C.A.T.S (Catch And Thief System)

C.A.T.S (Catch And Thief System)
Chapter 16


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, seluruh kelas 1 mengadakan praktik lapangan ke pegunungan yang berada di luar kota Kosaka. Tujuan praktik lapangan ini untuk membiasakan murid murid hidup berdampingan dengan alam selama tiga hari. Di dalam bis,


“Begini, aku tahu kita satu kelompok, tapi apa harus ya, duduk nya seperti ini ?” Tanya Kaito.


Kaito duduk di tengah dengan Reina, Marin, Yuka dan Airi duduk di sebelah sebelah nya di kursi paling belakang bis. Sekarang giliran Reina dan Marin yang duduk di sebelah Kaito, setelah 10 menit mereka akan bergantian dengan Yuka dan Airi.


“Hehehe biar akrab dong...” Jawab ke empatnya.


“Lalu bukankah ini field trip kelas 1 ya, kenapa ada tiga senpai kelas 2 ikut bersama kita ?” Tanya Kaito.


“Tch...jangan bahas hal hal kecil.” Ujar Nagisa sambil melipat tangan di dada.


“Si prince benar tuh Kaito kun, kita tidak perlu bicarakan hal hal kecil.” Tambah Chisato.


“Tenang saja Kaito sama, kita bertiga tidak akan mengganggu hohoho....” Tambah Fumiko.


“Tolong lakukan sesuatu, di dalam bis ini mulai terasa panas dan tajam....” Ujar Kaito sambil menunjuk ke lorong bis.


Ke tujuhnya menoleh, mereka melihat semua siswa dan siswi memandang ke arah belakang tanpa diam diam dan terang terangan, mereka semua melihat Kaito dan bertanya tanya kenapa makhluk seperti dia bisa di kelilingi oleh para bidadari.


“Ah tidak udah di pikirkan....sini....” Nagisa langsung menggeser Marin dan duduk di sebelah Kaito.


“Oi senpai.....” Teriak Marin.


“Hooo ide bagus....” Fumiko langsung menggeser Reina dan duduk di sebelah Kaito.


“Senpai....” Teriak Reina.


“Wah aku tidak boleh ketinggalan nih....” Chisato langsung duduk di pangkuan Kaito.


“Senpai....” Teriak ke empat yang lainnya.


Dan keributan terjadi di kursi paling belakang, sensei yang duduk di paling depan hanya bisa menggelengkan kepalanya, sedangkan para murid yang melihatnya menjadi geram dan ada yang sampai menangis karena rasa iri nya. Hampir semuanya bertanya, “Kenapa semua memperebutkan dia.....” di dalam hati mereka.


“Yuk ambil foto...” Usul Chisato.


Ke tujuhnya langsung duduk bersebelahan dengan Kaito, kemudian Chisato memberikan smartphone pada seorang siswa untuk memfoto mereka. Karena tidak punya pilihan, siswa itu memfoto mereka sambil menggigit bibirnya. “Cklik.” Foto di ambil, semua berpose sambil menunjukkan cincin di tangan mereka. “Cklik.” Foto di ambil sekali lagi dan semua berpose mencium Kaito.


“Maaf senpai....aku tidak kuat....huaaaaaaaaaa....” Teriak siswa yang mengambil foto sambil kembali ke tempat duduk nya setelah mengembalikan smartphone Chisato.


Ke tujuhnya tertawa kencang melihat siswa itu, hanya Kaito yang menutup wajah nya dengan tangan karena malu. Akhirnya semua murid menoleh kembali ke depan dan membiarkan kelompok Kaito sendiri di belakang. Bis sampai di kaki gunung, karena lokasi praktik lapangan ada di atas gunung dan bis tidak bisa naik, mereka meneruskan dengan jalan kaki. Semua murid bingung dan heran karena kelompok Kaito di tambah 3 senpai tidak membawa barang sama sekali, sedangkan mereka membawa semua dari tenda sampai ke pakaian ganti. Mereka melihat ke delapan nya mendaki dengan santai dan bercanda. Tapi karena melihat Fumiko di antara mereka, semuanya menjadi tidak heran lagi, sebab karyawan dan anak buah Fumiko pasti sudah menyiapkan semua di atas. Padahal semua barang bawaan mereka ada di dalam safety box milik Kaito dan tinggal di keluarkan di atas.


