
Arsen seperti kehilangan kemampuan bicaranya ketika dihadapkan pada orang tua Bellinda. Sejak tadi ia memilih diam karena belum tahu kalimat apa yang cocok digunakan sebagai pembelaan diri. Mungkin juga karena ia sadar atas kesalahannya dan merasa pantas mendapatkan semua yang diterima. Semua olokan dari menguliti kesalahan masa lalunya.
Arsen tidak masalah kalau keburukannya dibicarakan pada orang lain. Asal jangan di depan anaknya. Dia jadi kepikiran dengan tatapan Colvert saat meninggalkan ruang makan.
“Sen? Kau mau ikut aku minum kopi di taman belakang atau tidak?” Tuan Baldwig kembali menawarkan karena sejak tadi belum juga dijawab. “Daripada kau tetap di sini dan mendengar ocehan yang membosankan,” imbuhnya kemudian.
Bellinda memberikan isyarat menggunakan kepala digerakkan ke arah daddynya. Pertanda kalau Arsen lebih baik ikut pergi.
Arsen yang menangkap gerakan mantan istrinya pun mengangguk. “Ya, aku ikut.” Dia lekas menggeserkan kursi ke belakang dan berdiri. Sepertinya mendekati dan mencari dukungan dari Tuan Baldwig jauh lebih mudah dibandingkan mantan mertua yang satunya.
Langkah kaki Arsen mengikuti dua pria paruh baya. Dia sadar kalau kepergiannya tak lepas dari tatapan kebencian dari Nyonya pemilik rumah.
__ADS_1
Tiga pria itu duduk di kursi yang ada di taman belakang. Cahaya tidak terlalu terang menyirami area itu, tapi juga tak gelap. Suasana yang enak dan nyaman jika untuk merenung.
Tiga cangkir kopi sudah tersaji di atas meja kecil. Tadi Tuan Baldwig pesan pada pelayan supaya mengantar ke sana.
“Ayo dinikmati, selagi panas. Enak diseruput sedikit demi sedikit,” ucap Tuan Baldwig. Dia meraih pegangan cangkir terlebih dahulu.
Ternyata Arsen lebih sungkan diperlakukan baik oleh mantan mertua. Dia sampai bingung, sebenarnya apa yang dipikirkan oleh daddynya Bellinda sampai sejak tadi membelanya dan mengajak minum kopi pula. Bahkan sudah sepuluh menit duduk bersama pun tidak ada menyinggung atau mengungkit tentang kesalahannya di masa lalu, justru mengobrol ringan dengan Tuan Dane, tentang bisnis tentunya.
“Oh, iya? Wah ... keren. Putraku justu memilih untuk freelance sebagai arsitek. Katanya kalau usia sudah tiga puluh lima atau menikah baru mau mengelola perusahaan.” Tuan Dane jadi ikut memuji. “Kapan-kapan kita bisa kerjasama. Siapa tahu lini bisnis perusahaanmu sejalan denganku.”
Arsen mengangguk setelah menyeruput kopi. Padahal sejak memutuskan ikut keluar, dia sudah menyiapkan diri seandainya akan dikuliti lagi. Tapi, ternyata bersama para pria paruh baya lebih membicarakan pekerjaan. “Boleh, tapi aku sedang tak membawa kartu nama.”
__ADS_1
“Nanti aku beri nomornya kalau butuh.” Tuan Baldwig menyahut seraya meletakkan cangkir lagi ke atas meja.
“Kau punya?” tanya Tuan Dane memastikan.
“Tentu saja, dulu dia pernah jadi menantuku, mana mungkin tidak ku cari tahu nomor ponselnya,” jelas Tuan Baldwig diiringi kekehan ringan.
Demi apa pun, perasaan Arsen justru tidak keruan kalau berhadapan dengan mantan mertua yang satu itu. Dia semakin terlihat layaknya bedebah. Daddynya Bellinda saja punya nomornya, tapi ia sama sekali tidak memiliki atau menyimpan apa pun tentang Tuan Baldwig.
Ternyata, dihadapkan dengan manusia berhati baik itu jauh membuat Arsen semakin terlihat bersalah, dibandingkan menghadapi orang yang menguliti kesalahannya. Sampai di sini ia tambah merasa sangat hina dan bodoh karena sudah melepaskan seorang malaikat. Juga bagaikan tak memiliki urat malu karena dengan percaya dirinya mengharapkan mantan istri kembali. Sementara ia melihat sendiri bagaimana baiknya Steven tadi, saat membelanya di depan semua orang supaya para Nyonya berhenti berbicara tentang keburukannya.
Apa aku sepadan untuk Bellinda? Dia baik, ada pria yang memiliki kepribadian bagus juga yang siap menjadi pendampingnya. Apakah iblis cocok jika bersatu dengan malaikat? Bukankah malaikat tempatnya di surga? Bukan di neraka? Arsen tersenyum kecut bercampur miris setelah berperang dengan pikiran. Haruskah aku merelakannya dimiliki orang lain?
__ADS_1