
Keesokan harinya, Hana menelpon Kaito dan minta semua data juga hasil penyelidikan Kaito atas keterlibatan pejabat dengan pemeras dan agensi di serahkan padanya untuk di tindak lanjuti. Chisato yang memegang buktinya memberikan nya pada Hana. Setelah itu,
“Sekarang kita mau kemana ? tetap di kota ini atau pulang....” Ujar Kaito.
“Di sini saja dulu, kita kan belum jalan jalan....” Jawab Marin.
“Hmm...aku mau coba pulang sekali lagi....” Ujar Airi.
“Kalau begitu baiklah....aku temani.” Tambah Kaito.
“Ya sudah, yang lain nya jalan jalan saja kita keliling tapi jangan lupa pakai liontin ya, supaya aman.” Balas Chisato.
“Ok setuju....” Teriak Emi, Suzu dan Vinne.
“Aku di sini saja......mau berendam.” Balas Nagisa.
“Aku temani paisen...” Tambah Yuka.
“Wah karena aku belum pernah melihat pantai, aku mau ke pantai, Reina chan, mau temani aku ?” Tanya Fumiko.
“Boleh senpai, aku ikut ke pantai yaaa....” Jawab Reina.
Akhirnya setelah memutuskan mau kemana, semua nya keluar dari kamar kecuali Nagisa dan Yuka yang mau beristirahat. Kaito dan Airi pergi sekali lagi ke rumah Airi. Ketika mereka sampai, di depan rumah sudah sepi dan di dalam sepertinya tidak ada orang. Airi melangkah masuk ke dalam,
“Permisi......” Ujarnya sambil membuka pintu menggunakan kunci nya.
“Sepertinya tidak ada orang Airi chan....”
“Iya...kalau begitu, aku mau ambil beberapa barang ku di atas deh....”
Keduanya langsung menuju lantai 2 untuk mengambil barang barang milik Airi. Begitu membuka pintu kamarnya, Airi kaget karena kamarnya sudah kosong. Airi menitikkan air mata dan merasa kesal, ternyata dia benar benar tidak di inginkan di keluarganya. Tiba tiba, pintu di bawah di buka,
“Ada siapa di dalam ?” Terdengar suara seorang wanita.
“KATS, gunakan vanish untuk Airi.......” Ujar Kaito.
[Affirmative]
KATS langsung menggunakan skill vanish untuk Airi dan Kaito menggunakan skill vanish untuk dirinya sendiri, kemudian mereka melihat langkah kaki menaiki tangga dan seorang wanita paruh baya muncul, tapi di belakang nya ada beberapa orang yang berpakaian jas hitam dan kacamata hitam mengikutinya naik. Mereka masuk ke dalam kamar Airi yang sudah kosong dan memeriksanya,
“Ada yang kesini....” Ujar salah satu pria itu.
“Mungkin Airi sempat pulang ke sini dan melihat kamarnya sudah kosong.” Balas wanita itu.
“Tidak apa apa, kehilangan satu anak tidak masalah bagi sekte kita.” Ujar seorang pria yang lebih tua dari yang lain.
“Ya, tapi aku tidak mau lagi mengasuh anak yang lain, sudah cukup...” Ujar wanita yang sebenarnya adalah mama nya Airi.
Airi yang mendengarnya karena masih ada di ruangan itu menutup mulutnya dengan tangan dan Kaito merangkul nya. Karena tidak tahu Airi ada di dalam, kemudian mereka membahas asal usul Airi yang sebenarnya berasal dari panti asuhan di kota itu dan di didik untuk menjadi “Wajah” yang tampil di permukaan bagi sekte di masa depan. Jadi dengan kata lain, Airi tidak mempunyai keluarga, dia juga sama seperti Chisato, Suzu dan Fumiko, yaitu anak yatim piatu. Airi sedikit lega mendengarnya walau sedih, sebab dia memang tidak merasa cocok dengan mama nya dan sering bertengkar, walau kadang dia menyesal dan ingin menyenangkan mama nya.
