C.A.T.S (Catch And Thief System)

C.A.T.S (Catch And Thief System)
Chapter 21


__ADS_3

Setelah di gudang, semuanya berpencar mencari petunjuk dengan memakai sarung tangan supaya tidak mengganggu kondisi awal. Bi Yayoi menunggu di depan pintu dan berjaga di sana. Chisato melihat ada sebuah kotak tersusun di dalam gudang yang persis di depan bekas lukisan yang tergantung di bagian atas dan sebuah kain terbuka menutupi bagian atas kotak. Lalu Chisato juga melihat ada jejak sepatu yang sepertinya sengaja di hapus,


“Hum hum....jadi begitu, berarti benar dia pelakunya...sekarang tinggal dimana dia menaruh barang bukti nya.” Ujar Chisato.


Chisato keluar dari gudang dan memeriksa ruangan sekitar, ternyata dari gudang bisa menembus ke garasi tempat mobil di parkir, kamar bi Yayoi dan kamar Hideo san, tukang kebun. Di lorong juga ada jendela yang bisa terlihat dari kamar Daigo di antara gudang dan garasi. Chisato masuk ke dalam garasi dan memeriksa di dalam, kemudian dia keluar lagi dan menuju kamar sebelahnya yaitu kamar Hideo san, ketika dia mau membukanya, pintu kamarnya terkunci.


“Ano....Hideo kun sedang tidak ada, dia belum pulang, tadi di suruh tuan membeli pupuk untuk taman di belakang soalnya ketika dia laporan tanaman di belakang sedikit rusak.” Tanya bi Yayoi.


“Tidak apa apa kalau begitu, aku mau tanya, kalau malam Hideo san tidur di kamarnya ? mulai jam berapa dan bangun jam berapa ?” Tanya Chisato.


“Wah aku kurang paham ya, mungkin sekitar jam 7 malam dia sudah masuk kamar dan tidak keluar lagi. Dia biasanya keluar lagi jam 4 atau jam 5 pagi langsung mengerjakan taman di depan garasi sampai jam 9 pagi.” Jawab bi Yayoi.


“Baiklah, boleh kita periksa kamar bi Yayoi ?” Tanya Chisato.


“Silahkan....kamar ku tidak di kunci.”


Chisato dan Kaito masuk ke dalam kamar bi Yayoi, di dalam mereka melihat ada sebuah lemari dua pintu di sebelah dinding yang berbatasan dengan dinding kamar Hideo, kemudian ada sebuah ranjang dan meja rias di sebelahnya, di sebelah ranjang di sisi dekat pintu ada sebuah meja dan kursi yang biasa di pakai oleh bi Yayoi untuk membaca dan minum teh. Chisato keluar sebentar kemudian dia memeriksa dinding pembatas kamar. Setelah itu Chisato mendekati bi Yayoi dan mendekatkan wajah nya ke telinga bi Yayoi.


“Bi, tanya ya.....waktu itu....was..wes..wos....” Bisik Chisato.


“Loh kok tahu, iya benar, dia memang meminta ku mengerjakan nya malam itu.”


“Baiklah, yu kita kembali ke ruang kerja lagi...aku sudah yakin siapa pelakunya.” Ujar Chisato.


“Hah...cepat sekali....” Ujar Kaito.


“Yuk ah, nanti keburu sore.....” Balas Chisato.


Kemudian semuanya kembali ke ruang kerja bersama dengan bi Yayoi. Chisato langsung masuk ke dalam dan berdiri di depan Daigo.


“Aku sudah tahu siapa pelaku nya dan dimana lukisan itu di simpan.” Ujar Chisato yakin.


“Huh...jangan cuma bicara, buktikan....” Ujar Toshiki ketus.


“Pelaku nya adalah Mai san.....” Chisato langsung menunjuk Mai.


Semua yang ada di dalam ruangan terkejut melihat Chisato yang menunjuk Mai, karena semua nya menyangka Toshiki yang mencurinya, sebab dia menghalangi polisi datang dan selalu menentang, di tambah sepertinya dia tidak perduli lukisan itu hilang atau tidak ketika sedang berdebat tadi.


