut-ikutan. Si pengantin wanita mengambilkan botol berisi air mineral yang memang sengaja dibawa sebagai bekal jaga-jaga kalau Colvert haus.


Melihat pria yang dinikahi dua kali itu nampak kesulitan, Bellinda pun menyodorkan botol tersebut. “Minum dulu.”


Arsen menerima dan lekas meneguk supaya bisa membantu menggelontor berbagai cita rasa yang membuat tenggorokannya tidak enak. “Thanks, untung istriku sangat pengertian.” Ia merangkul Bellinda penuh kasih sayang, dan melabuhkan kecupan di pelipis wanita itu.

__ADS_1


...-TAMAT-...


__ADS_2