Buried Love

Buried Love
Part 68


__ADS_3

“Steven memang baik. Tapi ... kalau aku bisa bersama Mommy dan Daddy kandung, mungkin lebih bahagia lagi.” Colvert mengedikkan bahu, lalu meraih gelas untuk dipegang saja supaya lebih enak minumnya. Jika bersama Bellinda, ia selalu mengatakan akan mendukung apa pun yang mommynya pilih asal bahagia, tapi dengan Arsen ia mengungkap yang dirasakan.


Arsen tersenyum seolah mendapatkan jawaban atas rasa gundahnya belakangan ini. Antara harus maju atau mundur. Tapi, setelah mendengar jawaban Colvert, sepertinya dia memang harus berjuang. Dengan catatan kalau Bellinda mau. Hanya akan berakhir sia-sia kalau yang diusahakan ternyata tak menginginkan hal sama.


“Colvert tidak akan marah kalau Daddy menghancurkan pernikahan Mommy dan Steven?”


Kepala Colvert menggeleng. “Aku justru marah saat daddyku hanya bisa menunduk dan tidak membantah saat diperolok Granny. Kau terlihat lemah sekali, dan aku tidak suka.”


Antara mau tersenyum karena mendapat dukungan anak, atau mengelus dada akibat disindir. Tapi, yang pasti, dia tetap mengusap pipi Colvert sebagai ucapan terima kasih sudah ada dipihaknya. “Aku diam karena tidak mau membuat suasana makan malam itu menjadi meja debat, yang ada justru berakhir adu mulut semua. Jadi, diam belum tentu lemah, tapi mengalah demi kebaikan bersama,” jelasnya kemudian.


“Oh ....”

__ADS_1


Jawaban singkat yang terkesan tidak mau membantah itu membuat Arsen terkekeh. Biasanya Colvert akan selalu mendebat apa pun yang ia katakan. Tapi, kali ini hanya satu kata, membuatnya gemas dan berakhir mengacak-acak rambut putranya. “Habiskan minummu, setelah ini kita lanjut jalan-jalan lagi. Kemanapun akan ku turuti, atau mau beli apa? Katakan saja pada Daddy keinginanmu.”


“Apa pun permintaanku akan dituruti?” tanya Colvert memastikan sekali lagi.


“Ya.”


“Oke.” Colvert meletakkan gelas yang sudah kosong ke atas meja. “Aku ingin Daddy berjanji tidak akan membuat Mommy menangis atau menyakitinya seperti dahulu.”


Arsen mengangguk. Dari sekian banyak barang di dunia yang bisa ia belikan pada Colvert, ternyata yang dipikirkan oleh anak itu justru Mommy. Ah ... dia sangat iri karena Bellinda beruntung sekali bisa memiliki dan membesarkan anak yang begitu menyayangi. “Aku akan mengusahakan. Ada lagi?”


...........

__ADS_1


Seharian penuh Arsen dan Colvert menghabiskan waktu berdua tanpa beban atau tekanan batin. Keduanya sama-sama senang, jelas terlihat dari wajah yang berseri. Tapi, sayangnya, semua itu harus berakhir karena ia perlu mengantar pulang ke mansion Baldwig.


“Terima kasih sudah mengajak aku jalan-jalan, Daddy,” ucap Colvert seraya melepas seatbelt.


“Daddy juga senang bisa pergi denganmu.” Arsen mengusap puncak kepala Colvert, lalu mencondongkan tubuh dan mengecup kening putranya. “Ayo, turun, aku harus mengantarmu sampai dalam dan memberi tahu mommymu kalau kau tidak tergores sedikit pun.” Ia lekas membuka pintu.


Sepasang Daddy dan anak itu berjalan dengan bergandengan tangan menuju pintu. Masuk begitu saja setelah ada pelayan yang membukakan.


Baru juga melangkah beberapa kali, sudah disambut oleh tatapan tak mengenakkan saja dari Nyonya Baldwig.


“Colvert, kenapa mau pergi dengan pria yang sudah—” Nyonya Baldwig terpaksa menggantungkan perkataannya karena ada suara yang menyela.

__ADS_1


“Mom ...!” tegur Bellinda.


Akhirnya si malaikat keluar diwaktu yang tepat, sebelum Colvert mendengar ocehan wanita paruh baya yang tidak memiliki penyaring saat bicara di depan putranya.


__ADS_2