
“Ayo Nagisa....pulang....” Teriak pria paruh baya itu.
“Tidak, aku tidak akan mau pulang, aku tidak mau di jodohkan.....” Nagisa berlari ke belakang Kaito dan berkumpul bersama yang lain.
Pria itu langsung mendekati Kaito dan berdiri di depan nya, Kaito merentangkan tangan nya untuk menghalangi nya.
“Minggir, kamu siapanya Nagisa ?” Tanya pria itu.
“Aku......
Belum selesai Kaito menjawab, Nagisa dan lainnya langsung berteriak, “Dia calon suami kami semua.....”
“Apa ? kamu ? anak kemarin sore seperti kamu ? memang kamu punya apa ?” Tanya pria itu.
“Oh aku punya toko ini....dan ossan membuat keributan di toko ku, aku berhak memanggil polisi dan mengusir ossan.” Jawab Kaito.
Pria itu menoleh dan melihat sekeliling, dia baru menyadari kalau toko yang dia masuki adalah toko barang antik. Dia langsung menoleh melihat Kaito,
“Kamu mengerti semua barang barang disini ?” Tanya pria itu.
“Tentu saja ossan, karena aku pemilik toko nya.”
“Hah, kamu paling hanya duduk diam dan melihat orang membeli sesuai dengan label yang di tempel, toko ini pasti warisan orang tua mu dan kamu tidak mengerti apa apa soal barang antik. Baiklah, kalau kamu memang serius dengan Nagisa, besok datang ke rumah ku, aku baru dapat 2 barang antik dari situs penggalian di kota Yoruma, satu asli dan satu palsu, tolong identifikasi dan kalau kamu bisa, aku akui kemampuan mu, aku ijinkan kamu menikah dengan Nagisa.”
“Tch....tidak usah ladeni dia Kaito, dia hanya kolektor biasa....” Ujar Nagisa.
Tapi yang ada di pikiran Kaito, dia ingin melihat 2 barang antik itu, karena dia penasaran, sebab sejak dia mendapat toko itu dari Kiyoko, dia jadi tertarik dengan barang antik, apalagi setelah dia melihat basement nya yang membuatnya lebih tertarik.
“Hmm dari kota Yoruma, tempat situs purbakala......baiklah ossan, aku mau....” Jawab Kaito.
“Kaito....” Teriak Nagisa, tapi wajah nya merah.
“Tenang saja Nagisa san.....aku mau lihat hehe.” Ujar Kaito.
“Hah....baik, tapi kamu akan bertanding dengan anak dari kurator museum yang ku jodohkan dengan Nagisa, dia lebih berpengalaman dan berusia 22 tahun. Bagi yang bisa membedakan asli dan palsu berhak menikahi Nagisa. Paham ?” Tanya ossan sambil menjulurkan tangannya.
“Setuju ossan....jam berapa saya harus datang ?” Tanya Kaito.
“Besok pagi, jam 8....antar dia Nagisa.....baiklah, aku pergi....” Ossan langsung berbalik dan keluar toko.
Nagisa terduduk lemas di sofa, yang lainnya langsung menghibur nya. Sementara itu, Kaito bersiul siul kesenangan dan naik ke atas. Semua nya melihat Kaito naik ke atas.
“Kenapa dia menjawab tantangan papaku.....padahal tidak usah di ladeni...” Ujar Nagisa.
“Wajah nya berubah ketika mendengar kota Yoruma, wajarlah, bagi kolektor dan penjual barang antik, kota Yoruma adalah surga....” Balas Chisato.
“Uuuhhh....kalau dia kalah gimana, aku dengar anak kurator museum itu jenius.” Ujar Nagisa sambil memegang kepala dengan kedua tangan nya.
“Oh kalau itu sih, aku yakin Kaito kun tidak akan kalah, benar ga ?” Tanya Reina kepada Marin, Yuka dan Airi.
“Hahaha benar, soal itu Kaito kun boleh di adu...” Tambah Marin.
“Tenang saja paisen, kita berempat sudah melihat kemampuan nya...hampir semua barang di sini yang menambah nya dia. Dia juga yang menentukan harganya. Kurasa kalau soal itu aman paisen.” Tambah Yuka.
“Benar benar senpai, tidak usah khawatir, Kaito kun pasti menang.” Tambah Airi.
