C.A.T.S (Catch And Thief System)

C.A.T.S (Catch And Thief System)
Chapter 17


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, Chisato menarik Kaito ke tepi, menjauh dari semua orang yang masih sibuk menelpon dan mencari sinyal.


“Kaito kun, dari sekitar 25 orang yang ada di sini, ada 5 orang yang datang pada waktu malam ke sini, pertama sutradara Gendo dia datang sekitar jam 10 malam, kedua Akagi san, dia datang sekitar 10 menit setelah sutradara, ketiga aktor Junichi bersama dengan penata rias bernama Rinne yang katanya tidak sengaja bertemu di halte bis yang ada di kaki gunung, mereka datang sekitar jam 11.30 dan terakhir aktris Yuri datang sekitar jam 3 pagi. Kelimanya sudah melihat mobil korban di tempat parkir ketika mereka datang.” Ujar Chisato menjelaskan sambil membuka note nya.


“Berarti pelaku nya ada di antara kelima orang itu ?” Tanya Kaito.


“Benar dan kelimanya memiliki motif yang cukup, sutradara Gendo berselisih paham dengan korban karena korban merubah skrip di saat terakhir sebelum syuting yang sudah di janjikan di mulai, mereka ribut lumayan kencang karena merubah keseluruhan proses pembuatan movie ini, kedua asisten sutradara Akagi, dia juga punya motif yang lumayan kuat, sebab korban ngotot sampai melapor ke direksi, minta dia di pecat karena melakukan kesalahan sepele yaitu menumpahkan kopi yang tidak sengaja kena celana korban, walau sudah minta maaf, korban masih tetap ngotot. Ketiga aktor Junichi, sebenarnya dia tidak mau terlibat di pembuatan movie ini karena tahu yang mengarang script dan skenarionya adalah korban, dia selalu berselisih dengan korban karena korban mengkritik performa nya di drama yang di ambil dari novel nya dan banyak hal lainnya. Ke empat aktor Yuri, dia juga sebenarnya sedikit malas ikut syuting movie ini, karena korban pernah melecehkan nya, walau dia tidak menuntutnya, tapi korban tidak pernah minta maaf padanya dan mengatakan kalau dia adalah wanita seperti itu. Dan yang terakhir adalah penata rias Rinne, dia hanya mengatakan kalau perubahan skrip mendadak ini membuat dia harus mengatur ulang jadwalnya dan membuatnya terkena cibiran dan hujatan di sosial media yang merusak citranya.”


“Hmm...korban sepertinya bukan orang baik yang di benci banyak orang.”


“Benar, tapi aku kira kira sudah ngerti siapa yang membunuh nya. Yuk temani aku ke pohon tadi, lalu lihat reruntuhan di jalan.”


Chisato menarik tangan Kaito untuk kembali melihat pohon tempat mayat di temukan. Kemudian dia berusaha memanjat naik ke pohon,


“Chi san, biar aku saja, nanti sampai atas aku kasih tahu ada apa di atas...”


“Iya...tolong ya....”


Akhirnya Kaito melihat ke kanan dan kiri, dia memakai pakaian nya dan langsung melangkah berjalan menaiki pohon, begitu sampai di atas, dia tidak bisa menemukan apa apa, akhirnya dia menggunakan grappler nya untuk menarik Chisato naik ke atas. Berbeda dengan Kaito yang tidak melihat apa apa, Chisato langsung melihat sisa  benang pancing tipis yang terikat ke pohon yang sudah terputus, sepertinya diikat bersama sebuah kawat dengan ujung pengait yang di tancapkan pada batang pohon yang besar.


“Hum...hum...aku mengerti sekarang, apa yang kaitkan ke pengait ini. Jadi sebelum jatuh ke bawah, korban di dirikan berdiri menempel di batang pohon ini dalam keadaan sudah meninggal dan supaya kepalanya tidak menunduk, kepalanya di tahan menggunakan sesuatu yang di kaitkan ke pengait. Dan sepertinya dia masih membawa benda nya. Turun yuk....” Ajak Chisato.


