
Beberapa hari setelah nya, di sekolah, ketua kelas bertanya kepada kelas untuk festival budaya, kelas akan mengadakan apa untuk di tampilkan di festival budaya. Kaito diam saja dan tidak ikut memilih, karena setiap tahun nya waktu smp, dia tidak pernah ikut serta dalam kegiatan festival, tapi dia melihat Marin dan Airi sangat antusias dan ikut menyumbangkan ide mereka.
“Kaito kun, kamu ada ide ga ?” Tanya Marin yang duduk di sebelah Kaito.
“Wah aku tidak ada ide.....aku tidak pernah di tanya sebelum nya dan tidak tahu harus memberikan ide apa.” Jawab Kaito.
“Hehehe....sekarang kan sudah lain, ayo apa saja.....”
“Hmm apa ya....aku tahu nya hanya rumah hantu dan cafe saja....” Ujar Kaito.
Tiba tiba Marin berdiri dan langsung mengacungkan tangan nya, semua teman sekelas termasuk Airi menoleh melihat pada nya,
“Kaito kun usul zombie cafe.....” Teriak nya.
“Hah....kan aku bilang aku hanya tahu rumah hantu dan cafe....kenapa jadi zombie cafe ?” Tanya Kaito.
“Hehehe gabungan rumah hantu dan cafe kan.....” Jawab Marin.
“Hahaha setuju....” Airi langsung berdiri dan memberikan dukungan nya.
Mulailah terdengar bisik bisik di antara teman sekelas dan pandangan setajam pisau dari para siswa kepada Kaito.
“Huh asal Kaito kun usul, dua gadis cantik itu pasti langsung ikut....” Ujar seorang siswa.
“Hiks...kapan ya aku bisa di kerubungi gadis gadis seperti mereka....” Ujar seorang siswa di sebelahnya.
“Tidak akan.....kecuali pakai dukun kayak dia....” Balas seorang siswa lagi yang lainnya.
“Tapi idenya boleh juga sih....” Ujar seorang siswi.
Akhirnya ketua kelas menuliskan ide yang di bilang ide Kaito di papan tulis. Setelah semua ide terkumpul, ketua kelas langsung mengadakan voting dengan cara mengeluarkan box kosong untuk memasukkan secarik kertas yang bertuliskan daftar ide yang di tuliskan di papan tulis. Seluruh teman sekelas, Kaito, Marin dan Airi menuliskan pilihan ide mereka. Setelah itu mereka memasukkan nya ke box kosong di depan, karena sudah tiba waktu istirahat makan siang, pemilihan ide akan di lakukan sebelum waktu pulang sekolah. Seperti biasa, Reina, Yuka, Nagisa, Chisato dan Fumiko datang ke kelas Kaito. Mereka menoleh ke papan tulis dan melihat ide yang masih di tuliskan di sana,
“Hooo menarik.....” Ujar Nagisa.
“Ide siapa tuh zombie cafe ?” Tanya Chisato.
“Sepertinya keren ya....” Tambah Reina.
“Wah kelas ku bikin rumah hantu, rasanya cocok nih kalau berdampingan.” Tambah Yuka.
“Hehehe ide suami kita....” Ujar Marin.
“Ohhhh ide Kaito sama toh, pantas....” Tambah Fumiko.
__ADS_1
“Bukaaaan...ini ide....”
“Kaito kun, jangan bahas hal hal kecil hehehe.” Airi menutup mulut Kaito.
“Oh ya, nanti pinjam Kaito ya, untuk membantu pentas club drama...” Balas Nagisa.
“Hah...maksudnya ?” Tanya Kaito.
“Aku sudah mencalonkan mu menjadi pangeran dalam cerita snow white.” Jawab Nagisa.
“Loh snow white kan ada adegan berciuman nya....” Ujar Chisato.
“Benar, siapa pemeran nya ?” Tanya Yuka.
“Tch aku rencana nya mau memakai salah satu dari kita.....” Jawab Nagisa.
“Oh begituuuu....” Ujar semuanya.
Akhirnya mulailah mereka berdiskusi sendiri, Kaito yang sudah terbiasa tidak memutuskan apa apa, melanjutkan makan nya dengan tenang. Karena semuanya masih sibuk berdiskusi, Kaito berdiri kemudian keluar kelas untuk menuju ke vending machine di lorong untuk membeli minuman.
[Kaito sama, ketiga orang yang harusnya sudah di tangkap sekarang sedang mengganggu orang lagi di dekat vending machine]
“Oh mereka sudah bebas ?” Tanya Kaito.
“Baiklah....”