“Um...aku sih belum lihat langsung kalau dia menentukan harga atau asli dan tidak nya, tapi kalau melihat barang di bawah.....aku yakin Kaito sama tidak akan kalah.” Tambah Fumiko.
“Aku tahu....tapi aku khawatir....” Ujar Nagisa menunduk.
“Hah baru kali ini aku lihat prince yang perkasa dan sombong tertunduk seperti ini, tenang saja prince....percaya dong sama calon suami kita.” Ujar Chisato sambil menepuk punggung Nagisa.
“Iya benar senpai....paisen (Yuka)..” Teriak Reina, Marin, Yuka dan Airi bersamaan.
*****
Pagi pagi sekali, Kaito bersama Nagisa berangkat menuju rumah Nagisa menggunakan taksi, kedua nya absen dari sekolah dan yang lain akan menyampaikan nya ke sensei. Sepanjang perjalanan Nagisa diam saja, tapi kaki nya terus mengetuk lantai taksi.
“Kenapa Nagisa san ?” Tanya Kaito santai.
“Kamu kenapa menerima tantangan papa Kaito, aku khawatir, aku juga sebenarnya tidak mau pulang....anak kurator itu jenius, kamu harus hati hati.” Ujar Nagisa.
“Aku penasaran, karena kalau benar dari kota Yoruma berarti harta negara, kapan lagi bisa lihat harta negara secara langsung....” Balas Kaito.
__ADS_1
“Uh...seperti kata detektif dekil itu.....ya sudah lah, tapi hati hati ya, benar nih, aku khawatir....” Ujar Nagisa sambil merangkul Kaito.
“Ya tenang saja....”
Taksi terus berjalan melintasi kota sampai akhirnya masuk ke kawasan yang sedikit mewah seperti komplek pejabat dengan rumah yang besar besar. Akhirnya taksi berhenti di sebuah rumah besar yang terlihat sangat mewah bagai istana dari depan.
“Whoaaah....ternyata rumah Nagisa san besar ya....”
“Tch....aku tidak suka tinggal di sini......”
Keduanya turun, Nagisa mengajak Kaito masuk ke dalam, seorang pelayan membukakan pintu dari dalam dan barisan pelayan menunggu di dalam, begitu Nagisa masuk semua menunduk, Kaito melihatnya benar benar seperti seorang pangeran yang masuk ke dalam istana. Nagisa langsung membawa Kaito ke ruang koleksi papanya. Begitu masuk, di dalam ossan yang kemarin datang sudah menunggu, di dalam juga ada satu keluarga yang terdiri dari pria paruh baya, wanita paruh baya, seorang anak muda dan seorang anak kecil berpakaian gothic serba hitam seperti boneka. Wanita paruh baya yang duduk di sebelah pria paruh baya adalah orang asing dan kedua anak mereka terlihat seperti blasteran asing. Anak muda separuh asing itu berdiri dan menyambut Nagisa dengan mengambil tangan nya, tapi Nagisa menarik tangan nya dan berdiri di belakang Kaito.
Anak muda itu melihat Kaito dari ujung kaki ke ujung kepala, kemudian dia tersenyum meremehkan.
“Nah sudah datang, baiklah langsung saja kita mulai.”
Ossan berdiri, kemudian dia mengambil sebuah vas bergambar phoenix dari kotak kayu di sebelahnya kemudian meletakkan nya di meja, setelah itu dia mengambil sebuah vas bergambar naga lagi dari kotak sebelahnya dan meletakkan nya di meja persis di sebelah vas yang pertama.
“Nah silahkan, mulai dari Fred kun, silahkan, identifikasi mana yang palsu....”
Anak muda separuh asing yang di panggil Fred itu berdiri dan langsung mengamati kedua vas itu, kemudian dia menoleh kepada Kaito yang sedang duduk dengan santai. Fred tersenyum dan langsung berbalik, dia melirik Kaito seakan akan meremehkan Kaito.
“Ossan, aku mengatakan yang bergambar phoenix ini asli, kenapa karena dari usia jelas ini lebih tua dan lambang phoenix di gunakan oleh kerajaan Artic jaman dulu. Nilai vas ini bisa mencapai 2 miliar dan di ambil dari kota Yoruma, aku bisa menjamin itu. Sekian.” Ujar Fred sambil melirik Kaito dengan sinis.