Kaito langsung melompat turun sambil menggendong Chisato dan kemudian menyimpan pakaian nya.


“Kalau harus memanjat seperti ini, pelaku nya pasti laki laki...” Ujar Kaito.


“Tidak, wanita juga bisa memanjat pohon ini....yuk kita lihat reruntuhan di jalan.”


Chisato langsung menggandeng Kaito berjalan menuju torii yang berada di depan kuil dan turun ke bawah untuk melihat reruntuhan. Ketika sampai, mereka langsung mencari petunjuk di sekitar reruntuhan dan puing batu yang menutupi jalan.


“Huh....tidak ada apa apa Chi san....” Ujar Kaito.


“Sini Kaito kun.....” Chisato memanggil Kaito untuk kebelakang semak.


Kemudian dia melihat ke atas dan melompat sedikit, ternyata masih ada sisa benang pancing yang terputus. Setelah itu dia menunjuk ada sebuah picu peledak sederhana di balik semak semak.


“Hum...hum...rupanya begitu, dia sampai meledakkan tebing seakan akan tebing runtuh dan menutupi jalan, tapi sebenarnya yang menutupi jalan mungkin batu besar yang meledak di sini dan ini alat picu nya yang di lempar dari atas. Sekarang tahap terakhir.... “ Ujar Chisato sambil menunjuk ke sebuah alat rusak di bawahnya.


Keduanya kembali naik, kemudian menemui sutradara, Chisato meminjam skrip yang lama dan yang di rubah di saat saat terakhir kepada sutradara. Dia langsung membaca keduanya dan membandingkan nya, Chisato langsung tersenyum.


“Pak sutradara, boleh berkumpul di sebelah sana, tolong ajak Akagi san, Junichi san, Yuri san dan Rinne san....ada yang mau ku bicarakan sama kalian.” Ujar Chisato.


Kemudian Chisato menarik tangan Kaito untuk pergi menuju pintu bangunan kuil yang megah dan duduk di tangga. Tak lama kemudian, Sutradara Gendou mengajak orang orang yang di panggil Chisato menghampiri mereka. Setelah semua berkumpul,


“Baiklah, langsung saja, korban bukan bunuh diri tapi di bunuh dan pelakunya ada di antara kalian berlima...” Ujar Chisato.


“Hah yang benar saja, kupikir ada apa aku di panggil ke sini, aku tidak mau meladeni anak kecil yang bermain main detektif seperti ini, permisi....” Junichi sudah siap berbalik dan melangkah pergi.


Tapi tangannya di tahan oleh Yuri dan Akagi, akhirnya dia tidak jadi pergi, kemudian Akagi maju ke depan.


“Um...maaf nih, tapi kami semua masih sibuk, kami dari tadi tidak bisa menghubungi polisi dan rumah sakit, kamu memang nya benar benar detektif ?” Tanya Akagi.


“Yup, dan aku sudah tahu siapa pelaku nya....” Jawab Chisato yakin.

__ADS_1


“Kalau gitu siapa pelakunya, cepat katakan....” Teriak Yuri yang tidak sabar.


“Pelakunya adalah orang yang datang kesini bersama korban....yaitu Rinne san.” Jawab Chisato sambil menunjuk Rinne.


Semua nya langsung menoleh kepada Rinne yang langsung kaget karena di tunjuk oleh Chisato.


“Kamu menuduh ku ? buat apa aku membunuh nya....memang aku kesal padanya karena seenak nya mengubah skrip jadi aku bermasalah di sosial media karena syuting nya tertunda jadi aku harus mengundur yang lain, tapi aku tidak sampai ingin membunuh nya. Lagipula bagaimana cara ku membunuh nya.”


Chisato langsung menjelaskan, kalau Rinne datang bersama dengan korban. Begitu korban turun, dia langsung menghantam kepala korban menggunakan batu sampai korban meninggal, kemudian dia mengikat korban di pohon dan membuatnya seakan akan bunuh diri.


