Buried Love

Buried Love
Part 73


__ADS_3

Bellinda menarik kakinya sebelum Steven berhasil memijat. Dia lekas menyerongkan tubuh supaya tak berada di depan pria itu persis. “Tidak perlu repot-repot. Aku hanya ingin duduk,” tolaknya kemudian.


“Oh, baiklah, aku temani.” Steven tidak memaksa. Dia justru ikut mendaratkan pantat di samping si janda.


Bellinda hanya diam. Dia mengamati orang-orang yang silih berganti berjalan, menghiraukan Steven yang ada di sebelahnya. Tapi, secara kilat bisa merasakan ada tangan yang tiba-tiba menggenggamnya. Otomatis membuat mata pun melirik ke arah si pelaku.


“Maaf, aku kurang nyaman.” Bellinda mencoba menarik tangannya supaya dilepaskan. Tapi, pria itu membalas dengan ulasan senyum dan mengusap permukaan kulitnya.


“Kau harus mulai membiasakan diri seperti ini. Kita sebentar lagi akan menikah, kalau terus menghindar saat aku sentuh, bagaimana bisa berjalan dengan lancar urusan yang lainnya?” tutur Steven. Pria itu kalau berbicara memang lembut, juga setiap perlakuannya tidak pernah kasar. Mungkin karena sudah terbiasa memperlakukan banyak wanita, jadilah pro dalam mendekati lawan jenis.


Mengingat pernikahan, sepertinya Bellinda memang harus mengajak Steven bicara, sekarang. Sebelum semua terlambat dan ia akan berakhir dalam pernikahan yang tak diinginkan. “Bisa kita mengobrol sebentar?”

__ADS_1


Steven merespon dengan alis naik sebelah. “Bukankah sejak tadi kita juga mengobrol. Ada-ada saja kau itu.” Tangannya mengacak-acak rambut Bellinda. “Mau bicara denganku tak perlu izin dulu, aku bukan pejabat,” selorohnya kemudian.


Bellinda melirik ke arah toko perhiasan yang berdinding kaca. Dari posisinya masih bisa melihat dua Nyonya sibuk memilih. “Tidak di sini, kita cari restoran atau tempat yang nyaman untuk mengobrol berdua.” Dia tak mau kalau sedang berbicara masalah penting, lalu terpotong atau tiba-tiba mommynya datang mendengar semua yang hendak ia katakan pada Steven. Bisa gawat.


“Boleh, kau lapar? Kita makan di sana saja.” Steven berdiri setelah menunjuk lokasi yang dimaksud, seraya tangan terulur ke hadapan Bellinda untuk menawarkan gandengan.


Tapi, diabaikan. Bellinda memilih berdiri sendiri. “Boleh.” Dia pun berjalan mendahului.


Akhirnya Bellinda menghela napas pasrah. Untung tempatnya tidak terlalu jauh. Jadi, keduanya kini sudah sampai di restoran. Ia langsung mengambil posisi duduk di kursi kosong. Terlepas juga genggaman tangan Steven.


“Mau pesan apa?” Steven mendorong buku menu ke hadapan Bellinda. Membiarkan wanita itu lebih pertama memilih.

__ADS_1


“Strawberry milkshake saja.” Sebenarnya Bellinda tak terlalu lapar, hanya ingin bicara lebih serius dan jauh dari dua Nyonya yang selalu antusias kalau menyangkut pernikahannya dengan Steven.


“Tidak makan?” Steven bertanya sembari mengambil alih buku menu.


Bellinda menggeleng tanpa mengeluarkan suara apa pun.


Steven pun memanggil waiters dan memesan dua minuman. Dia lalu kembali fokus menatap wajah cantik Bellinda dengan senyum terus mengembang.


“Kenapa wajahmu sejak tadi terlihat tidak senang? Apa sedang banyak masalah?” tanya Steven. Lagi-lagi tangannya ingin menggenggam milik Bellinda yang sedang ada di atas meja.


Tapi, wanita itu sudah terlebih dahulu menarik dan disembunyikan di bawah meja. Kepala kemudian mengangguk membenarkan pertanyaan tadi. “Iya.”

__ADS_1


“Oke, katakan padaku, apa yang membuatmu banyak pikiran?” Di samping Steven yang memang hidup bebas karena itu adalah kebutuhan biologis yang tak bisa diabaikan, dia adalah pria yang selalu bisa menjadi pendengar keluh kesah orang lain.


__ADS_2