“Benarkah itu Mai ?” Tanya Daigo sambil menoleh melihat Mai.


“Apanya ? mana bisa aku mengambil lukisan yang di gantung hampir ke langit langit itu.” Jawab Mai protes.


“Bisa saja, dengan menumpuk kotak dan melapisi nya dengan kain supaya tidak tergelincir ketika berjinjit. Tapi sayang Mai san meninggalkan jejak sepatu yang berusaha dia hapus, karena malam dan tidak kelihatan sebab gelap, dia jadi kurang teliti menghapusnya, sisa nya masih ada, jejak sepatu lari wanita yang sudah tinggal separuh. Saat itu kamu memakai pakaian sport dan sepatu lari supaya mudah membersihkan debu, benar ?” Tanya Chisato.


“Benarkah itu Mai ? Aku ingat kamu memang datang malam itu ketika aku marah marah karena peta menghilang.” Tambah Daigo.


“Tidak mungkin papa, lagipula papa kan lihat, aku datang pakai blazer...tidak ada yang lihat kan aku pakai pakaian olah raga dan sepatu lari.” Ujar Mai.


“Benar, memang tidak ada yang lihat, tapi Mai san menyuruh bi Yayoi untuk mencuci pakaian olah raga dan sepatu yang kotor malam itu juga, benar kan bi Yayoi.” Chisato menoleh melihat Yayoi.


“I..iya benar....harus malam itu juga katanya.” Balas Yayoi.


“Nah sekarang aku katakan kenapa dia minta bi Yayoi mengerjakannya malam itu juga, ketika Mai san keluar membawa lukisan untuk menuju garasi, tanpa sengaja dia melihat Daigo jiisan belum tidur dan sedang melihat ke arahnya, jadi dia kembali lagi ke dalam gudang, kemudian dia meminta bi Yayoi untuk mencuci pakaian di tambah sepatunya, supaya bi Yayoi pergi agak lama dari kamarnya, sebab kalau mencuci sepatu pasti membutuhkan waktu. Lalu dengan cepat, dia memasukkan lukisan nya ke kamar bi Yayoi dan menaruhnya di belakang lemari untuk di ambil pagi hari ketika bi Yayoi pergi ke pasar, tapi dia tidak bisa mengambil nya karena Hideo san mengerjakan kebun di depan garasi dari jam 5 sampai jam 9 pagi dan tidak mungkin dia menunggu sampai jam 9 pagi, buktinya silahkan periksa di balik lemarinya, pasti ada celah di dalam dinding yang sesuai dengan besar lemari nya dan lukisan nya pasti masih di sana.”


“Toshiki, cepat kesana dan periksa, bi Yayoi tolong dampingi....” Teriak Daigo.


“Aku bantu....” Ujar Reina dan Marin bersamaan.


Toshiki, Yayoi, Reina dan Marin keluar dari ruang kerja kemudian menuju kamar bi Yayoi untuk memeriksa di belakang lemari. Wajah Mai mulai berubah dan Mei menjauh sedikit dari mamanya. Tak lama kemudian, Toshiki, Yayoi, Reina dan Marin kembali memebawa lukisan kuno besar bergambar rumah yang sangat kuno. Daigo langsung memaksakan berdiri dari kursi rodanya dan menoleh melihat Mai disebelah nya. Tapi karena tidak kuat, dia jatuh terduduk lagi di kursi rodanya dengan wajah geram dan nafas terengah engah.


“Huf....huf.....keterlaluan kamu Mai....tahu tidak artinya dua benda ini bagi keluarga kita....” Teriak Daigo.


Mai menunduk dan tidak berkata apa apa, Toshiki hanya menggelengkan kepalanya, kemudian dia menoleh melihat Chisato.


“Kamu tahu pelaku nya Mai sejak kapan ?” Tanya Toshiki.