“Hah....aku ini perempuan mana mungkin aku kuat mengangkat dia ke atas pohon tanpa bantuan.....” Ujar Rinne.


“Benar sekali, makanya kamu ajak pacar mu dan dia yang menaikkan nya ke atas pohon, lalu mengikatnya dengan benang pancing....benarkan Junichi san....” Ujar Chisato.


“Hah...aku ? aku tidak kenal dia, kenapa juga aku harus membantunya melakukan pembunuhan.....jangan mengada ngada....” Teriak Junichi marah.


“Hehehe....mengada ngada ya ? Trik kalian simpel, pertama Rinne san ikut bersama korban naik ke sini, sementara Junichi san menunggu di bawah sambil mempersiapkan yang lain, seperti memasang bom di tebing dan membawa sebuah batu besar ke pinggir jalan untuk di ledakkan bersama tebing. Kedua, setelah Rinne san membunuh korban, Junichi san naik ke atas dan menaikkan mayat korban ke atas menggunakan pengait yang sudah di tancapkan ke pohon sebelum nya, kemudian mengikat lehernya dengan tali jerami yang sudah di ikat di dahan, tapi mereka salah perhitungan, karena mereka tidak bisa membuat kepalanya tetap tegak dan menjadikan nya terlihat dari bawah pohon, di saat darurat itulah Rinne san menggunakan benda yang biasa di bawa penata rias, yaitu wig wanita yang panjang dan kuat, kemudian setelah di pakaikan ke kepala korban, wig di kaitkan ke pengait supaya kepala korban tetap tegak. Ketiga, ketika semua sedang sibuk mencari korban, Rinne san melemparkan batu untuk pemukulan semalam ke batu yang akan di hancurkan, sementara Junichi san meledakkan bom yang memutuskan benang pancing yang mengikat korban di pohon supaya korban terjatuh dan membuatnya seperti korban bunuh diri dengan menggantung lehernya ke dahan. ledakan itu sekaligus untuk menghancurkan batu yang di pakai untuk memukul korban, setelah itu dia melempar picunya ke semak semak sambil berpura pura berteriak menunjuk tebing yang runtuh dan ketika perhatian semua orang teralih melihat tebing, Rinne san mengamankan wig nya yang pasti jatuh karena hanya di kaitkan kemudian bergabung dengan yang lain, Benar kan ?” Tanya Chisato.


Wajah Junichi dan Rinne langsung berubah, sepertinya analisa dari Chisato tepat, Gendo, Yuri dan Akagi menoleh melihat keduanya.


"Tapi kenapa repot repot pakai cara ini, kalau untuk di buat bunuh diri saja kan bisa dari semalam ?" Tanya Yuri.


"Supaya keduanya punya alibi kalau korban di temukan sekarang, mereka sudah di sini dan senjata untuk memukul sudah hancur, mereka tidak bisa menjalankan trik semalam sebab reruntuhan batu nya akan menghalangi mobil yang naik dan kalau mayat korban di temukan semalam, maka penyelidikan akan mengarah pada mereka karena batu yang di pakai untuk memukul korban pasti di temukan setelah korban di otopsi dan hasilnya korban tewas karena pemukulan. Mereka juga tidak bisa lari karena takut ada yang memergoki mereka walau di jalan." Ujar Chisato.


“Buktinya mana kalau memang aku pelaku nya ?” Teriak Rinne.


“Akagi san, tolong pakai sarung tangan ini dan periksa tas rias yang di bawa Rinne san, wignya pasti masih ada di situ karena dia tidak bisa membuang nya dan di sana pasti ada bekas bercak darah bekas pemukulan yang bisa di indentifikasi oleh polisi nanti.” Ujar Chisato.


[Kaito sama, hati hati]


“Kurang ajar....kamu....kamu....” Junichi langsung maju mengangkat tangan nya menghampiri Chisato yang langsung menutup wajah nya dengan tangan.