Setelah mengetahui kebenaran nya, Kaito dan Airi menyelinap pergi sambil menghilang dari rumah Airi. Di luar, Airi sempat mengatupkan tangan dan menunduk di depan rumah nya karena biar bagaimanapun, dia di besarkan di rumah itu, jadi dia mengucapkan terima kasih untuk yang terakhir kalinya. Kemudian Airi berbalik dan berlari menyusul Kaito yang sudah jalan terlebih dahulu. Setelah itu, Kaito dan Airi berniat menyusul Reina dan Fumiko yang sedang ada di pantai. Sementara itu di tengah kota,
“Chi onee chan, Marin onee chan....kita mau ngapain lagi ?” Tanya Emi.
“Iya nih, nonton movie sudah, belanja sudah, karaoke juga sudah....” Tambah Suzu.
“Makan dulu yu.....” Ajak Marin.
“Iya mau onee chan, aku sudah lapar....” Ujar Vinne.
“Hehehe Vinne chan lucu ya.....tapi kamu apa tidak panas pakai baju serba hitam gitu ?” Tanya Chisato.
“Dia goth loli onee chan....” Celetuk Suzu.
“Hahahaha kayak boneka....” Tambah Emi sambil tertawa.
“Enak saja, aku ga ada pilihan, mama selalu membelikan pakaian seperti ini untuk ku, jadi aku tidak tahu jenis pakaian lain....” Balas Vinne.
“Nah...kalau begitu kita makan dulu lalu belanja pakaian untuk kamu Vinne chan....iya tidak senpai ?” Tanya Marin.
“Iya benar, tapi makan dulu...perut sudah lapar....” Ajak Chisato.
“Ok....” Teriak Emi, Suzu dan Vinne.
[Chisato san, ada kasus pembunuhan yang akan terjadi di restoran keluarga yang berada di depan kita]
“Oh...begitu, baiklah, terima kasih KATS....”
“Duh...ga jadi makan dong nih....” Ujar Vinne.
“Sebentar saja hehehe....” Balas Chisato.
“Pokoknya cepat di selesaikan senpai...kita tunggu di luar aja.” Tambah Marin.
Kemudian, ke limanya langsung menuju ke restoran di depan mereka yang sudah ramai di kerubungi orang, baik pengunjung atau pejalan kaki, beberapa mobil polisi juga sudah datang, dua orang polisi sedang bebicara dengan pelayan dan menangkap seorang koki restoran yang sudah berada di dalam mobil. Chisato, Emi, Suzu dan Vinne mendekati polisi yang sedang menginterogasi pelayan. Mereka melewati nya dan menerobos masuk ke dalam,
__ADS_1
“Hei...tidak boleh masuk....” Teriak seorang polisi yang melihat.
“Memang ada apa ? kami mau makan....” Ujar Chisato sambil berbalik berjalan ke arah polisi yang memanggil nya.
“Seorang pria berumur 19 tahun mendadak meninggal setelah makan masakan yang di buat oleh koki itu. Setelah kami tanya kepada nya, dia memang punya masalah dengan pria yang meninggal itu dan para pelayan yang lain juga mengatakan hal yang sama. Menurut nya pria itu melecehkan pacar koki itu sampai pacarnya berpaling kepada pria itu. Pria yang terbunuh di dalam, sengaja datang untuk mengantar undangan pernikahan untuk nya.”
“Hmmm begitu ya....lalu pembunuh nya sudah pasti koki itu ?” Tanya Chisato.
“Benar, dia sudah mengakui nya.....tunggu, kamu siapa sebenarnya, orang awam jangan ikut campur, ini masalah polisi.” Ujar polisi itu.
“Ah...maaf, aku detektif....boleh aku berbicara sebentar dengan nya ?” Tanya Chisato.
“De...detektif ? kamu ? silahkan saja.....” Ujar polisi itu.
Chisato berjalan menuju mobil polisi dan masuk ke dalam, dia duduk di bagian depan mobil dan melihat ke kursi belakang dimana koki itu duduk.
“Siapa kamu ?” Tanya koki itu.
