
Weekend, Chisato mengajak Kaito untuk pergi ke rumah klien yang di maksud oleh Hana, ketika mereka baru turun dari kereta dan berjalan menuju rumah yang di tuju,
“Chi san, kenapa aku harus menyamar menjadi perempuan ?” Tanya Kaito.
“Supaya aman, yang kita datangi ini orang berpengaruh dan mempunyai koneksi ke mafia, kamu kan sekarang sedang di cari mereka.” Jawab Chisato.
“Hmmm....trus satu hal lagi, kenapa mereka ikut ?” Tanya Kaito sambil menunjuk ke belakang.
Chisato menoleh dan melihat Reina, Marin, Yuka, Airi, Nagisa dan Fumiko berjalan di belakang mereka.
“Hehehe...tidak apa apa kan ? lagipula ini hanya misi menangkap pencuri barang. Tidak berbahaya.”
“Haaah....ya ya....aku mengerti. Kalau berbahaya berarti kerjaan ku nambah.” Balas Kaito.
“CATS, bersiap siap ya.....kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi nanti, jaga yang di belakang....” Ujar Kaito di kepalanya.
[Affirmative Kaito sama]
“Oh, jangan lupa, hari ini namamu bukan Kaito kun ya, tapi Kei chan....semuanya tolong di ingat ya, hari ini dia Kei chan....” Ujar Chisato sambil menoleh ke belakang.
“Hehehe iya....” Balas Reina.
“Pasti dong....iya kan Kei chan...” Tambah Marin.
“Kei chan....Kei chan....ok ingat....” Tambah Yuka.
“Hahahaha....lucu nih....Kaito kun eh Kei chan tingginya sama dengan kita kita. Tapi tetap aku paling pendek huuuuh.” Tambah Airi.
“Tch....aku jadi paling tinggi....tapi tidak apa apa haha, salam kenal Kei chan.” Tambah Nagisa.
“Aku suka wujud perempuan Kei chan.....” Tambah Fumiko.
Kaito di paksa berubah wujud sebagai wanita, wajah nya masih sama tapi rambutnya jadi warna hitam dan tubuhnya menjadi wanita dengan menggunakan 1000 face. Setelah sampai di depan rumah, mereka melihat rumah yang mereka datangi sangat besar dan bergaya tradisional. Chisato mengetuk gerbang nya,
“Siapa ?” Tanya seorang wanita di dalam.
“Kami dari komisaris kepolisian Urushi Hana. Aku Chisato, detektif.” Ujar Chisato.
“Oh iya, sebentar ya.....” Balas wanita itu.
Pintu gerbang di buka, yang membuka adalah seorang asisten rumah tangga yang sudah tua. Dia mempersilahkan semuanya masuk ke dalam, kemudian setelah menutup kembali gerbang, dia mengantar semuanya masuk ke dalam untuk menuju ke ruang kerja majikan nya. Ketika sampai di depan ruang kerja, terdengar suara beberapa orang sedang berdebat,
“Sudah lah papa, biarkan saja lukisan itu hilang, tidak usah melapor ke polisi segala, lagipula lukisan itu juga sudah bertahun tahun di gudang, kalau aku sih malah senang lukisan itu hilang.” Ujar seorang pria.
“Benar papa, lupakan saja, tidak usah cape cape begini...kesehatan papa jauh lebih penting dari lukisan dan gulungan peta yang tidak jelas itu.” Tambah seorang wanita.
“Diam kalian, kalian tahu apa, dua benda itu sudah turun temurun di keluarga kita, aku tidak bisa menghadap leluhur kalau sampai dua benda itu hilang...ohok...ohok....” Balas seorang pria tua.
“Tuh kan apa ku bilang...istirahat dulu papa......” Ujar seorang wanita yang sama.
Mendengar suara orang di dalam yang sepertinya sedang berdebat kencang, Chisato dan Kaito jadi ragu ragu dan enggan untuk masuk ke dalam. Tiba tiba, “Sreeg.” Pintu di buka, terlihat seorang wanita paruh baya sedang mendorong kursi roda yang di duduki oleh seorang kakek yang sudah tua. Melihat wanita itu, Kaito langsung terkesiap, karena dia mengenali wanita itu.