“Sejak dia membela, menegur dan banyak bertanya kepada Emi chan tadi....aku tidak pernah bilang mencabut paku, aku bilang melepasnya, mencabut itu istilah bagi orang yang bisa meraih paku yaitu kita semua dan Mai san sendiri. Mai san sudah tahu pencuri peta itu adalah Emi chan karena mungkin dia kebetulan melihat Emi chan yang melompat lompat mencoba mencabut paku, makanya dia pura pura membela nya tadi, karena pencurian peta itu adalah inspirasinya untuk mencuri lukisan, sayang nya dia sedikit salah bicara hehe.”


“Tapi kenapa dia melakukan itu ?” Tanya Toshiki.


“Mencari harta karun, benar tidak Mai san ? alasannya sebaiknya tanya sendiri padanya.” Jawab Chitose.


“Sebutkan saja....” Teriak Daigo.

__ADS_1


“Sebelum nya maaf Mai san, alasannya saat ini keluarga Mai san dan Emi chan sedang membutuhkan uang untuk naik banding di pengadilan Junichi san nanti dan meringankan hukuman nya, maaf kalau benar.” Ujar Chisato yang sebenarnya enggan mengutarakannya.


Mai langsung berlutut di hadapan Daigo, dia berteriak teriak minta maaf sambil memeluk lutut Daigo. Emi juga langsung berlutut mendampingi Mai di hadapan Daigo.


“Huh sudah ku bilang bakar saja lukisan dan peta itu, hanya membuat masalah dan pikiran menjadi tamak.”


“Wah kalau di bakar hartanya ikut terbakar dong....” Ujar Chisato.


“Apalagi maksud mu....” Balas Toshiki geram.


“Kei chan, boleh minta tolong lepaskan bingkai lukisan nya ? tapi pelan pelan dan hati hati ya, sudah tua soalnya.”


Kaito langsung mendekati lukisan dan dengan hati hati dia melepaskan bingkai lukisan nya, di dalam setiap lis bingkai ternyata ada lubang yang berisi tiga gulungan kertas dan sebuah kertas kecil di lis bingkai paling bawah. Ketika di buka, gulungan itu adalah hak kepemilikan tanah ketika masih jaman leluhur. Kaito memberikan tiga gulungan kertas itu kepada Toshiki.


“Apa ini ?” Tanya Toshiki sambil membuka dan membaca salah satu gulungan.


“Itu adalah sertifikat tiga tanah yang ada di belakang, kalau di bawa ke badan pertanahan bisa di urus menjadi sertifikat jaman sekarang, itulah harta yang di tinggalkan leluhur keluarga ini.” Jawab Chisato.


“Bagaimana kamu bisa tahu, sudah bertahun tahun lukisan dan peta itu ada di sini tanpa ada yang bisa membongkarnya.” Balas Toshiki.


“Sudah jelas kan, peta itu adalah denah rumah, tapi di dalam denah rumah kenapa ada tanah kosong sebanyak tiga petak di belakang rumah dan di tandai dengan tanda X, padahal yang namanya denah itu tidak perlu memasukkan tanah di sekitarnya karena tanah sekitarnya tidak ikut di bangun sesuai dengan denah. Dan kenapa lukisan, dari gambarnya saja sudah menunjukkan rumah ini waktu jaman dulu kan dan tanahnya berarti di lis bingkai yang memutari lukisan nya.” Balas Chisato.


Daigo langsung menjelaskan kalau tanah di belakang rumah nya selalu kosong dan tidak bisa di bangun karena terhalang rumah nya, apalagi dijual, pemerintah saja tidak mau mengambil nya dan akhirnya di anggap menjadi tanah tak bertuan. Kemudian Chisato memberikan sebuah surat kecil yang terletak di lis bingkai bagian bawah. Isi surat itu,


“Kami meninggalkan semua tanah ini untuk anak cucu kami yang membutuhkan nya, berkembanglah di rumah ini selama beberapa generasi.”