Semuanya langsung bertepuk tangan karena analisa Fred bagus menurut mereka, hanya Kaito, Nagisa dan anak kecil perempuan berpakaian gothic itu yang tidak bertepuk tangan.
“Yuk Nagisa san, kita pulang, nyesal aku ke sini.....” Ujar Kaito.
“Hei apa maksud mu ? kamu mengaku kalah ?” Tanya ossan sambil berdiri.
“Hah....kamu membohongi ku ossan, aku sampai bolos sekolah untuk kesini....”
Kaito berjalan menuju kedua vas itu dan kedua tangan nya maju menarik vas. “Prang.” “Prang.” Kedua vas itu pecah di lantai.
“Apa yang kamu lakukan, vas senilai 2 miliar....” Ujar Fred geram.
“Heee vas begini 2 miliar ? di toko ku banyak, mau bayarin ?” Tanya Kaito sambil tersenyum.
Kaito melirik dan melihat Nagisa tertegun sambil menutup mulutnya dengan tangan nya dan mata yang melotot seakan akan tidak percaya Kaito melakukan itu.
“Pertama kerajaan Artic tidak memiliki kerajinan keramik, kedua lambang phoenix itu adalah lambang pendatang yang menjajah kerajaan Artic, ketiga lihat ini......”
Kaito membungkuk dan mengambil sebuah pecahan dari dasar kedua vas itu dan memberikan nya pada ossan sekaligus memperlihatkan nya, kemudian ossan memberikan nya pada pria paruh baya yang kaget melihatnya, kemudian dia menoleh melihat Fred dan menggelengkan kepala.
“Memang apa itu papa ?” Tanya Fred sambil mengambil pecahan nya.
Dia langsung melihat dan membanting nya karena tidak terima dirinya kalah, Kaito tersenyum dan mendekati nya.
“Katanya kurator, masa tidak bisa melihat ada kode produksi di dalam vas ?” Tanya Kaito sambil meledek.
“Krhhhh.....sial.....” Fred langsung berjalan keluar ruangan dan mendorong Nagisa yang sedang berdiri di tengah.
Nagisa yang hilang keseimbangan terjatuh, Kaito langsung mundur dan menangkap nya kemudian membuatnya berdiri kembali.
“Hahahahaha luar biasa.....hebat...hebat.....maaf pak kurator, sesuai dengan janji, maka aku akan menikahkan Nagisa dengan anak muda ini....” Ujar ossan.
“Hahaha tidak apa apa....aku bisa mengerti...siapa nama mu anak muda ?” Tanya kurator.
“Namaku Tanaka Kaito...salam kenal ossan.” Ujar Kaito.
“Baiklah Amane san, saya permisi dulu...maafkan tingkah anak saya.” Ujar Kurator sambil menunduk.
“Tidak apa apa, nanti saya kabari lagi.....”
Setelah itu ossan mengantar keluarga kurator itu keluar dari rumah. Nagisa langsung memeluk Kaito dengan wajah yang terlihat lega dan senyum yang lebar. Tapi wajah Kaito tidak demikian, dia masih marah karena di bohongi, dia langsung menarik Nagisa untuk berjalan keluar dari ruangan, tapi ossan sudah keburu kembali dan mencegah nya.
“Maaf Kaito kun, jangan pergi dulu, kamu mau lihat yang asli kan ?” Tanya ossan.
Kemudian dia berjalan dan menggeser lemari di samping nya, di balik lemari ada sebuah brankas besar dan dia membuka nya, kemudian dengan hati hati dia mengeluarkan sebuah tembikar dari tanah liat yang terlihat sangat kuno, karena ukuran nya besar, Kaito memakai sarung tangan yang di sediakan dan membantu nya. Setelah itu dia melihat tembikar itu dengan antusias.
“Wooow.....kalau begini aku tidak menyesal bolos sekolah....” Gumam nya tanpa sadar.
“Loh kamu masih sekolah ?” Tanya ossan.
__ADS_1
“Um...iya ossan, aku di bawah Nagisa san 1 tahun hehe.” Jawab Kaito sambil mengamati tembikar dengan hati hati.
“Tch....dia jujur banget sih....”
Nagisa langsung menutup wajah nya dengan tangan dan ossan menggelengkan kepalanya.
