
“Oh, ya? Tapi aku tak pernah lihat ada ular di apartemenmu.” Colvert langsung penasaran dengan ular daddynya yang ditakuti oleh sang Mommy. Namanya juga anak kecil, dia tahunya hewan sungguhan, bukan seperti yang ada di dalam pikiran orang dewasa.
Bellinda diam, membungkam mulut. Astaga ... mulutnya benar-benar tidak kontrol di depan anak. Efek Arsen yang tadi menggodanya, berakhirlah sekarang jadi seperti itu. Dia memberikan kode mata supaya mantan suami yang menjelaskan.
Sementara Arsen terkekeh mendengar pertanyaan anak sendiri yang ternyata memiliki rasa ingin tahu sangat tinggi. “Ularnya ku sembunyikan supaya tidak bisa dilihat orang,” jelasnya seraya mengacak-acak rambut Colvert dengan gemas.
Mereka bertiga masih dalam perjalanan menuju lahan untuk camping. Katanya dekat, tapi nyatanya belum sampai juga sampai sekarang.
Colvert mendongak untuk menatap daddynya. “Kenapa? Aku mau lihat ularmu, memangnya berbisa sampai harus disembunyikan?” protesnya.
“Oh ... sangat berbisa untuk mommymu.” Arsen mengedipkan sebelah mata pada Bellinda. Masih sempat saja dia menggoda wanita itu.
“Ya jangan diperlihatkan ke Mommy, aku saja yang lebih pemberani.” Colvert menarik-narik tangan Arsen supaya diberi izin. Dia suka melihat reptil, ingin memelihara tapi tidak boleh oleh Bellinda.
Bellinda tersenyum menahan tawa saat melihat mimik Arsen yang kuwalahan menanggapi ocehan putra mereka. Dia akan tutup mulut sampai pembicataan Colvert tentang ular berhasil dituntaskan.
__ADS_1
“Sayangnya, ular itu hanya mau keluar kalau berdua bersama mommymu. Jadi, Colvert tidak bisa bertemu.” Arsen kembali mengacak-acak rambut putranya. Ternyata pusing juga menanggapi anak kecil yang terlalu pintar.
Colvert mencebikkan bibir kesal. “Bilang saja pelit,” gerutunya seraya menghempas genggaman tangan Arsen hingga terlepas dari tangannya. Dia melengos, merajuk.
Si duda satu itu bergeleng kepala menghadapi tingkah dirinya versi kecil. Tapi, bukan Arsen namanya kalau membiarkan Colvert merajuk lama.
“Sudah sampai. Ayo bantu Daddy mendirikan tenda,” ajak Arsen. Untunglah tepat sekali kaki mereka memasuki area yang memiliki space lumayan luas dan bertuliskan camping area. Jadi, ada alasan untuk membuat Colvert kembali mau berinteraksi.
Tapi, bocah itu masih melengos. “Malas, aku tidak diberi izin lihat ularmu.”
“Tidak jadi camping? Ya sudah, kita pulang lagi kalau Colvert tidak mau membantu.” Namanya juga Arsen, memaksa dan mengancam adalah jurus andalannya.
“Jadi ... sudah sampai sini kenapa harus pulang.” Akhirnya Colvert pun memilih untuk berhenti mengabaikan daddynya. Dia menghampiri Arsen yang baru saja menurunkan dua tas besar. “Mana tendanya?” Dia meminta dengan suara ketus bercampur dongkol perkara ular.
Bukannya langsung mengeluarkan benda yang diminta, Arsen justru berjongkok supaya tingginya setara dengan Colvert. “Cium Daddy dulu.” Telunjuknya menyentuh pipi.
__ADS_1
“Ish ....” Meski menggerutu, tapi Colvert tetap saja mendekat dan mengecup dua pipi daddynya.
Arsen langsung memeluk bocah itu penuh kasih. “Jangan ngambek, nanti ku belikan ular sendiri untuk kau pelihara,” bujuknya.
“Sungguh?” Colvert langsung antusias dan tak ketus seperti tadi.
Arsen mengangguk saat dua tangan memegang lengan putranya. “Serius.”
“Yes ....” Kini Colvert memeluk Arsen semakin erat.
“Ehem!” Bellinda berdeham. “Tapi jangan dipelihara dalam apartemen Mommy, ya.”
Colvert langsung menepuk kening saat ingat kalau mommynya pasti tak memberikan izin. “Simpan di apartemenmu, boleh?” pintanya dengan wajah memelas pada Arsen.
“Oh, tentu boleh. Nanti yang di apartemen mommymu biar ularku saja.” Arsen tersenyum menggoda ke arah jandanya.
__ADS_1