“Eh....mama angkat ku ?” Pikir nya dalam hati.
[Benar Kaito sama, rumah ini adalah rumah mama angkat anda dan yang di dorong itu adalah kakek angkat anda]
“Sebentar kalau di sini rumah mama, berarti.....Emi...adik ku juga.....”
__ADS_1
Belum selesai Kaito bicara dengan CATS, seorang siswi smp yang masih mengenakan seragam sailornya masuk dan langsung mendekati wanita paruh baya yang sedang mendorong kursi roda kakek. Kaito melihat adik nya sekarang sudah besar, karena waktu berpisah dengan nya 5 tahun lalu, umur nya baru 10 tahun. Kakek yang duduk di kursi roda itu menoleh melihat Chisato, Kaito yang menyamar menjadi Kei chan, Reina, Marin, Yuka., Airi, Nagisa dan Fumiko berdiri di samping nya.
“Kalian siapa ?” Tanya kakek itu.
“Maafkan kalau kami mengganggu, kami ke sini di utus oleh komisaris Urushi Hana untuk menangani kasus pencurian lukisan dan gulungan peta.” Jawab Chisato.
“Hah polisi mengutus anak anak kecil ini ? lihat papa, apa ku bilang, percuma kan mengandalkan polisi.....kalian pulang sajalah....” Ujar pria paruh baya yang sebelum nya di dalam ruangan.
“Diam kamu, Toshi....Mai tolong bawa aku masuk ke dalam.” Ujar kakek sambil menoleh melihat wanita paruh baya yang di panggilnya Mai.
“Tapi papa.....” Ujar Mai.
“Jangan banyak bicara.....cepat....ayo semuanya masuk.....” Ujar kakek itu.
Akhirnya semuanya kembali masuk ke dalam, Chisato, Kaito, Reina, Marin, Yuka, Airi, Nagisa dan Fumiko mengikuti mereka masuk kembali ke ruang kerja, tapi ketika Kaito melangkah masuk, langkahnya di hentikan oleh Emi.
“Hmmmm.....wajah onee chan....kok mirip dengan Kaito onii chan ku ya...” Ujar Emi.
“Ah....um...Kaito siapa ya ? namaku Keiko....” Ujar Kaito sambil menjulurkan tangan nya.
“Oh kalau gitu kenalkan, namaku Tanaka Emi, tapi sekarang sudah ganti jadi Yuzukawa Emi.” Ujar Emi.
“Eh Yuzukawa ? kamu ada hubungan dengan Yuzukawa Junichi ?” Tanya Reina.
“Iya, suami mama yang kedua adalah papa Junichi onii chan....sayang kemarin dia di tangkap, tapi Rinne onee chan masih sering datang....” Emi menunduk.
“Gulp.” Semuanya langsung menelan ludah, rupanya tersangka pembunuhan di kuil yang berada di gunung kemarin adalah kakak dari Emi sekarang. Reina, Marin, Yuka, Airi langsung menoleh kepada Kaito.
“Tanaka ?” Tanya ke empat nya dengan berbisik.
Setelah di dalam, Mai langsung mendorong kakek ke belakang meja kerja nya, setelah itu Toshi dan Mai berdiri di sisi kanan kiri kakek. Emi langsung duduk di kursi malas yang ada di dalam ruangan.
“Kenalkan, namaku Yoshida Daigo, di sebelah kiri ku, anak laki laki sulung ku Yoshida Toshiki dan di kanan ku anak perempuan ku Yuzukawa Mai.” Kakek bernama Daigo memperkenalkan diri.
Chisato langsung memperkenalkan seluruh teman teman nya dan dirinya sendiri, dia menekankan kalau mereka tidak terikat dengan kepolisian dan merupakan agensi sendiri yang berdiri di luar kepolisian.
“Hah...isinya hanya anak anak kecil, wanita semua lagi, lihat saja, ada pemeran theater, idol dan foto model, kalian ke sini mau main main atau apa ? yang benar saja, sudah papa, usir saja mereka.” Sindir Toshiki.
Mendengar ucapan Toshiki yang tidak enak di dengar, tangan Nagisa, Airi dan Marin langsung mengepal.
“Tch...ossan kalau bicara jangan sembarangan ya....” Ujar Nagisa.
