
Bellinda tak langsung menjawab. Kepalanya sedikit meneleng untuk melihat apakah mommynya sudah masuk kamar atau belum. Ternyata masih mengamati dengan berdiri tegak di ujung tangga.
“Maaf, aku tidak bisa.” Bellinda lalu menunduk seolah menyesal dan merasa bersalah. Tapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa kalau sedang diawasi. Ada hal yang kini sudah mengikatnya dengan sang Mommy. Sebuah janji yang tak mungkin ia ingkari.
Arsen tetap tersenyum walaupun hati sedang tak baik-baik saja. Dia rindu mengobrol dengan Bellinda, walau sebatas mengusili menggunakan kemesumannya meskipun tak pernah benar-benar disalurkan pada mantan istri. Namun, ia sangat senang melihat wajah wanita itu ketika bersemu malu. Lalu sekarang? Sepertinya Bellinda tidak bisa digapai lagi untui diajak kembali. Diajak bicara saja ditolak.
Rasanya Arsen ingin bertanya, kenapa? Tapi, melihat kegelisahan Bellinda yang beberapa kali melihat arah belakangnya, dan ketika ia menengok ke arah yang sama, sekarang sudah tahu kenapa ajakannya ditolak. Pasti tidak jauh-jauh dari mantan mertua.
__ADS_1
“Ya ... tak apa. Mungkin kita bisa mengobrol lain kali.” Senyum yang ada di bibir Arsen itu bercampur oleh rasa getir yang tak mampu dibendung. Dia tidak pernah menyangka kalau hubungan yang terakhir kali nampak baik-baik saja, kini ada belenggu sebuah perjodohan sebagai pemisah. Kejam sekali nasib cintanya. Balasan atas kesalahan masa lalu ternyata semenyakitian itu.
Arsen lalu berjongkok hingga sejajar di hadapan Colvert. Tangannya terulur untuk membelai lembut rambut putranya. “Kalau kau, mau ikut Daddy? Aku ....” Ia menelan ludah sesaat dan menahan desakan air yang rasanya ingin berkumpul di mata. “Rindu denganmu.” Bahkan dengan anak sendiri pun sampai harus meminta saat ingin mengajak pergi atau sebatas mengobrol. Miris sekali.
Colvert menggeleng. Sampai sekarang tatapannya masih tetap datar dan sulit untuk dimengerti tentang apa yang dirasakan pada daddynya. “Aku tidak mau karena Mommy tak mau.”
Meski sakit ditolak lagi. Tapi, Arsen tetap menunjukkan ketegaran. Bisa mengusap pipi Colvert tanpa ditepis pun ia sudah senang. “Oke, sudah malam juga. Pasti kau lelah.”
__ADS_1
Bellinda Ikut berjongkok setelah tak ada buliran yang menetes lagi. Meraih pundak putranya untuk dihadapkan ke arahnya. “Colvert ikut Daddy, ya? Colvert itu punya dua orang tua, ada Mommy dan Daddy. Jadi, tidak bisa mengikuti apa mau Mommy terus. Sekarang, kau pergilah bersama daddymu, pulang ke apartemennya. Dia merindukanmu, sama seperti Colvert juga kangen, kan?”
Bocah itu mengangguk pelan seperti takut ingin mengiyakan.
“Sesekali Colvert tidur dengan Daddy. Belum pernah, kan? Katanya mau punya Daddy, sekarang sudah ada di depan mata, loh. Tidak boleh didiamkan, nanti kalau hilang bagaimana? Bingung carinya.” Bellinda berbicara seraya menggenggam tangan mungil putranya, memberikan usapan lembut supaya bocah itu mau pergi.
“Iya, Mommy.” Colvert lalu berbalik menatap daddynya. “Aku mau ikut.”
__ADS_1
Detik itu juga Arsen langsung mengulurkan tangan untuk menggandeng putranya. Rasanya senang dan tak bisa diungkap dengan apa pun saat Colvert akhirnya mau bicara lagi dengannya setelah tadi hanya diam dengan wajah datar.
“Terima kasih, kau sudah mengizinkan Colvert untuk pulang bersamaku,” ucap Arsen pada mantan istri. Dia mengulurkan tangan hendak mengusap puncak kepapa Bellinda. Tapi, wanita itu justru melangkah ke belakang untuk menghindar, jadilah hanya udara yang bisa tersentuh.