“Detektif......benar kamu yang sudah membunuh nya ?” Tanya Chisato.
“Be..benar....aku yang membunuh nya....mau apa kamu tanyakan lagi, aku sudah cerita kan sama polisi, aku meracuni makanannya....” Jawab koki itu.
“Hmmm....baiklah, sebentar ya.....”
Chisato keluar lagi dan dia minta ijin kepada polisi untuk masuk ke dalam, seorang polisi mengantar Chisato masuk ke dalam. Kondisi di dalam sudah kosong, di sebuah kursi, ada mayat seorang pria yang berpakaian bagus terduduk menghadap mejanya. Di meja ada sepiring makanan yang sepertinya baru di makan satu sendok dan sebuah amplop undangan yang belum di buka, kemudian di lantai juga ada sebuah sendok yang jatuh dan gelas yang tumpah, sepertinya sebelum meninggal pria itu sempat menjatuhkan gelas nya. Chisato memeriksa sisa makanan nya dan mencium nya, dia juga melihat amplop nya, kemudian dia melihat sendok yang jatuh dan mengambil nya menggunakan serbet. Setelah itu dia memeriksa gelas nya dan air yang ada di dalam nya,
“Hum...hum...jadi begitu.....” Ujar nya.
Chisato berdiri, kemudian dia menghampiri seorang pelayan yang berada di dekat nya,
“Siapa yang mengantarkan pesanan pria itu tadi ?” Tanya Chisato.
“Um...yang mengantar Shizuku chan.....pekerja part time kita.....” Ujar pelayan itu.
“Boleh saya bicara dengan nya ?” Tanya Chisato.
Pelayan itu masuk ke dalam ruangan untuk memanggil Shizuku di dalam ruang loker. Tak lama kemudian Shizuku keluar dari ruang loker dan menemui Chisato.
“Um...anda siapa ?” Tanya Shizuku.
“Aku detektif, boleh tanya sedikit, benar kamu yang mengantar pesanan pria itu ?” Tanya Chisato.
“Be..benar....aku yang mengantarkan nya dan dia sempat menggoda ku tadi...” Ujar Shizuku.
“Baiklah, bisa antar aku ke dapur Shizuku chan ?” Tanya Chisato.
Akhirnya Shizuku dan pelayan yang berdiri di sebelahnya, mengantar Chisato ke dapur, di dalam ada dua orang pemuda yang merupakan asisten koki yang di tangkap. Setelah di tunjukkan oleh dua pemuda di dalam di mana koki bernama Nagawa san itu memasak, Chisato memeriksanya, dia menemukan racun di dalam botol merica yang sudah di ganti isinya dan sepertinya sudah di periksa oleh polisi. Chisato menanyakan nya pada polisi yang mengikuti nya,
“Benar, kami sudah periksa dan Nagawa san mengakui dia yang menaruh botol merica itu di sana....” Ujar polisi.
“Hum hum....aku mengerti, kalau begitu boleh aku bertanya pada dua pemuda itu ?” Tanya Chisato.
“Silahkan saja...”
Chisato langsung bertanya pada dua pemuda di depan nya, nama kedua pemuda itu adalah Shota dan Goro.
“Shota san, setelah koki selesai masak, siapa yang menaruh sendok di piring nya ?” Tanya Chisato.
“Oh itu Goro, aku bertugas memotong sayur soalnya, Goro hari ini bertugas mencuci piring dan sendok kemudian menaruhnya di rak.”
“Iya benar, aku yang mengambil sendok nya sebelum memberikan nya pada Shizuku chan.” Tambah Goro.
Chisato menoleh melihat rak yang di tunjuk Goro, di dalam banyak sekali sendok, garpu, pisau dan piring piring untuk menghidangkan makanan.
“Baiklah, aku mau bertanya sedikit sama Goro san....bisa ikut aku keluar Goro san ?” Tanya Chisato.
“Ba..baik.....”