“Sssst...Nagi chan...diam dulu ya...biar aku atasi....” Chisato langsung mencegah Nagisa yang sudah emosi.
“Tch....ya....” Ujar Nagisa sambil menoleh dan melipat tangan di dada.
Chisato langsung mengatakan kalau semua yang ada di sini sudah berpengalaman memecahkan beberapa kasus dan mereka datang karena di minta oleh komisaris, jadi mereka datang bukan untuk main main.
“Toshi, kamu bisa diam dulu tidak....biar aku yang bicara sama mereka...” Teriak Daigo.
“Tapi papa.....” Balas Toshi.
“Diam...atau hak waris mu ku cabut....huf huf.” Teriak Daigo lebih kencang.
“Aduh....sudah papa, jangan teriak teriak, kamu juga aniki, jangan kayak anak kecil, diam dulu bisa kan, papa berencana menerima mereka.” Teriak Mai sambil mengurut pundak papanya.
Akhirnya Toshiki tidak bicara lagi, dia sepertinya juga khawatir dengan kondisi papanya. Mulailah Daigo menceritakan apa yang terjadi, ternyata gulungan peta itu di pajang di dalam ruang kerja nya, dia menunjukkan bekas paku payung yang menancap di papan yang ada di dinding. Chisato mengecek nya dan memang sepertinya ada sesuatu di tempel di sana dalam jangka waktu yang lama dan hanya ada bekas empat paku payung yang menempel di sana. Daigo mengatakan yang pertama hilang adalah peta yang di tempel, menurut Daigo peta itu adalah peta denah rumah sewaktu rumah belum dipugar dan masih asri seperti waktu di dirikan oleh leluhur nya. Sewaktu menyadari peta nya hilang di sore hari, Daigo langsung minta tukang kebun nya mengantar dirinya ke gudang dan dia melihat lukisan nya masih ada di dalam gudang. Tapi dua hari setelahnya, dia mendengar suara waktu malam hari dan melihat bayangan orang keluar dari arah gudang lalu menghilang. Keesokan harinya, dia langsung ke gudang untuk memeriksa lukisan nya, ternyata lukisannya sudah hilang,
__ADS_1
“Hmm....berarti orang itu tidak keluar rumah ya, hanya terlihat bayangan keluar dari arah gudang dan menghilang.” Ujar Chisato.
“Benar, tidak ada tanda tanda dia keluar dari pagar atau melompati pagar.” Ujar Daigo.
“Kalau boleh tahu, ada berapa orang yang tinggal di rumah ini jiisan ?” Tanya Chisato.
“Aku, anak ku Toshiki, seorang asisten rumah tangga, bibi Yayoi dan terakhir seorang tukang kebun bernama Hideo. Kalau weekend, Mai dan Emi datang untuk menginap di sini.” Jawab Daigo.
“Kejadian peta hilang, weekend dua minggu lalu ya jiisan ?” Tanya Chisato langsung.
“Waktu peta itu hilang, iya, kok bisa tahu ?” Tanya Daigo.
“Sederhana saja, lihat bekas paku ini.....” Chisato menunjuk papan bekas paku yang terkoyak lebih lebar sedikit dari yang lain di bagian atas.
“Aku tidak mengerti Chi san....” Ujar Kaito.
“Orang yang melepasnya kurang tinggi, jadi dia menarik pakunya terburu buru karena melompat, dia tidak sengaja menarik paku nya ke bawah dan mungkin sedikit merobek petanya, benar kan Emi chan....” Chisato langsung menoleh melihat Emi.
Emi yang sedang duduk dan memainkan smartphone nya langsung tertegun sampai smartphone nya jatuh.
“Hah...yang benar saja, buat apa dia mencuri peta itu, tidak ada artinya....” Protes Toshiki.
“Ku jelaskan, Emi chan memakai seragam dari Shido public junior school. Satu satu nya sekolah yang mengadakan festival budaya minggu lalu, Emi chan mengambil peta itu untuk di gunakan sebagai keperluan festival nya dan dia bermaksud mengembalikan nya hari ini, tapi karena mendengar jiisan marah marah karena peta hilang bahkan sampai memanggil polisi, dia jadi takut, benar tidak Emi chan...”