Kaito berjalan dan menghilang, ketika sampai di depan vending machine, dia melihat sepasang kekasih yang sedang di rundung oleh tiga orang berbadan besar, berambut pirang yang di tangkap oleh Kaito di gudang waktu itu. Dua orang menangkap seorang gadis dan seorang pria meminta uang kepada pacarnya. Kaito berjalan ke belakang dua orang itu kemudian membuat kedua orang itu pingsan dengan memukul tengkuk nya, kaget karena melihat teman teman nya jatuh sendiri, pria yang sedang mendorong seorang siswa ke dinding langsung melepaskan nya dan pergi. Tentu saja Kaito langsung mengikuti nya dan meninggalkan pasangan kekasih yang bingung di belakang nya.
Pria itu naik keluar dari gedung sekolah melalui pintu belakang dan masuk ke dalam gedung sekolah lama, kemudian dia naik ke lantai 3 dan menelusuri lorong menuju bekas ruang kesenian yang berada di ujung lorong. Pria itu masuk ke dalam dan di dalam sudah menunggu dua orang pria yang sedang duduk di kursi.
“Hoo rupanya Miura sensei dan Hakuto sensei....”
[Mereka bukan orang biasa]
“Hmm...aku mau tahu apa yang akan mereka bicarakan.”
Kaito maju ke depan dan bersender di jendela dalam keadaan menghilang dan memakai pakaian nya.
“Bos.....” Ujar pria itu.
Tiba tiba penghapus papan tulis melayang ke kepala pria itu dan mengenai kening nya. Pria itu langsung memegang kening nya,
“Sudah ku bilang berapa kali, jangan panggil bos kalau di sekolah.” Ujar Miura sensei yang melempar penghapus itu.
__ADS_1
“Ada apa ? sudah dapat info tentang Marin kelas 1-2 ?” Tanya Hakuto.
Kaito yang mendengar nama Marin di sebut langsung maju sedikit supaya bisa mendengar lebih jelas lagi.
“Belum sensei....sulit...dia di kelilingi teman teman nya....” Ujar pria itu sambil menunduk.
“Hah payah.....” Ujar Miura.
“Kita harus menarik dia dengan paksa rupanya....” Tambah Hakuto.
“Jangan, jangan sampai orang tuanya curiga dan akhirnya tidak datang kesini.” Balas Miura.
“Heh...cepat, perkosa kek, rampok kek, atau buat kasus apa saja terhadap dia, kita harus pancing orang tuanya kesini....” Teriak Hakuto kepada pria itu.
“Ba..baik sensei.....”
Pria itu langsung berbalik dan keluar dari ruangan, Kaito yang mendengarkan percakapan mereka menjadi penasaran dan diam di dalam ruangan.
“Tidak salah lagi, Marin itu adalah anak salah satu istri Phantom Cat....aku yakin.” Ujar Miura.
“Kita harus bertemu orang tuanya baru bisa memastikannya, kita tidak bisa ke rumah nya karena kita bukan gurunya dan dia tidak ikut club apapun...” Balas Hokuto.
“Huh....kita tidak bisa menunggu sampai tahun depan, pemimpin kita di sekte sudah mulai tidak sabar....” Balas Miura.
“Kita pikirkan cara lainnya....” Balas Hakuto.
“Kita harus bertindak di festival budaya nanti...” Tambah Miura.
Kaito yang mendengarnya langsung mengerti kalau kejadian yang menimpa Marin dulu juga adalah ulah kedua orang di depan nya, dia ingin keluar dan menghabisi keduanya sebelum mereka berbuat apa apa, tapi ketika Kaito ingin bergerak, KATS mencegahnya, alasannya karena,
“Sensei....di cari oleh ketua student council mengenai biaya untuk perkelas waktu festival.”
Seorang siswi yang merupakan wakil dari student council datang memanggil kedua sensei yang salah satunya merupakan pembina dan pengawas student council. Kedua sensei itu langsung melangkah keluar dari ruang kesenian kosong di gedung sekolah lama.
“Sensei, bisa tidak kalau merokok jangan disini....jauh memanggil nya.” Tegur siswi itu.
“Ah maaf hahaha...sebab tidak ada tempat lain.” Ujar Miura dengan ramah.
Kaito mengepalkan tangan nya, dia bertekad akan melindungi Marin supaya tidak ada apa apa yang terjadi padanya.
[Tenang saja Kaito sama, Marin sama tidak lemah sekarang]
“Aku mengerti KATS, tapi tetap saja aku kesal mendengarnya....”
__ADS_1
[Affirmative]