“Asik juga ya seperti ini....” Ujar Marin.


“Iya, jalan naik gunung menyenangkan kalau tidak bawa apa apa hehe.” Tambah Yuka.


“Hehehe field trip pertama ku menyenangkan....” Ujar Airi.


Selagi berjalan, tiba tiba beberapa siswa pria menghampiri Reina dan Chisato yang kebetulan di belakang.


“Hoshino san, kenapa kamu mau dengan pria seperti itu ?” Tanya siswa laki laki yang sepertinya tidak terima melihat Reina dekat dengan Kaito.


“Terserah aku dong, memang Kaito kun pria seperti apa menurut mu hah ?” Tanya Reina ketus.


“Um...dia kan jelek, culun, pendek, suram lagi.....benar kan ?” Ujar siswa itu.


“Iya benar Hoshino san, tidak ada yang bagus dari Tanaka kun...” Tambah seorang siswa lagi.


“Hmm...trus kalian lebih baik gitu dari dia ?” Tanya Chisato.


“Jelas senpai, walaupun kita biasa saja, tapi kalau di banding dia kita lebih tampan.”


Reina dan Chisato langsung tertawa kencang, beberapa siswa yang bertanya malah menjadi bingung.


“Asal kalian tahu ya, kalian semua itu tidak ada apa apanya di banding dia...” Ujar Reina.

__ADS_1


“Bukti nya apa ?” Tanya seorang siswa.


“Buktinya kita bertujuh mau bersama dengan nya kan....” Jawab Chisato.


“Iya tapi kenapa harus sama dia....”


“Jawaban nya simpel, karena kami tidak suka cowo model seperti kalian, yang bisanya hanya merengek dan menjelek jelekan orang lain, paham ?” Balas Chisato.


“Hehehe mati kutu mereka senpai.....tidak bisa jawab lagi. Mana bisa mereka di bandingkan dengan Kaito kun. Kalian tidak lebih baik kok dari dia....kalau lebih buruk iya.” Tambah Reina.


Wajah para siswa itu menjadi merah karena malu, Reina dan Chisato langsung berlari menyusul semua yang sudah di depan mereka. Ketika sampai di tempat perkemahan, berhubung grup Kaito lebih dulu sampai dan jauh meninggalkan yang lain, mereka langsung memasang tenda secara berderet dan bagian dalam nya tersambung sebab tenda mereka adalah hasil karya CATS yang di minta oleh Kaito. Tujuan nya supaya mencegah para siswa laki laki yang punya niat tidak baik pada ketujuh gadis yang bersamanya, tidak bisa macam macam. Mereka langsung beristirahat di dalam tenda. Reina, Nagisa, Airi langsung tidur di dalam tenda, sepertinya mereka kelelahan, sebab Reina adalah penanggung jawab praktik lapangan ini, sedangkan Nagisa dan Airi kelelahan karena berlatih.


“Aku di luar dulu ya.....”


Kaito keluar dari tenda, dia melihat teman teman sesama kelas 1 baru saja tiba di atas, dia langsung menghindar dan berjalan jalan di sekitar wilayah perkemahan, tiba tiba,


“Hei, aku ikut, Yuka dan Marin juga mau istirahat, jadi aku ikut kamu saja.....” Ujar Chisato.


“Ok senpai....”


“Jangan panggil senpai napa, panggil Chi saja, kan sudah ku bilang waktu itu.”


“Iya Chi san, maaf..... “


Akhirnya mereka berdua berjalan jalan berkeliling wilayah perkemahan, sampai mereka menemukan sebuah sungai besar yang sangat deras dan berbatu. Ketika mereka sedang berjalan menelusuri sungai, mereka melihat sebuah torii di depan mereka,


“Hmm ada kuil ya di atas ?” Tanya Chisato.


“Sepertinya, mau coba naik Chi san ?” Tanya Kaito.


“Yuk, kita lihat ke atas ada apa.....” Balas Chisato.


Keduanya berjalan menelusuri tangga, ketika naik tangga, mereka melihat ujung sungai itu ternyata air terjun yang sangat deras dan tampak indah. Kaito menuntun Chisato menaiki tangga yang ternyata cukup tinggi itu, begitu sampai di atas, mereka melihat sebuah kuil yang sangat megah, tapi dari bagian belakang, keduanya mendengar suara ramai di bagian depan kuil,


“Um...Chi san, kita melanggar ga nih, masuk dari belakang begini ?” Tanya Kaito.


