
Untunglah tadi Bellinda sedang ada di balkon dan melihat ke arah luar. Jadi, ketika mobil Arsen datang, ia tahu. Langsung turun karena ingin menyambut kepulangan anaknya. Tapi, justru melihat mommynya menghampiri Colvert dan siap mengeluarkan ocehan yang pasti menyudutkan mantan suaminya lagi.
Bellinda mengusap puncak kepala Colvert supaya bocah itu beralih fokus padanya. “Sayang, masuk ke kamar dan ganti pakaian, ya ...,” pintanya begitu lembut.
“Iya, Mommy.” Colvert melambaikan tangan pada Arsen. “Bye ... bye, Daddy. Sampai bertemu lagi.” Lalu kakinya melangkah menjauh dari tiga orang dewasa yang mungkin ingin adu mulut. Entahlah, pasti ada alasan kenapa mommynya meminta supaya ia pergi ke kamar. Dia hanya bisa menurut kalau yang meminta sudah Bellinda.
Nyonya Baldwig terlihat memasang wajah masam dan tak suka atas kehadiran Arsen di sana. “Untuk apa kau masih di sini?” sindirnya.
“Aku akan segera pulang.” Arsen berusaha menjawab tanpa memantik pertikaian agar urusan tak berujung panjang.
Nyonya Baldwig mengibaskan tangan seolah mengusir tanpa suara.
Si duda berusaha tahan emosi kalau berhadapan dengan Nyonya yang tingkat sakit hatinya sudah sampai ubun-ubun. Dia maklum karena untuk memaafkan kesalahan orang lain itu tidak mudah, kecuali memang memiliki sifat pemaaf dan bagaikan malaikat seperti Bellinda juga Tuan Baldwig.
__ADS_1
Lebih baik Arsen mengalihkan pandangan sedikit bergeser ke arah Bellinda. “Bisa bicara sebentar?”
“Tidak.” Bukan Bellinda yang menjawab, tapi mantan mertua Arsen yang berbicara selalu sinis kalau dengan si duda.
“Mom ...,” Bellinda sengaja menegur. Sudah cukup dia terikat oleh satu perjanjian, hanya mengobrol jangan sampai dilarang juga. Nyonya Baldwig langsung mencebikkan bibir dan melengos, lalu melenggang pergi meninggalkan dua manusia itu.
“Bisa, mau bicara di sini atau jalan-jalan di depan?” tawar Bellinda kemudian setelah mata berpusat pada mantan suami.
“Boleh, sambil jalan di depan.”
Sepasang mantan suami istri itu mengayunkan kaki di sepanjang taman depan mansion. Suasana begitu tenang dengan cahaya lampu dari sisi kanan dan kiri jalan.
“Kau sungguh menerima perjodohan itu? Dengan ... Steven?” Arsen mulai membuka perbincangan.
__ADS_1
Bellinda hanya menjawab dengan anggukan pelan. Wajah yang terkesan terpaksa itu tak nampak karena cahaya tak menyiraminya.
“Hari ini Colvert dan aku pergi jalan-jalan. Dia hanya minta minum strawberry milkshake di tempat kesukaanmu.” Arsen terkekeh pelan seraya tubuh berhenti bergerak, tentulah diikuti oleh Bellinda. “Selama jauh darimu, anak itu selalu ingat mommynya.” Kepala lalu menunduk dan menghela napas bingung. “Pasti akan semakin sulit untuk aku dan anak sendiri menghabiskan waktu kalau kau sudah menikah bersama pria lain,” keluhnya kemudian.
Bellinda menggelengkan kepala diiringi senyuman dan usapan tangan pada punggung Arsen. “Tidak akan. Kau dan Colvert tetap bisa bertemu, bagaimanapun keadaannya.”
Obrolan mereka tidak berlangsung lama, Arsen dapat menyimpulkan kalau Bellinda dan Steven akan menikah sungguhan. Entahlah bagaimana cara mewujudkan keinginan Colvert. Nanti akan dipikirkan. Tapi, untuk saat ini ia lebih baik pulang ke Helsinki dan melakukan rapat darurat bersama ketiga temannya supaya menemukan cara.
Sementara itu, Bellinda segera menemui mommynya ketika Arsen sudah pergi. “Mom ... kau sudah berjanji tidak akan berbicara sembarangan atau mengatakan kejelekan mantan suamiku di depan Colvert. Tadi hampir kelepasan, kan?”
“Tidak, kata siapa?” elak Nyonya Baldwig. Dia tetap fokus dan sibuk dengan ponsel.
“Kalau aku tidak datang menegur, pasti kau akan menjelekkan Arsen lagi, kan?”
__ADS_1
Awalnya Bellinda menolak dan tidak mau dijodohkan dengan Steven. Tapi, melihat bagaimana saat makan malam kemarin Arsen dikuliti habis-habisan kesalahan masa lalunya di depan anak sendiri, ia lalu membuat kesepakatan dengan sang Mommy.
Janji yang Bellinda maksud adalah itu, bersedia menikah bersama pria pilihan mommynya asalkan tidak lagi menghalangi Colvert bertemu Arsen dan sebaliknya. Selain itu juga dia meminta supaya menyaring ucapan, tidak menjelekkan Arsen. Mau bagaimanapun, Arsen adalah Daddynya Colvert. Dia tak mungkin tega melihat putranya membenci orang tua sendiri karena terpengaruh ucapan grannynya.