Kaito langsung menangkap tangan Junichi dan meremas nya sampai Junichi berlutut di depan nya. Persis seperti dugaan Chisato kalau Rinne dan Junichi pacaran, Rinne langsung mendekati Junichi yang berlutut dan memeluk nya.


“Tapi apa alasan mereka untuk membunuh Fujitoshi san ?” Tanya Gendo.


“Ini....silahkan bandingkan skrip lama dan skrip yang di ubah....lalu baca surat pesan bunuh dirinya.” Ujar Chisato sambil memberikan skrip dan surat nya.


Sutradara Gendo dan Yuri langsung membacanya, di skrip lama dan baru ada perbedaan nama dan pekerjaan anak pelaku yang membunuh pengantin nya sehingga menjadi gentayangan. Di skrip lama yang berdasarkan novel di tulis nama Kiyoshi dan pekerjaan anak perempuannya tidak di ketahui, sedangkan yang di ganti menjadi nama Yoshida dan pekerjaan anak perempuannya di tulis sebagai penata rias. Begitu mereka membaca surat pesan bunuh dirinya, Fujitoshi mengaku mengambil cerita ini dari kasus asli dan dengan sengaja menjadikan nya novel tanpa persetujuan dari pihak orang yang terlibat kasus nya, dia menyesali nya dan melakukan bunuh diri.


Sutradara langsung bertanya maksudnya pada Rinne dan Junichi, Rinne langsung bercerita, kalau kasus pembunuhan di dalam novel kutukan pengantin kesepian itu adalah kasus sebenarnya yang terjadi sekitar 20 tahun lalu, ayah Rinne yang bernama Yoshida di tuduh membunuh istrinya sendiri padahal dia tidak melakukan nya dan akhirnya di penjara sampai meninggal, sampai sekarang pembunuh sebenarnya tidak di ketahui. Rinne yang dari kecil selalu di hina oleh teman teman nya sebagai anak pembunuh, berusaha membersihkan nama ayahnya yang tercemar dan usahanya berhasil, sehingga sebutan anak pembunuh tidak melekat lagi padanya.


Tapi Junichi memberitahu Rinne soal naskah novel yang akan di rilis Fujitoshi karena kebetulan editor nya adalah teman Junichi. Kemudian Rinne langsung protes keras kepada Fujitoshi supaya jangan menggunakan kasus itu untuk novel nya sebab dia tidak mau menodai nama ayahnya lagi yang sebenarnya tidak bersalah dan sudah susah payah namanya dia bersihkan dengan di dampingi oleh Junichi pacarnya, tapi bukan nya merubahnya Fujitoshi malah merilis novel nya dengan alasan menarik keluar pembunuh sebenarnya kalau memang ada pembunuh sebenarnya dan Rinne tidak berbohong, kemudian ketika novel nya di angkat untuk movie, dia mengancam Rinne dengan berjanji tidak akan pakai nama sebenarnya, asal Rinne mau jadi kekasihnya dan putus dengan Junichi. Alasan Fujitoshi melakukan itu karena dia tidak suka kepada Junichi yang dia anggap merusak drama yang di angkat dari novel karya nya yang lain.


Mereka bertengkar dan akhirnya Fujitoshi merubah skrip nya di saat terakhir, itulah alasan keduanya membunuh Fujitoshi. Sutradara langsung menyuruh beberapa crewnya untuk mengamankan Junichi dan Rinne, kemudian Akagi juga sudah menemukan wig yang di pakai sebagai pengikat dan benar seperti yang di bilang Chitose, di wig itu ada bercak darahnya. Kasus yang menyedihkan itu berakhir, Chitose yang memecahkan kasus malah merangkul Kaito dan minta Kaito merangkul nya kembali. Ketika Kaito merangkul nya,


“Tch....kenapa detektif dekil itu bisa bermesraan dengan Kaito ?” Terdengar suara Nagisa di belakang mereka.


Kaito dan Chitose menoleh dan melihat Nagisa, Fumiko, Reina, Marin, Yuka, Airi sudah berdiri di belakang mereka, sepertinya mereka baru saja naik menyusul.