Karena analisa Chisato benar, Kaito, Reina, Marin, Yuka, Airi, Nagisa dan Fumiko bertepuk tangan kecil dan Chisato langsung menunduk menyambutnya seperti pesulap yang sudah selesai melakukan trik nya. Setelah itu, Chisato membujuk pada Daigo supaya tidak usah melibatkan polisi karena pelaku nya adalah Mai san dan Emi chan. Daigo menyetujui nya karena ini semua adalah kesalah pahaman, di tambah dia akan membantu keluarga Mai semampunya, Mai dan Emi langsung berterima kasih kepada Chisato. Kasus pun selesai, Kaito, Chisato, Reina, Marin, Yuka, Airi, Nagisa dan Fumiko berjalan keluar dari rumah menuju pagar di antar oleh Yayoi dan Emi. Begitu pagar di buka, di depan nya sudah ada mobil sedan denga sirine di atasnya, Hana berdiri sambil bersender ke pintu dan merokok,


“Gimana beres ? siapa pelakunya ?” Tanya Hana.


“Beres sih Hana san, tapi pelakunya tidak ada karena hanya salah taruh hehehe.” Jawab Chisato.


“Salah taruh ? benarkah ?” Tanya Hana sambil melirik ke Emi yang sedikit ketakutan.


“Heheh benar Hana san, maklum saja, orang tua kan mudah panik...dan biasanya panik nya jelek telepon polisi.” Jawab Chisato.


“Haaah benar benar buang waktu, baiklah, tolong laporkan saja ya, aku jalan dulu, harus kembali ke pusat.” Hana masuk mobil nya kemudian pamit.


Setelah mobil Hana berjalan pergi, Chisato langsung menoleh kepada Emi sambil mengedipkan matanya.


“Tidak mungkin kasus seperti ini kamu di tangkap, baiklah kita permisi dulu ya...” Ujar Chisato.


“Um...onee chan...sekolah onee chan dimana ?” Tanya Emi.


“Kita semua di Fukutoshi private high school.” Jawab Chisato.


“Wah sama dengan onii chan ya.....” Gumam Emi.


“Tentu saja kita semua di sini calon is....umph.....”


Belum selesai Chisato bicara, mulutnya sudah di tutup oleh Reina, Marin, Yuka, Airi, Nagisa dan Fumiko.


“Tch...detektif dekil ini hampir saja....” Gumam Nagisa.


“Oi detektif, jaga mulut....” Tambah Fumiko.


Akhirnya semuanya menarik dan menyeret Chisato pergi dari tempatnya. Kaito menunduk pamit kepada Emi dan berbalik berlari menyusul yang lain dalam wujud perempuan nya.


“Yang paling belakang benar benar mirip dengan onii chan....hmm.....ah, padahal aku mau jadi asisten nya onee chan itu, dia hebat....ya sudah deh, Fukutoshi kan, tahun depan juga aku masuk ke sana hehe....” Ujar Emi di hatinya sambil tersenyum.


*****


Sementara itu, di jalan menuju stasiun, semuanya memarahi Chitose yang hampir keceplosan, kecuali Kaito,


[Kaito sama, kita di ikuti]


“Orang dari rumah tadi ? adik ku ?” Tanya Kaito.


[Bukan, sepertinya dia mengincar Airi chan]


“Stalker ?” Tanya Kaito.


[Kemungkinan besar iya, dari awal kita datang dia sudah mengikuti kita dan ketika kita di dalam dia menunggu]

__ADS_1


“Hmm....baiklah, aku atasi.....” Ujar Kaito di kepalanya.


“Guys, sorry, jangan bergerak dulu ya, diam di sini....” Ujar Kaito.


“Kenapa Kaito kun ?” Tanya Marin.


“Kita di ikuti, sepertinya penggemar Airi san...tunggu di sini sebentar.” Ujar Kaito.