“Wah ini sih tidak ada nilainya ossan, aku tidak bisa memberinya nilai....” Ujar Kaito menoleh kepada ossan.
“Iya, memang semuanya pasti bilang begitu, baik yang profesional dan amatir, semua sama....kamu hebat, aku akui itu dan maafkan tindakan kekanak kanakan ku semalam.”
“Iya ossan, aku tidak masalah....” Balas Kaito.
“Tapi kamu masih sekolah ya.....berarti untuk saat ini tunangan dulu saja, pernikahan nya tunggu kalian cukup umur.” Ujar ossan.
“Baiklah ossan....(sadar)....eh apa ossan ?” Tanya Kaito.
“Tch...ok ok papa, kami kesekolah dulu, masih bisa ikut setengah hari....” Nagisa langsung menarik Kaito pergi sebelum ossan menjawab pertanyaan Kaito.
“Ya sudah hati hati....” Ossan melambaikan tangan melihat keduanya pergi keluar ruangan.
Akhirnya tanpa sadar, Kaito di restui bertunangan dengan Nagisa oleh ayah nya yang datang ke toko marah marah semalam. Setelah sampai sekolah, Nagisa langsung memberitahu yang lain dan semuanya bersorak sorak sambil memeluk Nagisa karena senang nya.
[Selamat Kaito sama, sekarang kamu sudah resmi bertunangan dengan Nagisa san]
“Ya ya...tolong lain kali bilang di awal.....aku keasyikan jadi tidak sadar....” Ujar Kaito yang sudah di jelaskan oleh Nagisa di perjalanan.
[Semoga selamanya tidak sadar]
“Apa maksud mu CATS.....oi CATS......”
[Sleep mode on....selamat malam Kaito sama]
“Ah...kabur lagi...belakangan ini dia sering kabur....rese....” Ujar Kaito.
Karena Kaito dan Nagisa datang pas makan siang, mereka semua berkumpul di kelas Kaito dan menceritakan pengalaman masing masing ketika bertemu dengan orang tua mereka. Wajah Kaito menjadi merah, sedangkan para murid lain yang mendengarnya, memilih keluar kelas daripada terus mendengarnya.
“Besok giliran ku....” Ujar Yuka.
“Ya...ya......” Jawab Kaito.
“Libur musim panas, giliran ku, kebetulan aku juga ada pentas di kota Kunikawa, kampung halaman ku hehehe.”
“Ya....ya....musim panas kan....” Balas Kaito.
“Yap sekalian semuanya ikut kan, liburan bersama di pantai heheh.” Balas Airi sambil menoleh ke yang lain.
“Setuju........” Teriak Reina, Marin, Yuka, Nagisa, Chisato dan Fumiko bersamaan.
“Hadeeeeh...kapan istirahatnya......” Ujar Kaito di dalam hati.
*****
Sementara itu di mobil keluarga kurator, anak kecil perempuan yang mengenakan pakaian gothic serba hitam itu, duduk sambil melihat keluar jendela, kemudian dia menoleh,
“Papa, pemuda yang tadi namanya siapa ?” Tanya anak kecil itu.
“Namanya Tanaka Kaito....kenapa Vinne chan ?” Tanya papanya.
“Dia sekolah di sekolah yang sama dengan Nagisa onee chan ?” Tanya Vinne.
“Iya, seragam mereka sama.....” Jawab papanya.
“Itu seragam sekolah apa ?” Tanya Vinne lagi.
“Fukutoshi private high school, kamu juga daftar ke sana kan ?” Tanya papanya.
“Iya, aku juga akan kesana....dan aku sudah di terima karena nilai ku di atas rata rata.” Balas Vinne.
“Vinne chan memang hebat.....” Puji mamanya.
Vinne kembali terdiam, dia melihat Fred yang duduk di sebelah nya sedang menunduk dan menutup wajah nya dengan tangan karena malu, dia kembali menoleh dan melihat keluar dari jendela. Kemudian, di pikiran nya,
“Hmmm Tanaka Kaito ya.....Fukutoshi private high school.....sampai ketemu tahun depan, aku pasti akan masuk sekolah itu.... Kaito senpai hehehe.”
__ADS_1
Wajah Vinne yang cantik bagai boneka kuno kerajaan dulu, tersenyum lebar sambil melihat jalan.