“Tenang saja, tidak apa apa.....” Ujar Chisato.


Akhirnya keduanya memutari kuil dan tiba di bagian depan yaitu halaman kuil, ternyata di sana sedang ramai, banyak mobil yang terparkir, sepertinya mereka masuk dari jalur mobil khusus yang di sediakan bagi pengunjung kuil. Banyak lampu sorot,  kamera kamera, para perias yang sedang merias dan beberapa orang yang sibuk bolak balik dengan memakai kaos bertuliskan “crew”.


“Waaah sepertinya sedang syuting film nih....” Ujar Chisato.


“Iya, kok ga ada bintang nya ya ?” Tanya Kaito.


“Kamu gimana....itu Watanabe Yuri dan sebelah nya Yuzukawa Junichi mereka terkenal loh.....” Balas Chisato.


“Oh benar juga.....” Balas Kaito.


Chisato menarik Kaito untuk mendekat ke lokasi syuting untuk melihat sedikit lebih dekat. Tiba tiba, “Boom.”“Boom.” Terdengar suara dua kali ledakan, Kaito langsung melindungi Chisato, kemudian dia melihat tebing di depan kuil longsor. Tapi belum sempat dia bereaksi,


"Hei lihat tebingnya runtuh, kita tidak bisa pulang...." Teriak seseorang.


Semua orang berlari menghampiri pintu kuil karena mendengar teriakan itu. Kaito langsung menarik Chisato mendekat ke pintu kuil dan melihat reruntuhan tebing menutupi jalan keluar, dari kejauhan, Kaito juga melihat tempat kemping mereka dan melihat banyak siswa dan sensei yang melihat reruntuhan itu. Orang orang yang di berada di sisi pintu dan melihat tebing juga jalanan mulai berisik dan  panik.


“Wow....gimana mereka bisa keluar kalau gini ?” Tanya Chisato sambil melihat mobil mobil yang terparkir di lapangan kuil.


“Um...kalian siapa ya ?” Tanya seorang crew kepada Kaito dan Chisato yang berdiri di sebelah nya.


“Oh kami anak sekolah Fukutoshi yang sedang kemping di sebelah...” Jawab Kaito.


“Hmmm begitu ya.....kenalkan, namaku Hishamori Akagi. Aku asisten sutradara di proyek ini.”


“Namaku Kaito dan ini Chisato....salam kenal....”


“Akagi san, ini syuting film apa ?” Tanya Chisato langsung.

__ADS_1


“Ini film horror berjudul “Kutukan pengantin kesepian.” Kemungkinan akan tayang tahun depan kalau sesuai jadwal.” Jawab Akagi.


“Wah kita harus nonton nanti, benar tidak calon suami ku hehe....” Ujar Chisato.


“Hah...iya.....” Balas Kaito.


Tiba tiba banyak sekali crew yang berlarian, kedua bintang langsung marah marah kepada sutradara yang berusaha menenangkan mereka. Karena melihat ada yang tidak beres, Chisato bertanya kepada Akagi.


“Akagi san, apa yang terjadi ?” Tanya Chisato.


Akagi menceritakan, kalau penulis skenario dan penulis novel dari tadi tidak muncul, padahal mobil nya sudah terparkir di lapangan parkir kuil sejak semalam. Para crew sibuk mencari nya dan sampai sekarang belum menemukan nya dimana mana. Kedua bintang itu sudah dari tadi marah marah karena syuting terlambat, sekarang mereka sedang mengkonfrontasi Gendo san sang sutradara dan yang mengikuti keduanya adalah penata rias Rinne chan.


“Hmm baiklah, semoga dia cepat di temukan, yuk Chi san, kita harus kembali ke perkemahan...” Ajak Kaito.


“Tunggu dulu Kaito kun, gimana kalau kita bantu cari....” Ujar Chisato.


“Um...ini kan bukan urusan kita...” Bisik Kaito di telinga Chisato.


“Aku mencium kasus....” Bisik Chisato di telinga Kaito.


“Haaaaa......” Ujar Kaito.