Emi diam saja tidak menjawab dan wajah nya menjadi sedikit berubah, dia menunduk mengambil smartphone nya dan ingin lari keluar, tapi Nagisa langsung mencegahnya di depan pintu sambil tersenyum lebar. Melihat Nagisa yang lebih besar jauh dari dirinya, akhirnya Emi kembali ke tempatnya dan berdiri sambil menunduk.
“Tapi kenapa Emi, siapapun bisa saja mencabut paku itu...” Ujar Mai yang sepertinya tidak terima anak nya di salahkan.
“Tinggi badan Emi, Airi chan dan Yayoi obasan yang membukakan pagar itu mirip dan hampir sama, Airi chan tidak mungkin ada di sini dua minggu lalu, sedangkan Yayoi obasan yang menggunakan yukata di keseharian nya di tambah tubuhnya yang sedikit bungkuk, tidak mungkin bisa melompat untuk mencapai paku, hanya satu kan yang bisa...tidak apa apa Emi chan, keluarkan saja petanya.” Ujar Chisato.
“Um...um.....mama...boleh pinjam kunci mobil ?” Tanya Emi perlahan.
Mai langsung melemparkan kunci mobil kepada Emi, kemudian di temani oleh Nagisa dan Yuka, dia keluar untuk mengambil peta nya di mobil. Tak lama kemudian, Emi kembali membawa sebuah gulungan tua yang begitu di buka adalah peta denah dan tata ruang rumah sebelum di pugar dan ujung nya sedikit sobek di bagian ujung atas karena di tarik sewaktu mengambil nya, di ujung nya juga ada bekas di tempel oleh selotip.
“Maafkan aku jiisan....Toshi ossan......” Ujar Emi sambil membungkuk.
Mai kemudian menanyakan kepada Emi kenapa dia mengambil peta itu, Emi bercerita kalau kelas nya mengadakan cafe bajak laut dan karena peta itu adalah peta kuno, jadi Emi menggunakan nya sebagai peta harta karun yang di pajang di dinding menggunakan selotip untuk menambah suasana. Alasan Emi tidak bilang dan langsung mengambil nya, karena Daigo pasti tidak mengijinkan dia meminjam nya, sedangkan dia sudah terlanjur bilang kepada kelasnya kalau dia punya properti untuk festival nya. Mai dan Daigo langsung menggelengkan kepala, karena mereka tidak menyangka yang mengambil peta adalah Emi. Sedangkan Toshiki terlihat tidak terima kalau Chisato berhasil menemukan pelakunya dengan cepat. Emi diam saja dan tidak bisa berbicara apa apa, Kaito sedikit iba melihat Emi yang menunduk diam tak bicara dan habis ini pasti di marahi karena biar bagaimanapun Emi adalah adik perempuan nya, tapi demi penyamaran dia tidak berani ikut campur, kemudian Chisato sedikit mengamati peta yang ada tanda x nya di tanah tanah yang kosong di luar rumah. Setelah itu,
“Baiklah, boleh aku melihat gudang nya ?” Tanya Chisato.
“Silahkan.....Yayoi, Yayoi.....” Teriak Daigo.
Yayoi sang asisten rumah tangga datang karena mendengar teriakan Daigo, kemudian dia masuk ke dalam ruangan.
“Ya tuan ?” Tanya Yayoi.
“Tolong antar mereka ke gudang.....kamu namanya siapa tadi...Chisato ya, maaf ya aku tidak mengantar, aku mau bicara sama Emi.” Ujar Daigo.
“Jangan di marahi ya jii san, dia hanya pinjam, tidak mencuri.....” Balas Chisato.
“Aku tahu.....silahkan....” Ujar Daigo.
Kemudian Chisato, Kaito, Reina, Marin, Yuka, Airi, Nagisa dan Fumiko keluar mengikuti Yayoi untuk menuju ke gudang tempat di simpannya lukisan yang hilang.
“Oi Chi san....kamu sudah tahu siapa pelakunya ya ?” Tanya Kaito berbisik.
“Sudah menduga.....tapi, justru inti semua persoalan nya ada di gudang itu. Main event nya di mulai sekarang hehe.” Jawab Chisato sambil tersenyum.
__ADS_1