Chisato mengajak Goro keluar dari dapur sebentar, dia juga mengajak Shizuku dan meninggalkan pelayan di dapur. Chisato berbicara dengan keduanya di luar dan menanyakan sesuatu,
“Eh....iya benar, dia memang berteriak “Sendok nya di meja...” Aku langsung mengambil sendok itu dan memberikan nya pada Shizuku.”
“Um...benar, aku juga mendengar nya karena aku menunggu di depan dapur....”
“Lalu setelah itu dia keluar dari dapur tidak ?” Tanya Chisato.
“Tidak, dia terus di dapur bahkan setelah polisi datang bersama ku...” Jawab Goro.
“Baiklah.....yuk kembali lagi ke dapur.”
Chisato mengajak lagi keduanya masuk ke dalam dapur dan berbisik kepada polisi untuk berjaga di pintu untuk keluar ke samping gedung. Polisi langsung berdiri di depan pintu.
“Baiklah, pelakunya bukan Nagawa san sang koki, melainkan kamu Shota san.” Tunjuk Chisato langsung.
“Hah...maksud mu apa ? aku sudah memberikan keterangan kepada polisi apa yang aku lakukan seharian ini.” Ujar Shota.
__ADS_1
“Kamu melumuri racun di sendok sehingga ketika korban memakan makananan nya menggunakan sendok dia langsung keracunan dan residu racun di temukan di makanan nya, kemudian memfitnah koki dengan meletakkan botol merica yang sudah kamu tukar di dekat nya, benar kan ?” Tanya Chisato.
“Hah....mana bisa, lihat, sendok sebanyak itu, kalau aku melumurkan racun di salah satu sendok, semua pengunjung bisa kena racun kan, lagipula kapan aku sempat menukar botol itu.” Ujar Shota.
“Shota san, kamu menukarnya ketika koki keluar saat ada polisi datang memeriksa korban, Goro san mengatakan kalau kamu tidak keluar ketika polisi datang dan berteriak untuk memakai sendok yang sudah di siapkan kepada nya, benar kan Goro san ?” Tanya Chisato sambil menoleh kepada Goro.
“Be..benar.....maaf Shota kun....” Ujar Goro.
“Heh dengar ya, masakan di restoran ini di buat berdasarkan pesanan, jadi bagaimana bisa aku yang meracuni, karena bukan aku yang memasak makanan itu, selain itu, aku berteriak supaya Goro cepat mengambil sendok dan kebetulan ada sendok bersih di sebelahnya, apa salah nya. Kamu jangan sembarangan menuduh, kalau memang aku pelakunya, apa bukti nya ? kamu tidak bisa menyudutkan ku.”
“Pak polisi, tolong periksa kantung nya, pasti botol merica yang dia tukar ada di sana, karena dia tidak keluar dari sini kan......”
Shota langsung diam dan tidak bisa berkata apa apa, polisi memeriksa kantung di celemek Shota dan menemukan sebotol merica yang sudah di pakai setengah,
“Ke..kenapa kamu bisa tahu ?” Tanya Shota.
“Mudah saja, aku sudah memeriksa piring, amplop, sendok yang jatuh dan gelas di bawah, aku melihat sisa racun di sendok karena tersiram air dari gelas yang tumpah, tapi tidak di piring, berarti ada dua kemungkinan, racun di makanan atau di sendok nya, itulah sebabnya aku menanyakan pada Shizuku chan dan minta melihat dapur, setelah menemukan botol merica berisi cairan, aku belum menduga kalau itu kamu, tapi setelah aku mengajukan pertanyaan, siapa yang menaruh sendok nya, yang menjawab kamu, padahal kamu bilang tugas mu memotong sayuran dan kalau kondisi restoran sedang ramai, kamu tidak akan melihat siapa yang menaruh sendok karena selain Goro san, ada beberapa pelayan yang bolak balik ke dapur. Makanya habis itu aku langsung mengajak Goro keluar dan bertanya pada nya, apa kamu berteriak mengenai sendok nya dan apa kamu keluar selama polisi datang memeriksa, setelah mendapat jawaban dari Goro san dan Shizuku chan, aku yakin kamu pelaku nya.”