Kaito langsung menghilang dan berjalan ke balik gedung di belakang nya, dia melihat seorang pria memakai mantel, membawa kamera dan kacamata hitam. Ketika melihat para gadis berhenti, dia mulai mengarahkan kameranya, tapi langsung di ambil Kaito yang sudah ada di sebelahnya. Karena kaget kameranya melayang, dia langsung keluar menuju ke para gadis sedang menunggu. Reina, Marin, Yuka, Airi, Nagisa, Fumiko dan Chitose kaget melihat pria bermatel hitam dan berkacamata hitam berlari ke arah mereka. Tapi sebelum sampai, dia sudah tersungkur karena kakinya di sengkat oleh Kaito yang menyusul nya dengan gerakan secepat kilat. Pria itu jatuh terlungkup di depan para gadis yang mundur sedikit karena takut pria itu mengambil kesempatan, tapi Airi sepertinya mengenal pria itu, dia langsung jongkok dan membuka kacamatanya,


“Higuchi san ?” Tanya Airi.


“Hehe iya ini aku Aririn tan.....” Ujar pria berwajah bulat itu.


“Kenapa mengikuti ku ?” Tanya Airi.


“Aku penasaran, aku selalu menguntit mu, tapi aku tidak pernah melihat kamu berjalan bersama pria yang di gosipkan....kebetulan aku melihat mu tadi pagi turun dari stasiun, ya ku tunggu saja di sini.” Jawab Higuchi.


“Oh itu bukan gosip kok.....lihat....” Airi memperlihatkan cincinnya.


Pria berwajah bulat itu terlihat syok dan langsung menangis, kemudian dia berdiri dan mengancam Airi akan menyebarkan nya di media sosial.


“Oh silahkan saja, aku mau pensiun juga jadi idol heheh.....”


“Tidak boleh, Aririn tan tidak boleh pensiun....” Pria itu menerjang maju ke arah Airi yang menutup wajah nya.


Kaito langsung muncul dan merubah wujudnya ke wujud otaku nya, tapi sebelum dia berhasil menghentikan nya,


“Hiyaaaaaa......” Seorang wanita turun dari atas langsung menjatuhkan tumit nya di kepala pria itu sampai jatuh ke tanah.


etika mendarat, wanita itu langsung berdiri dan mengibaskan rambutnya, dia menoleh dan ternyata wanita itu adalah Emi.


“Wow.....” Gumam Reina, Marin, Yuka, Airi, Nagisa, Fumiko dan Chisato.


Kemudian Emi langsung mendekati Chisato yang berdiri di sebelah Kaito. Dia langsung menunduk di depan Chisato.


“Onee chan....tolong ijinkan aku jadi asisten mu, aku bisa jaga diri....” Ujar nya.


Chisato langsung menoleh melihat Kaito yang masih berwujud perempuan, Kaito hanya mengangkat pundak dan tangan nya.


“Aku bisa buktikan kalau aku berguna membuat onee chan.......hoi onii chan, sudah jangan pura pura lagi....tunjukkan wujud asli mu...” Ujar Emi.


“Hah...maksud kamu apa ?” Tanya Kaito.


“Jangan pura pura, kamu kan yang kebelakang pria ini dan mengambil kamera nya, sekilas aku melihat mu berubah tadi, jadi wujud mu.” Jawab Emi.


Semuanya menjadi kaget karena memang sebenarnya Kaito adalah onii chan dari Emi dan semuanya sudah tahu. Chisato langsung merangkul Emi dan bersama yang lain membawa Emi masuk ke dalam restoran keluarga yang kebetulan berada di dekat itu. Kaito yang masih berwujud perempuan, mengikuti dari belakang.


“Ulah mu CATS ?” Tanya Kaito.


[.............]


“Jawab CATS.....” Tambah Kaito.


[.............]


“Oi CATS......”


[Sleep mode on, selamat tidur Kaito sama]


“Jangan kabur CATSSSSSSSS......”


\=============================


Mission CATS :


- Gadis populer seangkatan : (4/4) Cleared


- Senpai populer : (3/3) Cleared


- Kouhai (junior) populer next year : (0/2)


- Imouto (adik angkat) : (1/1) Cleared

__ADS_1


- Unknown


\=============================


__ADS_2