Tiba tiba beberapa crew berlari mendekati Akagi yang masih berdiri agak kedepan dari keduanya, wajah crew itu terlihat pucat. Tiba tiba Akagi panik dan langsung mendekati Gendo sang sutradara, kemudian semuanya berlari ke arah beberapa crew itu datang. Kaito dan Chisato berlari mengikuti mereka, akhirnya mereka sampai di halaman samping kuil dan melihat seorang pria yang tergantung di pohon dalam keadaan sudah tidak bernyawa, sepertinya dia bunuh diri, sebab di tubuhnya di temukan sebuah surat terakhir yang dia tulis.


“Tidak salah lagi, ini Fujitoshi, penulis skenario....kenapa jadi begini, kalian...cepat turunkan dia, kasihan kalau tergantung seperti itu.” Ujar Gendo kepada beberapa crew.


“Sutradara, telpon ku tidak ada sinyal, telepon anda gimana ?” Tanya Akagi yang berusaha menelpon polisi.


Sutradara mengambil smartphone nya dan menggelengkan kepala, kemudian semua mengeluarkan smartphone nya dan mereka juga tidak mendapatkan sinyal. Ketika dua orang crew berbadan besar sudah siap untuk memanjat dan menurunkan jenazah Fujitoshi, tiba tiba,


“Tunggu......aku lihat dulu sebentar, jangan turunkan dulu....” Teriak Chisato.


“Hei...siapa kamu, aku baru pernah melihatmu.....” Ujar Gendo yang menoleh karena mendengar teriakan Chisato.


“Iya benar, orang luar jangan ikut campur....” Teriak pemain protagonis pria bernama Junichi.


“Kok kamu bisa ada di sini ? Kamu datang darimana ?” Tanya pemain protagonis wanita Yuri.


“Namaku Chisato, kelas 2-1, aku detektif...kebetulan sekolah ku sedang kemping di sebelah.” Ujar Chisato bangga.


“Haaah.....ampun deh...kita terlibat masalah apa ini.” Kaito memegang kening nya sambil menggelengkan kepala.


“CATS, bisa bantu ?” Tanya Kaito di kepalanya.


[Bisa, tapi sepertinya Chisato tidak mau di bantu]


“Ya sudah, yang penting kamu bilang bisa sudah cukup.” Balas Kaito.


Chisato memakai sarung tangan nya dan langsung maju ke depan melihat jenazah yang masih tergantung, dia melihat pakaian nya, kondisi kuku kaki nya, dia juga menekan nekan kaki nya, kemudian dia menoleh dan melihat tangga tempat dia dan Kaito datang.


“Baiklah, silahkan di turunkan.....” Ujar Chisato.


Dua orang crew memanjat dan dua orang crew lagi bersiaga menerima jenazah yang akan di turunkan di bawah, ketika sudah berhasil dan di baringkan di tanah, Chisato kembali memeriksa, dia membuka mata dan mulut nya, kemudian memeriksa bagian leher yang tergantung dan belakang kepalanya, dia juga melihat surat yang di selipkan di sela sela kemejanya. Kemudian Chisato menoleh dan melihat semua orang di belakang nya, dia tersenyum dan menaikkan kacamata nya. Kemudian dia mendekati Kaito,


“Ini pembunuhan, dari titik bekunya, orang ini sudah meninggal dari semalam, surat ini di selipkan ke dalam baju nya oleh pembunuh nya, orang yang punya niat dan sudah bertekad mau bunuh diri tidak mungkin menyelipkan surat di baju. Pembunuh nya ada di sini, orang yang datang semalam bersama dengan dia.”


“Maksud mu Akagi san ?” Tanya Kaito.


“Belum tentu.....aku akan bongkar kasus ini, dari motif dan kenapa pembunuh susah susah membuat mayat baru di temukan sekarang, sebab kita datang dari sana dan tadi sewaktu kita datang, mayat itu belum ada.....” Jawab Chisato sambil menunjuk tangga mereka datang.


“Hm....aku akan bantu sebisa ku...ingat, aku maling, bukan detektif...” Ujar Kaito.


“Hehehe iya...serahkan pada ku....” Balas Chisato.


Akhirnya Chisato memulai penyelidikan nya untuk menguak siapa pembunuh nya, dia mulai berbaur dan bertanya tanya kepada semua crew. Kaito mendampinginya, jaga jaga sebab kalau benar seperti yang Chisato katakan, berarti pembunuh nya ada di sini dan itu berbahaya.

__ADS_1


__ADS_2