Buried Love

Buried Love
Part 41


__ADS_3

Bellinda mengedikkan bahu sebagai jawaban. Antara percaya kalau mantan suami mulai mencintainya, dan tidak. Jika dilihat dari sepuluh bulan terakhir, Arsen memang jauh berbeda dari yang dahulu. Pria itu sekarang terang-terangan tertarik dengannya. Tapi, apakah benar kalau cintanya tulus? Bukan sekedar ingin mendapat pengakuan anak atau menuntaskan hasrat saja? Entahlah, dia ingin tidak memikirkan cinta-cintaan diusia yang semakin mendekati tiga puluh. Tapi, tetap saja sulit, sesekali pasti kepikiran.


Arsen mengecup puncak kepala Bellinda. “Tak masalah kalau belum percaya, nanti kau juga akan yakin dengan sendirinya, seiring berjalannya waktu.”


Pria itu mengurai pelukan, mundur satu langkah sampai bisa melihat wajah Bellinda yang tegang. “Aku pulang dulu, besok Colvert ulang tahun, kan? Kita ajak dia jalan-jalan, mau?”


Bellinda menaikkan kedua alis seolah berpikir. Dari mana Arsen tahu tanggal kelahiran putranya? Dia tak pernah cerita atau membahas masalah itu. Ternyata banyak sekali yang pria itu ketahui, mungkin dengan mencari tahu sendiri.


Sebenarnya ada kehangatan dirasakan oleh Bellinda saat Arsen memiliki inisiatif menggali informasi tentangnya dan Colvert, terlihat memang peduli. Tapi, lagi-lagi pikiran selalu memberikan rambu-rambu waspada ditinggalkan lagi setelah menyerahkan segalanya. Mungkin dia masih trauma.

__ADS_1


“Em ... besok aku tanya pada Colvert dulu,” jawab Bellinda.


Arsen mengangguk, lalu tanpa aba-aba langsung mengecup kening Bellinda hingga wanita itu mengerjapkan mata. Sementara ia hanya membalas dengan senyuman. Mungkin dengan rutin memberi sentuhan bisa perlahan merobohoan benteng pertahanan wanita itu.


“Kau juga istirahat, mandi air dingin jangan lupa.” Arsen mulai mengayunkan kaki. Tapi berhenti tepat di samping Bellinda untuk menyempatkan berbisik. “Tadi sudah tegang, kan? Gelisah, ingin mendapatkan sentuhan tapi kau tahan. Jadi ... saranku, dinginkan dulu hasratmu itu,” bisiknya.


Bellinda membulatkan mata, rasanya ingin sekali mencubit lengan mantan suaminya. Ternyata tanpa sadar sudah ia lakukan karena Arsen mengaduh kala jarinya beraksi.


Arsen terkekeh dan mengacak-acak rambut Bellinda. “Reaksimu kalau malu ternyata menggemaskan.” Dia lalu berjalan mundur menuju pintu, terus melemparkan senyum jahil dan lambaian tangan.

__ADS_1


Bellinda mencebikkan bibir. Akhirnya bisa bernapas lega saat pria itu sudah hilang dari jangkauan mata.


...........


“Aku mau ... tapi camping di hutan, ya?” Colvert terlihat gembira dan menyetujui saat pagi hari Bellinda memberi tahu kalau Arsen hendak mengajak jalan-jalan sebagai perayaan ulang tahun yang ke enam.


“Mommy belum mempersiapkan apa pun kalau kita camping. Jalan-jalan ke pantai saja, ya?” Bellinda berusaha menolak. Berkemah pasti butuh banyak barang yang perlu dibawa, sementara ia tak punya tenda dan berbagai perlengkapan lainnya.


Wajah antusias Colvert sirna, dia menundukkan kepala. “Padahal aku ingin sekali berkemah di hutan. Tapi ... ya sudah, kita ke pantai sesuai keinginan mommy saja.” Bocah itu lalu membalikkan tubuh. “Aku ke kamar, ganti pakaian dulu, Mom,” pamitnya lesu.

__ADS_1


Bellinda yang melihat reaksi Colvert pun jadi ikut sedih. Anaknya terlihat sangat menginginkan berkemah. Maka, dia memutuskan untuk ke unit sebelah. Kini sedang berdiri di depan apartemen Arsen, menanti pria itu membukakan pintu.


Orang yang dinanti pun terlihat baru saja bangun tidur saat menyambut Bellinda. “Tumben mau bertamu ke tempatku, apa semalam kau tidak bisa tidur karena gelisah memikirkan hasratmu yang belum tuntas?” Masih pagi sudah menggoda mantan istri saja duda satu itu.


__ADS_2