“Ini ada rame rame apa ?” Tanya Reina.


“Wow....itu kan Watanabe Yuri.....bintang film terkenal....kok ada disini ?” Tanya Marin.

__ADS_1


“Ini lagi syuting film ya.....” Ujar Yuka.


“Waaah...curang....kenapa ga ajak ajak....” Tambah Airi.


“Oi detektif, kenapa tidak mengajak kami kesini.....” Tegur Fumiko kepada Chitose.


Belum sempat Kaito dan Chitose menjawab, punggung Chitose di tepuk seseorang, ketika menoleh ternyata sutradara Gendo dan Akagi sudah berdiri di belakang mereka,


“Terima kasih ya detektif, kalau bukan karena kamu, kita semua disini akan menyangka Fujitoshi benar benar bunuh diri dan masalah pasti akan panjang. Sepertinya syuting akan di hentikan, setelah bicara lagi dengan Rinne chan dan Junichi kun, aku juga tidak setuju merilis movie ini, keduanya berjanji akan menyerahkan diri ke polisi setelah kita turun dari sini. Jadi terima kasih sekali ya, bagaimana kami bisa membalas nya ?” Tanya Gendo.


“Um...sama sama pak sutradara....aku hanya kebetulan lagi disini, tidak perlu membalas apa apa...hehehe.” Jawab Chisato.


“Sekali lagi terima kasih ya detektif.....” Akagi menunduk di depan Kaito dan Chisato.


Setelah menunduk dan berterima kasih, Gendo dan Akagi meninggalkan Chisato dan Kaito, langsung saja banyak tangan menangkap Chisato dari belakang.


“Bisa ceritakan pada kami ada apa sebenarnya ? Jelaskan pada kami ber enam sedetail detail nya dan jangan bohong.” Ujar Fumiko.


“Tch....ayo ikut....” Ujar Nagisa yang langsung merangkul Chisato dari belakang.


Akhirnya Chisato di bawa secara paksa oleh Nagisa, Reina, Marin, Yuka, Airi dan Fumiko.


“Kaito kun...tolong.....” Teriak Chisato sambil menjulurkan tangan untuk meraih Kaito dan kacamata nya terlepas.


“Maaf Chi san, saat ini aku hanya asisten dan figuran. Selamat bersenang senang...” Ujar Kaito sambil melambaikan tangan nya dan tersenyum. Kemudian Kaito mengambil kacamata Chisato dan berjalan mengikuti mereka.


“Benar tidak CATS ?” Tanya Kaito di kepalanya sambil mengikuti yang lain.


[Benar sekali Kaito sama, benar sekali]


****


Di dalam tenda, Nagisa, Reina, Marin, Fumiko, Yuka dan Airi duduk mengitari Chisato yang duduk di tengah, Kaito hanya berdiri di depan tirai dan bersender pada tiang penyangga tenda. Setelah Chisato menceritakan kasusnya,


“Ih...pantas mati dong novelis itu.....” Ujar Reina.


“Aku jadi kesal mendengarnya, aku malah mendukung pembunuh nya...” Gumam Fumiko.


“Ssst tidak baik menyumpahi orang mati...” Ujar Yuka.


Akhirnya suasana menjadi ribut karena perdebatan para gadis itu, Kaito jongkok dan berbisik kepada Chisato.


“Chi san, kamu bilang kamu sudah tahu dari awal pelakunya siapa, kenapa bisa begitu ?” Tanya nya.


“Mudah saja, dari semuanya hanya mereka kan yang datang bersama.....kombinasi yang aneh, aktor terkenal dan penata rias, kalau salah satu datang bersama Yuri san atau yang lainnya, aku tidak akan curiga hehehe....” Jawab Chisato.


“Hanya karena itu ?” Tanya Kaito.


“Yup, hanya karena itu...” Jawab Chisato.


“Hmm untung Chi san ada di pihak ku.....” Balas Kaito.


“Hehehe bersyukur kan....” Balas Chisato.

__ADS_1


__ADS_2