“Tapi kenapa kamu tahu aku memegang botol merica nya ?” Tanya Shota.
“Kamu baru menukar botol ketika polisi datang memeriksa korban dan mengeluarkan semua pengunjung, tentu saja tidak akan ada yang melihat, sebab semua perhatian tertuju pada kejadian di depan. Kemudian polisi memeriksa dapur, jadi kamu tidak punya kesempatan untuk keluar dari dapur dan menyingkirkan botol mericanya.”
“Baiklah, ikut ke kantor.....” Polisi langsung membekuk Shota di depan nya dan membawa keluar dari restoran.
“Nah kasus selesai.....” Chisato melangkah keluar.
Semuanya berterima kasih pada Chisato dan polisi langsung membawa Shota dan Nagawa ke kantornya, setelah mengantar polisi pergi, Chisato melihat Marin, Emi, Suzu dan Vinne sedang makan takoyaki yang mereka beli di toko sebelah.
“Loh, kalian sudah makan ?” Tanya Chisato.
“Maaf senpai, kita semua sudah lapar, jadi ya kita makan duluan...” Jawab Marin.
“Habis gimana, onee chan lama....” Tambah Vinne.
“Hehehe...tenang, kita belikan onee chan juga....nih...” Ujar Suzu memberikan kantung nya.
“Vinne chan sudah tidak tahan onee chan hehehe....” Tambah Emi.
“Uh...kamu juga Emi chan.....” Balas Vinne.
Akhirnya mereka meneruskan jalan jalan nya untuk membeli pakaian baru untuk Vinne kemudian kembali ke hotel. Belakangan di ketahui, kalau ternyata Nagawa sudah tahu Shota yang meracuni pria itu, alasan dia melindungi Shota, karena Nagawa tahu kalau Shota adalah adik dari pacarnya yang akan menikah dengan pria itu. Alasan Shota membunuh pria itu karena pria itu memeras kemudian memperkosa kakaknya berkali kali sampai akhirnya kakak nya menurut pada pria itu dan dia memfitnah Nagawa karena kesal melihat Nagawa yang merupakan pacar kakak nya diam saja dan tidak bertindak apa apa melihat kakak nya menderita.
*****
Malam nya, di hotel, setelah semua kembali ke hotel, Kaito sedang bersantai di dalam kamar, sementara kesepuluh gadis sedang mandi di pemandian air panas hotel.
[Dling]
[Misi baru di terima]
\===============================
Misi : Mereka tidak boleh pergi.
Desciption : Menyusup ke kapal pesiar milik sekte yang ada di pelabuhan, bebaskan semua orang yang akan mereka bawa ke luar negeri untuk di jual, ambil kembali barang barang peninggalan purbakala yang mereka seludupkan di kapal itu. Bunuh semua anggota sekte dan pemimpin mereka.
Target : Kapal pesiar milik sekte bernama the kings cruiser.
Location : Pelabuhan kota Kunikawa.
Reward : 1.500.000.000 G | 2.500.000 XP
\===============================
Objective :
Korban human trafficking : (0/12)
Barang antik : (0/5)
Musuh : (30/30)
\===============================
“Hmm...baiklah, mereka semua bisa lihat window misi ini kan KATS.” Ujar Kaito.
[Bisa, mereka datang]
“Druk...druk...druk...” Terdengar suara banyak orang berlari menuju pintu kamar Kaito. “Sreeeg.” Pintu kamar di buka, Reina, Marin, Yuka, Airi, Nagisa, Chisato, Fumiko, Emi, Suzu dan Vinne masuk ke kamar dan langsung menerjang Kaito dan mengelilingi nya.
“Ada misi....” Teriak ke sepuluhnya dengan ceria dan wajah berbinar.
“Aku tahu...aku tahu....kenapa kalian semua telanjang.....ga ada yang terpikir pakai handuk gitu ?” Tanya Kaito sambil memalingkan wajahnya.
“Ah....hehehe........” Ujar ke sepuluhnya.
__ADS_1